Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar euro kembali tertekan dan bergerak mendekati level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan ketidakpastian politik di zona euro menjadi beban bagi mata uang tunggal Eropa tersebut.
Melansir Reuters pada perdagangan awal Asia, Selasa (6/10/2026), euro melemah tipis ke US$ 1,1220. Sehari sebelumnya, euro sempat menyentuh level terendah sejak Mei 2025 dan mencatat penurunan sekitar 1,2% sepanjang pekan lalu.
Baca Juga: Harga Diesel AS Melonjak, Trump Perluas Akses Solar Bebas Pajak
Terhadap poundsterling, euro juga berada di posisi 84,83 pence setelah melemah lebih dari 1% terhadap mata uang Inggris tersebut pada pekan lalu.
Tekanan terhadap euro terutama berasal dari kekhawatiran terhadap tingginya utang serta kebuntuan politik di Prancis.
Rencana pemilu cepat di Spanyol juga menambah ketidakpastian terhadap prospek kawasan ekonomi tersebut.
Pelemahan euro menjadi perhatian bagi pembuat kebijakan Eropa karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya biaya pinjaman pemerintah Prancis.
Kenaikan imbal hasil obligasi Prancis mulai memberikan dampak yang lebih luas terhadap pasar obligasi di zona euro.
Joseph Capurso, strategist Commonwealth Bank of Australia memperkirakan tekanan terhadap euro masih dapat berlanjut. Ia memperkirakan euro berpotensi turun di bawah US$ 1,10.
Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Selasa (6/10) Pagi, Dolar AS yang Menguat Menahan Kenaikan
Menurut Capurso, penguatan euro membutuhkan sejumlah perubahan besar, termasuk penurunan harga minyak yang signifikan, meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Eropa, serta langkah nyata untuk mengendalikan defisit anggaran.
Di sisi lain, dolar AS terus menguat dengan dukungan dari imbal hasil US Treasury yang masih tinggi. Imbal hasil surat utang pemerintah AS bahkan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade pada perdagangan sebelumnya.
Terhadap yen, dolar AS naik tipis menjadi 157,92 yen. Sementara itu, poundsterling melemah 0,02% menjadi US$ 1,3222.
Indeks dolar AS menguat ke 102,16 setelah mencapai level tertinggi dalam 18 bulan pada perdagangan sebelumnya.
Penguatan dolar terjadi meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober menurun setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lemah dari perkiraan.
Namun, investor masih memperkirakan The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Tekanan harga yang masih tinggi menjadi salah satu faktor yang membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter tetap terbatas.
Baca Juga: Daftar 9 Rekor yang Dicetak Atlet Indonesia di Asian Games 2026, Ada Rekor Dunia
Analis Barclays mengatakan, revisi data inflasi dan sejumlah indikator ekonomi memang mengurangi urgensi pengetatan kebijakan.
Namun, tekanan biaya masih menimbulkan keraguan apakah kondisi saat ini cukup untuk membawa inflasi secara berkelanjutan menuju target 2%.
Data terbaru juga menunjukkan aktivitas sektor jasa AS melambat pada September. Namun, kuatnya permintaan domestik kembali menekan rantai pasokan dan mendorong kenaikan harga yang dibayarkan perusahaan untuk input.
Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan inflasi AS masih dapat bertahan hingga tahun depan dan menjadi penopang bagi dolar AS.
Sementara itu, dolar Australia melemah 0,07% menjadi US$ 0,6967. Dolar Selandia Baru juga turun 0,07% ke US$ 0,5596.














