kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 18.057   23,00   0,13%
  • IDX 4.997   -188,50   -3,64%
  • KOMPAS100 631   -26,97   -4,10%
  • LQ45 488   -20,09   -3,95%
  • ISSI 172   -7,03   -3,92%
  • IDX30 273   -10,40   -3,67%
  • IDXHIDIV20 357   -9,37   -2,56%
  • IDX80 72   -3,02   -4,00%
  • IDXV30 101   -1,50   -1,47%
  • IDXQ30 90   -3,25   -3,49%

Freeport Andalkan Teknologi Kimia untuk Dongkrak Produksi Tembaga


Senin, 19 Oktober 2026 / 19:26 WIB
Freeport Andalkan Teknologi Kimia untuk Dongkrak Produksi Tembaga
ILUSTRASI. Logo perusahaan penambang tembaga Freeport-McMoRan Inc terpampang di kantor mereka di Phoenix. (REUTERS/Ernest Scheyder)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - PT Freeport-McMoRan mengandalkan pengembangan senyawa kimia baru untuk meningkatkan produksi tembaga dari limbah tambang.

Teknologi ini diharapkan membantu perusahaan mencapai target ekstraksi tembaga sebesar 800 juta pon per tahun pada 2030, di tengah meningkatnya permintaan tembaga global.

Produsen tembaga terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut telah menghabiskan tiga tahun terakhir untuk menguji berbagai kombinasi bahan kimia guna meningkatkan tingkat ekstraksi tembaga dari tumpukan batuan sisa tambang atau tailing. Material tersebut diperkirakan masih mengandung lebih dari 40 miliar pon tembaga.

Baca Juga: Manchester City Kehilangan Semenyo, Kondisi Haaland Ditunggu Jelang Liga Champions

CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk mengatakan, perusahaan telah mengembangkan senyawa kimia baru yang berpotensi meningkatkan tingkat pemulihan tembaga setidaknya tiga kali lipat jika dikombinasikan dengan pemanasan.

Potensi tersebut masih harus dibuktikan melalui pengujian lapangan yang direncanakan berlangsung pada akhir tahun ini.

"Fokus kami adalah memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk mendapatkan lebih banyak tembaga dari aset yang sudah kami miliki," ujar Quirk kepada Reuters menjelang konferensi LME Week di London.

Menurut Quirk, perusahaan akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai waktu penerapan teknologi tersebut seiring berjalannya 2027.

Pengembangan teknologi pelindian atau leaching menjadi salah satu strategi Freeport untuk meningkatkan produksi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pembukaan tambang baru.

Baca Juga: Kerusuhan Guncang Prancis, Saham CAC 40 Turun dan Imbal Hasil Obligasi Naik

Metode ini memungkinkan perusahaan mengekstraksi tembaga dari material sisa tambang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ekonomis.

Dari sisi biaya, proses pelindian diperkirakan sekitar sepertiga lebih murah dibandingkan penambangan batuan keras.

Selain itu, metode tersebut tidak memerlukan izin tambang baru ataupun pembangunan fasilitas peleburan tambahan, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan aset yang sudah tersedia.

Meski demikian, Freeport masih menghadapi tantangan untuk mencapai target produksinya. Perusahaan baru mampu merealisasikan sekitar 30% dari target ekstraksi tembaga melalui pelindian. Pada tahun lalu, volume tembaga yang dihasilkan melalui metode ini mencapai 214 juta pon.

Produksi tersebut membantu mengimbangi penurunan produksi dari kegiatan penambangan konvensional. Namun, kontribusinya dinilai belum cukup besar untuk sepenuhnya menarik perhatian investor.

Baca Juga: The Fed Hadapi Dilema: Redam Inflasi AI Tanpa Memukul Pasar Kerja

"Selama kami belum bisa menunjukkan bahwa inisiatif ini mampu meningkatkan produksi, Wall Street akan tetap bersikap skeptis," kata Quirk.

Freeport menempatkan peningkatan produksi melalui pelindian, ekspansi di Arizona, Amerika Serikat (AS), serta pengembangan operasi di Chile sebagai bagian utama dari strategi pertumbuhannya. Perusahaan juga belum menjadikan akuisisi sebagai prioritas utama.

Quirk menilai, optimalisasi aset yang telah dimiliki masih menawarkan peluang penciptaan nilai yang signifikan bagi perusahaan.

"Kami percaya dapat menciptakan nilai yang signifikan dari aset yang sudah kami miliki," ujarnya.

Meski demikian, Freeport tetap membuka peluang menggabungkan aset dengan produsen tembaga lain apabila terdapat kesempatan yang sesuai secara bisnis.

Strategi tersebut mendapat dukungan dari sebagian pemegang saham. Michael Cuggino, manajer portofolio Permanent Portfolio Funds yang memiliki saham Freeport, mengatakan dirinya tidak keberatan jika perusahaan melakukan akuisisi selama transaksi tersebut memberikan nilai tambah.

Namun, ia juga mendukung langkah perusahaan untuk terus meningkatkan cadangan tembaganya.

Baca Juga: China Batasi Ekspor Mesin Bor Terowongan Mulai 18 November 2026

Di Indonesia, Freeport juga menargetkan pemulihan produksi penuh dari tambang tembaga dan emas Grasberg pada akhir 2027.

Operasi tambang andalan perusahaan tersebut sempat terganggu akibat insiden aliran lumpur pada tahun lalu yang menewaskan tujuh pekerja.

Quirk turut menyatakan bahwa Freeport tidak lagi menjual konsentrat tembaga kepada perusahaan peleburan di China.

Pasalnya, dua fasilitas peleburan milik perusahaan di Indonesia dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk mengolah pasokan dari Grasberg.

Sementara itu, terkait potensi pengenaan tarif impor tembaga oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump, Quirk memilih tidak berspekulasi mengenai kebijakan yang akan diambil. Namun, ia menegaskan bahwa ketidakpastian tersebut tidak mengubah keputusan investasi perusahaan.

Menurut Quirk, pemerintah AS tengah merancang kebijakan untuk mendorong peningkatan produksi domestik. Freeport masih menunggu kejelasan mengenai bagaimana kebijakan tarif akan ditempatkan dalam kerangka insentif tersebut.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×