Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Thailand mencatatkan defisit neraca transaksi berjalan tertinggi sepanjang masa, di posisi US$ 7,6 miliar pada bulan April, dengan pertumbuhan ekonomi melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Bank of Thailand (BoT) atawa bank sentral Thailand mengungkapkan, hal itu terjadi karena dampak perang di Timur Tengah dan diperkirakan akan semakin melemah.
Defisit yang mencapai rekor tertinggi belum menjadi kekhawatiran dan seharusnya bersifat sementara, kata Asisten Gubernur BoT Chayawadee Chai-anant pada Jumat (29/5/2026). Dia menambahkan bahwa perang Iran diperkirakan akan berakhir pada pertengahan tahun.
"Baht akan tetap sangat fluktuatif, mencerminkan ketidakpastian," lanjut Chayawadee dalam sebuah pengarahan.
Pada bulan April, kedatangan dan pengeluaran wisatawan melemah dan konsumsi swasta menurun akibat penurunan pengeluaran untuk barang konsumsi dan bahan bakar, dengan harga energi yang lebih tinggi meningkatkan biaya hidup, kata bank sentral dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Seiring Pasar Menunggu Kepastian Damai AS-Iran
Inflasi utama berubah positif, didorong oleh harga bensin dan solar domestik yang lebih tinggi. Inflasi inti naik karena biaya energi diteruskan ke harga makanan dan transportasi umum, katanya.
Ekspor barang dagangan, tidak termasuk emas, meningkat, didukung oleh pertumbuhan yang kuat dalam produk teknologi dan ekspor otomotif.
"Produksi manufaktur secara umum tetap stabil dan gangguan pasokan terkait konflik tetap terbatas," katanya.
Isu-isu utama yang perlu dipantau meliputi perkembangan konflik di Timur Tengah, potensi perubahan kebijakan perdagangan AS, kondisi El Nino, dan langkah-langkah stimulus ekonomi pemerintah, kata bank sentral.
Pertumbuhan PDB Thailand pada kuartal pertama melampaui perkiraan, tetapi lembaga perencanaan negara di pekan lalu mempertahankan prospeknya untuk tahun 2026 sebesar 1,5% hingga 2,5%.
Baca Juga: China Siaga, Dampak El Nino Akan Capai Puncak di Musin Gugur dan Musim Dingin 2026
Awal bulan ini, Gubernur Bank Sentral Thailand Vitai Ratanakorn memperkirakan, pertumbuhan ekonomi sebesar 2,1% di tahun ini, naik dari 1,5% yang diproyeksikan pada pertemuan kebijakan terakhir pada bulan April, ketika suku bunga acuan dipertahankan tetap di 1,00%.
Bulan ini, kabinet menyetujui pinjaman baru sebesar 200 miliar baht (US$ 6,15 miliar) untuk membiayai skema subsidi konsumen, bagian dari dekrit pinjaman yang lebih luas sebesar 400 miliar baht untuk 'mengurangi dampak perang'.













