Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda mengatakan bahwa bank sentral memperkirakan inflasi inti akan tetap berada di sekitar target 2%, namun mengakui adanya "risiko kenaikan".
Ueda menuturkan, kenaikan harga produk terkait energi mulai berdampak pada inflasi konsumen, dengan pertumbuhan harga diperkirakan akan terus meningkat hingga awal tahun depan.
"Kita berada dalam kondisi ekuilibrium di mana upah tumbuh pada tingkat yang konsisten dengan inflasi 2%," ujar Ueda dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) seperti dilansir Reuters, Sabtu (7/11/2026).
Namun, Ueda mencatat bahwa target inflasi 2% BOJ belum menjadi norma sosial di Jepang. Ia menambahkan, tujuan bank sentral saat ini adalah untuk menjaga inflasi inti agar tetap berada di sekitar target tersebut.
Baca Juga: Wall Street Pekan Depan: Pasar Bergejolak Akibat Penurunan Saham Teknologi
Ia juga menyampaikan bahwa BOJ memantau langkah-langkah bank sentral negara lain dengan "sangat, sangat cermat", karena kebijakan tersebut mempengaruhi harga aset, termasuk nilai tukar mata uang asing dan suku bunga.
"Apa yang mereka lakukan mengungkapkan informasi penting mengenai pandangan mereka terhadap perekonomian masing-masing, yang pada gilirannya akan berdampak pada perekonomian kita. Oleh karena itu, kami mengamati perilaku dan tindakan mereka dengan sangat saksama," ujarnya terkait kebijakan bank sentral lain.
Mengenai instrumen kebijakan moneter nonkonvensional, Ueda mengatakan bahwa instrumen tersebut memberikan dampak positif saat diterapkan oleh BOJ, namun ia menambahkan bahwa instrumen tersebut bukanlah pengganti yang sempurna untuk pemangkasan suku bunga dari wilayah positif.
Ueda menyatakan, BOJ mungkin perlu kembali menerapkan instrumen kebijakan nonkonvensional, tergantung pada tingkat keparahan guncangan ekonomi yang mungkin melanda Jepang.
"Menurut saya, hal yang terpenting adalah menjaga inflasi—atau inflasi inti—agar tetap berada di sekitar 2%. Namun, jika kita harus kembali menggunakan instrumen-instrumen ini, kita perlu memikirkan cara untuk meminimalkan dampak negatifnya, termasuk kemungkinan dampaknya terhadap fungsi pasar," katanya.
Baca Juga: IMF: Perlambatan Pertumbuhan Berbasis AI Jadi Faktor Pertimbangan Bagi Bank Sentral
Saat ditanya mengenai diskusi yang dipicu oleh Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, perihal komunikasi yang berlebihan, Ueda menyatakan bahwa bank sentral perlu menjaga keseimbangan yang tepat antara kebutuhan untuk mengomunikasikan tujuan kebijakan dengan risiko munculnya *moral hazard* di kalangan pelaku pasar.
"Harus ada keseimbangan yang baik di antara pertimbangan-pertimbangan tersebut," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam kasus Jepang, inflasi inti telah digunakan sebagai variabel kunci dalam menentukan arah kebijakan. Setelah mencapai tingkat inflasi inti sebesar 2%, tujuan Jepang saat ini adalah untuk mempertahankan angka tersebut, katanya.
Tantangan AI dan Siber
Ueda memberikan komentar singkat mengenai potensi serta risiko kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Ia menyebutkan bahwa kemajuan pesat dalam AI telah memberikan kejutan permintaan (demand shock) yang positif bagi perekonomian Jepang, namun faktor-faktor dari sisi penawaran (supply side) juga perlu dicermati.
Berbeda dengan beberapa negara lain, Jepang justru bisa diuntungkan oleh penggantian tenaga kerja manusia dengan AI, mengingat Jepang tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja yang cukup signifikan, ungkapnya.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyoroti pelemahan pasar baru-baru ini yang terkait dengan saham-saham sektor AI. Ia mengatakan bahwa para bankir sentral di seluruh dunia perlu mempertimbangkan kemungkinan melambatnya pertumbuhan yang didorong oleh AI saat mereka mengevaluasi langkah-langkah untuk memerangi inflasi.
Georgieva menyebutkan bahwa kekhawatiran mengenai ketergantungan pada lonjakan investasi AI serta valuasi yang tinggi telah berdampak pada pasar di seluruh dunia.
Baca Juga: The Fed Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Menyusul Laporan Ketenagakerjaan yang Kuat
"Kondisi pasar terus mengalami fluktuasi, dan kemungkinan besar hal ini akan terus berlanjut," ujarnya di hadapan ratusan hadirin di kantor pusat IMF di Washington yang datang untuk mendengarkan Ueda. Ia menambahkan bahwa volatilitas ini akan mempersulit tugas bank sentral di saat risiko terhadap stabilitas harga justru kian meningkat.
Ueda juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait risiko siber dalam konteks stabilitas keuangan. Ia menambahkan bahwa beberapa bank berskala kecil dan perusahaan kecil belum melakukan upaya yang memadai untuk mengantisipasi risiko-risiko tersebut.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
