Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Lonjakan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menambah tantangan bagi Federal Reserve (The Fed) dalam mengendalikan inflasi Amerika Serikat (AS).
Di tengah derasnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan AI dan infrastruktur pusat data, kenaikan suku bunga berisiko justru menekan bisnis kecil, rumah tangga, serta sektor ekonomi di luar industri AI.
Sejumlah pejabat The Fed mengakui bahwa ledakan AI ikut mendorong permintaan dan tekanan harga. Namun, kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga tidak berdampak merata terhadap seluruh sektor ekonomi.
Baca Juga: China Batasi Ekspor Mesin Bor Terowongan Mulai 18 November 2026
Perusahaan teknologi besar yang memiliki akses pendanaan kuat cenderung lebih mampu mempertahankan investasinya, sementara pelaku usaha yang bergantung pada pinjaman bank berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.
Melansir Reuters Senin (19/10/2026), Kepala Ekonom ADP Nela Richardson mengatakan, The Fed masih memiliki sejumlah jalur untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Namun, ruang untuk menekan permintaan semakin terbatas karena sejumlah sektor, termasuk perumahan, sudah menunjukkan pelemahan dan pasar tenaga kerja tidak lagi dianggap sebagai sumber utama tekanan inflasi melalui kenaikan upah.
“Yang tersisa adalah usaha kecil karena mereka membutuhkan pinjaman bank, serta konsumen yang perlu membiayai pembayaran menggunakan utang dan kartu kredit. Mungkin juga pasar saham,” ujar Richardson.
Pasar saham dapat menopang belanja konsumen, terutama rumah tangga berpendapatan tinggi yang memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai aset.
Baca Juga: Volkswagen Bekukan Gaji Karyawan hingga 2030
Namun, pasar saham juga rentan terhadap kenaikan suku bunga. Pekan lalu, saham-saham AS terkoreksi setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed perlu mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya lebih lanjut.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan, kenaikan suku bunga dapat memperlambat aktivitas ekonomi di luar sektor AI dan menahan penguatan pasar saham.
Menurut dia, tujuan kebijakan tersebut bukan menghentikan pertumbuhan ekonomi, melainkan memperlambat lajunya agar tidak memicu tekanan harga berlebihan.
“Saya menyukai pertumbuhan. Saya tidak berusaha menghentikan pertumbuhan. Saya hanya ingin sedikit memperlambatnya agar bergerak pada kecepatan yang tidak menimbulkan terlalu banyak tekanan harga,” kata Hammack kepada Reuters, Senin (12/10/2026).
Baca Juga: Euro Melemah, Rupiah Tertekan hingga Mendekati Level Terlemah dalam Tiga Bulan
Investasi AI jadi tantangan bagi The Fed
Ketua The Fed Kevin Warsh juga mengakui investasi AI merupakan guncangan terhadap harga dan permintaan, meskipun teknologi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas dan menciptakan keuntungan ekonomi dalam jangka panjang.
Warsh menyampaikan, pandangan tersebut dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Thailand pekan lalu.
Namun, ia belum merinci bagaimana The Fed akan merespons tekanan harga dari ledakan investasi AI atau sektor mana yang kemungkinan paling terdampak oleh pengetatan kebijakan moneter.
Besarnya investasi menjadi salah satu faktor penting. Industri AI diperkirakan menggelontorkan sekitar US$ 1 triliun pada tahun depan, setara sekitar 3% dari produk domestik bruto (PDB) AS.
Baca Juga: China Hadapi Krisis Demografi, Beijing Diprediksi Jadi Kota Super-Tua pada 2035
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 27–28 Oktober 2026. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%.
Di tengah inflasi yang belum kembali ke sasaran 2% selama lebih dari lima tahun, para pejabat The Fed masih memperdebatkan arah dan besaran pengetatan kebijakan selanjutnya.
Mantan Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Charles Evans menilai, hubungan antara upaya menekan inflasi dan risiko terhadap pasar tenaga kerja masih perlu dijelaskan lebih rinci.
“Warsh mengatakan ia tidak melihat adanya konflik antara inflasi dan pengangguran. Hal ini layak mendapat penjelasan lebih lanjut,” ujar Evans dalam diskusi panel kebijakan bank sentral.
Baca Juga: Putin Setujui Perombakan Kabinet Rusia Usai Pemilu Parlemen
Bisnis kecil dan konsumen berisiko menanggung dampak
Tantangan bagi The Fed semakin kompleks karena penurunan inflasi pascapandemi sebelumnya hanya diikuti kenaikan pengangguran yang relatif terbatas.
Tingkat pengangguran AS bertahan di kisaran 4,0%–4,3% selama lebih dari dua tahun, antara lain karena perusahaan enggan melepas pekerja yang sulit direkrut setelah pandemi dan pertumbuhan angkatan kerja yang tertekan kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump.
Kondisi tersebut membuat sebagian pejabat The Fed menilai inflasi masih dapat turun tanpa memicu lonjakan pengangguran.
Salah satu jalurnya adalah menjaga kredibilitas kebijakan moneter agar perusahaan dan rumah tangga menahan tuntutan kenaikan upah maupun harga.
Namun, peningkatan permintaan tidak hanya terjadi di industri AI. Perusahaan yang membangun pusat data dan memproduksi komponennya juga menikmati lonjakan pesanan, sehingga membutuhkan tambahan investasi untuk memenuhi permintaan.
Chief Executive Officer KeyCorp Christopher Gorman mengatakan, perusahaan-perusahaan komersial masih melihat prospek bisnis yang baik meski menghadapi risiko dari kebijakan imigrasi dan tarif. Sejumlah perusahaan bahkan tetap merencanakan investasi dan kenaikan harga.
“Penumpukan pesanan itu nyata,” ujar Gorman dalam forum National Association for Business Economics (NABE).
Di sisi lain, tekanan inflasi berpotensi mereda jika harga minyak turun seiring penyelesaian perang Iran, kebijakan tarif AS tidak semakin meluas, atau pembangunan pusat data berjalan lebih moderat akibat meningkatnya penolakan masyarakat setempat.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis Jelang Tengah Hari Ini, Ditopang Harga Minyak yang Tergelincir
Strategis makro Wellington Management Juhi Dhawan juga menyoroti perubahan kebijakan fiskal AS, termasuk pemangkasan manfaat kesehatan publik dan berakhirnya sejumlah keringanan pajak yang nilainya diperkirakan setara 0,5% dari PDB.
Meski demikian, penurunan inflasi berisiko dibayar dengan perlambatan sektor ekonomi lainnya.
Dhawan menilai pelemahan pasar saham di luar perusahaan teknologi besar, prospek laba korporasi yang tidak sekuat tahun sebelumnya, serta terbatasnya daya beli rumah tangga berpendapatan rendah dapat memperbesar dampak kenaikan suku bunga.
Menurut dia, inflasi bisa mereda jika sektor perumahan kembali melemah, pembangunan di luar pusat data melambat, dan biaya pendanaan menjadi terlalu mahal bagi bisnis non-AI. Sementara itu, daya beli konsumen juga rentan karena upah riil cenderung stagnan.
Dengan demikian, tantangan The Fed bukan hanya menentukan seberapa tinggi suku bunga perlu dinaikkan, tetapi juga memastikan upaya menekan inflasi tidak membebani sektor usaha dan rumah tangga secara berlebihan, sementara investasi AI terus mendorong permintaan di sebagian perekonomian AS.













