kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Ekspor China turun, yuan kian tertekan


Jumat, 14 Oktober 2016 / 06:05 WIB

Ekspor China turun, yuan kian tertekan

BEIJING. Tekanan ekonomi China masih berat. Lihat saja data ekspor China di bulan September 2016 yang turun paling dalam sejak Februari 2016 karena permintaan global yang melambat. Data ini kian menekan mata uang yuan ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

Data administrasi kepabeanan China seperti dikutip Bloomberg mencatat, ekspor China di bulan lalu menurun 10% dari tahun sebelumnya. Sementara impor turun 1,9%. Dua data tersebut lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Bloomberg.

Ekonom memproyeksikan ekspor China akan turun 3,3% dan impor naik 0,6%. Penurunan ekspor yang dalam membuat surplus dagang China menyusut. Surplus perdagangan China menurun menjadi US$ 42 miliar.

Survei Bloomberg juga memperkirakan, pada kuartal III pertumbuhan ekonomi China kemungkinan di level 6,7%.

Sue Trinh, Kepala Strategi FX Asia RBC Capital Markets di Hong Kong mengatakan, data ini sejatinya konsisten dengan penurunan perdagangan global.

"China kehabisan pilihan sehingga membiarkan remimbi ke level rendah. Cara ini menjadi cara termurah yang bisa mereka lakukan agar perdagangan meningkat," ujar dia.

Yuan terus melemah setelah resmi masuk dalam special drawing right (SDR). Ekonom HSBC Holdings Plc di Hong Kong Julia Wang mengatakan prospek ekspor ke depan masih perlu diwaspadai sebab pertumbuhan global dan China masih belum menentu.

"Kebijakan akan terus fokus pada pengelolaan permintaan domestik dan bantuan fiskal yang ekspansif di sisa tahun ini," jelas dia.

Ekonom ANZ Banking Group Ltd David Qu menebak, ekspor bisa kembali positif pada bulan ini. Ekspor China ke Uni Eropa menurun 9,8%, begitu juga pengiriman ke Inggris yang jatuh 10,8%. Sementara penjualan ke AS turun 8,1%.

"Jatuhnya tingkat ekspor ke Uni Eropa dan Inggris menunjukkan efek dari Brexit," kata dia. Yuan telah turun 3,4% terhadap dollar AS pada tahun ini. Penurunan ini terbesar diantara mata uang Asia lain.


Reporter: Avanty Nurdiana
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Video Pilihan


Close [X]
×