Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar euro menuju pelemahan mingguan kelima berturut-turut pada Jumat (9/10/2026).
Meski demikian, tekanan jual terhadap mata uang tunggal Eropa tersebut mulai mereda seiring stabilnya pasar obligasi Prancis dan penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) yang mengurangi momentum penguatan dolar AS.
Euro sempat menyentuh level terendah dalam 17 bulan di US$ 1,1161 pada Senin (5/10/2026).
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Tipis ke US$ 4.147 Jumat (9/10) Pagi, Cermati Risiko Inflasi
Pelemahan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap beban utang Prancis yang mencapai rekor tertinggi serta sulitnya proses politik untuk memangkas defisit anggaran negara tersebut.
Di sisi lain, dolar AS mendapat dukungan dari kondisi perekonomian AS yang dinilai relatif kuat.
Melansir Reuters pada perdagangan Jumat, euro kembali menguat ke US$ 1,1211. Meski demikian, mata uang tersebut masih melemah sekitar 0,3% sepanjang pekan ini. Dalam lima pekan terakhir, euro telah terkoreksi lebih dari 3% terhadap dolar AS.
Terhadap pound sterling, euro juga melemah 0,3% sepanjang pekan ini ke sekitar 84,74 pence, mendekati level terendah dalam 16 bulan.
Sementara itu, nilai tukar euro terhadap franc Swiss stabil di sekitar 0,9324 franc per euro setelah mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 17 bulan pada pekan sebelumnya.
Baca Juga: Isu Akuisisi Chipotle Mengemuka, Starbucks Masih Berjuang Pulihkan Margin
Analis senior StoneX di Brisbane Matt Simpson menilai, pergerakan pasar mata uang belakangan ini sudah cukup ekstrem.
Menurut dia, momentum pelemahan euro mulai kehilangan tenaga sehingga investor perlu lebih berhati-hati dalam mengambil posisi jual pada level saat ini.
Dari Prancis, kandidat presiden dari kelompok sayap kanan Marine Le Pen memaparkan rencana untuk memangkas defisit anggaran pada pekan ini.
Rencana tersebut disambut relatif positif oleh pasar, terutama di tengah kekhawatiran terhadap usulan rivalnya dari sayap kiri, Jean-Luc Melenchon, yang meminta bank sentral membatalkan utang pemerintah.
Namun, ketidakpastian politik dan tekanan sosial masih membayangi prospek fiskal Prancis. Pada Kamis (8/10/2026), para pelajar memblokade sejumlah sekolah menengah dan menggelar demonstrasi di berbagai kota untuk memprotes kondisi pendidikan.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat 0,5% Jumat (9/10), Saham Bank dan Emas Jadi Penopang
Strategis Macquarie Thierry Wizman dan Gareth Berry menilai, aksi jual obligasi Prancis dan gejolak sosial kini saling memperkuat.
Mereka memperingatkan bahwa eskalasi demonstrasi dapat mendorong kenaikan selisih imbal hasil obligasi Prancis terhadap obligasi negara lain.
Di pasar valuta asing lainnya, penguatan dolar AS juga mulai melambat seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil tersebut berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan terbesar dalam sekitar tiga bulan, setelah reli harga obligasi pada perdagangan sebelumnya.
Yen Jepang juga menuju pelemahan mingguan keempat berturut-turut, meskipun pergerakannya relatif terbatas dalam tiga pekan terakhir. Yen diperdagangkan di sekitar 158 per dolar AS.
Baca Juga: Indonesia Masuk, Ini Daftar Negara dengan Pertumbuhan Ekonomi Tercepat di Asia
Kepala strategi makro Asia-Pasifik Mizuho Securities di Singapura Vishnu Varathan menilai, posisi dolar AS saat ini cukup rentan meski masih diuntungkan oleh pelemahan euro dan yen.
Sementara itu, dolar Australia bergerak di sekitar US$ 0,6960 dan pound sterling diperdagangkan pada US$ 1,3233.
Dolar Selandia Baru menghadapi tekanan lebih besar dengan menuju penurunan mingguan ketujuh berturut-turut, yang menjadi rentetan pelemahan terpanjang dalam lebih dari empat tahun.
Mata uang tersebut diperdagangkan di sekitar US$ 0,5601 dan mendekati level terendah pada 2025 sebesar US$ 0,5485.
Tekanan terhadap dolar Selandia Baru antara lain dipengaruhi suku bunga acuan negara tersebut yang relatif rendah, yakni 2,75%, dibandingkan suku bunga The Fed yang berada pada kisaran 3,75% hingga 4%.














