kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Ekspansi Drahi terganjal isu monopoli dan pajak


Kamis, 08 Mei 2014 / 21:43 WIB
ILUSTRASI. 4 Cara Mengembalikan Chat WhatsApp yang Terhapus, Pengguna Wajib Tahu!. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


Reporter: Febrina Ratna Iskana, Dessy Rosalina | Editor: Dessy Rosalina

Menginjak usia separuh abad, Patrick Drahi tetap bertenaga membesarkan kerajaan bisnisnya. Milarder dengan kekayaan sekitar US$ 9,3 miliar ini masih getol akuisisi untuk membesarkan Altice, holding telekomunikasi terbesar di Prancis.

Mengawali tahun ini, Drahi berencana mencaplok SFR, operator telepon seluler kedua terbesar di Prancis milik Vivendi SA. Kali ini, niatan akuisisi Drahi harus berhadapan dengan Martin Bouygues, miliarder Prancis.

Proses akusisi SFR adalah proses berbelit dan berliku. Selain menghadapi miliarder Bouygues, rencana Drahi ditentang pemerintah Prancis. Ada dua isu krusial yang menjadi sorotan Pemerintah Prancis. Yakni monopoli terhadap industri telekomunikasi Prancis dan kasus pajak.

Menteri Perindustrian Prancis, Arnaud Montebourg, menilai, akusisi SFR berpotensi memonopoli industri telekomunikasi. Akuisisi juga bisa menyebabkan ribuan orang kehilangan pekerjaan (PHK). Kekhawatiran ini karena Drahi juga tercatat sebagai pemilik 40% saham Numericable Group lewat Altice.

Numericable adalah perusahaan telekomunikasi yang menawarkan layanan kabel optik sekaligus telepon seluler. Masalah timbul ketika Drahi berniat menggabungkan (merger) antara Numericable dan SFR.

Demi meyakinkan Pemerintah Prancis, Drahi meneken perjanjian yang menolak monopoli dan PHK terhadap ribuan karyawan SFR. Saat ini, SFR mempekerjakan lebih dari 9.000 pegawai.Kendati begitu, Pemerintah Prrancis menyatakan akan tetap mengawasi kebijakan Drahi pasca akuisisi. Khususnya kebijakan tenaga kerja, investasi, tarif dan layanan produk telekomunikasi.

Masalah pajak juga menjadi keberatan Pemerintah Prancis. Montebourg menilai, status pajak Drahi akan diperiksa sebelumnya pemerintah menyetujui aksi akuisisi SFR. “Altice tercatat di Amsterdam, aset lain tersebar di daerah tax haven Inggris dan saat ini Drahi tinggal di Swiss. Kami akan memeriksa pajak Drahi," ujar Montebourg, mengutip Bloomberg.

Isu pajak Drahi dicurigai lantaran memegang status warga negara di dua negara sekaligus, yakni Prancis dan Israel. Kendati memulai bisnis di Prancis, Drahi yang berdarah Yahudi telah lama ekspansi di industri telekomunikasi Israel. 

Demi memuluskan akuisisi, Drahi dikabarkan rajin melobi jajaran politikus dan petinggi Prancis untuk meredam isu monopoli dan pajak.Dus, per 7 April kemarin, Drahi akhirnya meneken kontrak pembelian SFR seharga € 17 miliar atau US$ 23 miliar, akuisisi terbesar kedua di Eropa sepanjang tahun ini. Mengutip Bloomberg, skema akuisisi menyebutkan, Altice akan membayar secara tunai € 13,5 miliar kepada Vivendi. Nantinya, Vivendi juga berhak atas 20% saham perusahaan hasil merger antara SFR dan Numericable. 

Selanjutnya, Vivendi juga akan menerima dana segar tambahan sebesar € 750 juta sebagai pembayaran tahap kedua. Drahi bilang, akuisisi SFR sudah terpikir olehnya sejak tujuh tahun lalu.
Alasannya, Drahi bercita-cita menduetkan teknologi kabel dan seluler yang saat ini menjadi tren di berbagai industri telekomunikasi dunia. “Dengan memiliki SFR, kita akan menciptakan tren yang sama terjadi Prancis,” ujar dia.

Pasca akuisisi, Drahi mengokohkan namanya sebagai penguasa telekomunikasi Prancis. Lewat Altice yang memiliki saham di sejumlah perusahaan telekomunikasi, Drahi menguasai 99% jaringan kabel telekomunikasi seluruh Prancis. Altice juga memiliki saham di perusahaan telekomunikasi Israel, Belgia, Portugal, dan Republik Dominika. 




TERBARU

[X]
×