kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Ekspor Gas Indonesia Dipangkas, Singapura Siapkan Pasokan LNG dan Energi Nuklir


Senin, 26 Oktober 2026 / 04:00 WIB
Ekspor Gas Indonesia Dipangkas, Singapura Siapkan Pasokan LNG dan Energi Nuklir
ILUSTRASI. Lawrence Wong meminta komitmen kontrak gas dipenuhi setelah Indonesia memangkas ekspor gas ke Singapura untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Singapura. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong meminta seluruh pihak memenuhi komitmen dalam kontrak komersial pasokan gas. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Indonesia mulai memangkas ekspor gas alam ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026) untuk memprioritaskan kebutuhan energi dalam negeri.

Mengutip Channel News Asia (CNA), Minggu (25/10/2026), Wong menegaskan bahwa importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.

“Pasokan gas tersebut dilindungi oleh kontrak komersial. Kami mengharapkan semua pihak memenuhi komitmennya,” ujar Wong saat menghadiri konvensi Partai Aksi Rakyat (People's Action Party/PAP) yang dipimpinnya.

Wong menambahkan, importir gas Singapura akan menempuh langkah yang diperlukan untuk menjaga kepentingan mereka berdasarkan perjanjian tersebut.

Baca Juga: IPhone Lipat Apple Mulai Dijual, Harga US$2.000 dan Stok Terbatas

Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura

Pengurangan ekspor gas Indonesia dilakukan untuk mengalihkan lebih banyak pasokan guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik domestik.

Regulator hulu minyak dan gas bumi Indonesia, SKK Migas, menyatakan bahwa pengurangan pasokan tersebut mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD).

Rinciannya, sebanyak 15 MMSCFD berasal dari Natuna dan 16 MMSCFD dari Sumatra. Gas dari kedua wilayah tersebut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.

Sementara itu, Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) menyebut pengurangan pasokan tersebut setara dengan 17 miliar British thermal units per hari (BBTUD) selama 18 hari.

Jumlah tersebut kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian Singapura yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD.

Meski demikian, pemangkasan pasokan ini menjadi perhatian Singapura karena gas alam merupakan sumber utama pembangkit listrik di negara tersebut.

Tonton: Pasar Baru Bakal Hidup 24 Jam! Pramono Anung Siapkan Wajah Baru Jakarta

Singapura Andalkan Impor LNG

Wong mengatakan pemerintah Singapura telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi, salah satunya melalui investasi pada terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Infrastruktur tersebut memungkinkan Singapura mengimpor gas dari berbagai negara tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan pipa. Dengan demikian, Singapura memiliki lebih banyak alternatif untuk menjaga ketersediaan energi ketika terjadi gangguan pasokan.

EMA juga menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi pengurangan pasokan gas. Selain itu, perusahaan pengelola impor gas Singapura, Singapore GasCo, siap meningkatkan impor LNG jika diperlukan.

Sekitar 95% listrik Singapura dihasilkan dari gas alam. Karena itu, diversifikasi sumber pasokan menjadi bagian penting dari upaya pemerintah menjaga ketahanan energi.

Baca Juga: Aturan Modal Makin Ketat, 12.000 Pekerja UBS di Swiss Terancam PHK

Singapura Kaji Penggunaan Energi Nuklir

Di tengah upaya menjaga pasokan gas, Wong menilai Singapura perlu mempertimbangkan sumber energi yang lebih bersih dan mampu menyediakan listrik secara andal sepanjang waktu.

Salah satu opsi yang tengah dikaji pemerintah adalah pemanfaatan energi nuklir.

Wong mengakui bahwa penggunaan tenaga nuklir menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait keselamatan di negara dengan wilayah kecil dan kepadatan penduduk tinggi seperti Singapura.

“Kami memahami adanya kekhawatiran mengenai keselamatan tenaga nuklir di negara kecil dan padat penduduk seperti Singapura. Kami menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sangat serius. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Meski demikian, Wong menilai pemerintah tidak seharusnya langsung mengesampingkan suatu sumber energi hanya karena penerapannya sulit atau kontroversial. Menurut dia, setiap pilihan perlu dikaji berdasarkan risiko dan konsekuensinya, disertai pelibatan masyarakat sebelum keputusan diambil.

Sebagai bagian dari persiapan tersebut, Singapura dijadwalkan menjalani penilaian oleh Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) mulai 2027.

Penilaian melalui program Integrated Nuclear Infrastructure Review (INIR) itu bertujuan mengukur kesiapan Singapura dalam mengambil keputusan mengenai kemungkinan pengembangan program tenaga nuklir.

Wong juga menyoroti meningkatnya kebutuhan energi pada masa mendatang, seiring perkembangan ekonomi digital dan kebutuhan daya komputasi yang semakin besar.

Menurut dia, pemerintah perlu mengantisipasi kebutuhan tersebut sejak dini agar pasokan energi tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan di Yaman Usai Operasi Kanker Paru-Paru

Singapura Perkuat Kerja Sama Internasional

Selain ketahanan energi, Wong menyoroti pentingnya memperkuat hubungan internasional di tengah kondisi global yang semakin bergejolak.

Ia mengatakan reputasi Singapura sebagai mitra yang dapat diandalkan dan tujuan investasi yang menarik menjadi modal penting untuk menghadapi ketidakpastian global.

Pemerintah Singapura, lanjut Wong, terus memperluas hubungan dengan berbagai negara melalui kunjungan pejabat dan penguatan kerja sama lintas kawasan.

Dalam sepekan terakhir, Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam melakukan kunjungan kenegaraan ke Swedia. Sementara itu, Wong baru kembali dari kunjungan ke Qatar dan Uni Emirat Arab.

Wong menilai hubungan tersebut mencerminkan kepercayaan yang telah dibangun Singapura selama bertahun-tahun.

Ia juga menegaskan bahwa sejumlah persoalan lintas negara, termasuk penipuan daring dan kabut asap lintas batas, tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan domestik.

Singapura saat ini menghadapi episode kabut asap terburuk sejak 2015. Pemerintahnya telah mengirimkan pemberitahuan kepada 10 perusahaan berbasis di Singapura dan 10 perusahaan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas atau Transboundary Haze Pollution Act.

Wong mengatakan Singapura membutuhkan kerja sama negara lain untuk menangani persoalan tersebut. Namun, pemerintah tetap akan memperkuat langkah perlindungan bagi masyarakat dan bekerja sama dengan mitra internasional untuk mengatasi sumber permasalahan.







Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/10/25/193459226/respons-pm-singapura-usai-indonesia-pangkas-ekspor-gas-alam?page=all#page2. 


 

IHSG Naik 4,9% dalam Sepekan: Apa Artinya untuk Investor di Pekan Depan?




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×