kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

The Fed Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Menyusul Laporan Ketenagakerjaan yang Kuat


Sabtu, 07 November 2026 / 06:30 WIB
The Fed Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Menyusul Laporan Ketenagakerjaan yang Kuat
ILUSTRASI. Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve. (REUTERS/Joshua Roberts)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve. 

Sebelumnya, momentum kenaikan suku bunga sempat melemah di tengah aksi jual di pasar saham pasca-pemilu serta kekhawatiran yang meningkat bahwa permintaan yang lebih lemah—akibat dampak kecerdasan buatan (AI)—dapat menghambat perekonomian.

Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics) melaporkan pada hari Jumat bahwa pemberi kerja menambah 165.000 lapangan kerja bulan lalu—lebih dari dua kali lipat dari perkiraan para ekonom—sementara tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1%. 

Upah per jam rata-rata meningkat 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya; angka ini belum cukup untuk mengimbangi kenaikan harga konsumen sebesar 3,7%, yang menggerus daya beli dari pendapatan pekerja pada umumnya.

Baca Juga: Demokrat AS Siapkan Gelombang Regulasi AI, OpenAI hingga Anthropic Jadi Sorotan

Setelah bank sentral AS mempertahankan suku bunga kebijakannya bulan lalu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa para pembuat kebijakan akan memantau "akumulasi data" untuk menentukan apakah pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut diperlukan. 

Bagi Pejabat The Fed wilayah San Francisco, Mary Daly, laporan ketenagakerjaan bulanan terbaru ini tampaknya menjadi alasan kuat untuk mendukung langkah tersebut.

"Masyarakat saat ini berada pada titik di mana mereka berkata, 'Inflasi... segalanya berjalan baik bagi saya, kecuali bahwa pendapatan saya tidak mampu mengimbangi inflasi.' Oleh karena itu, mengatasi inflasi harus menjadi prioritas utama kami. Fakta bahwa kita memiliki pasar tenaga kerja yang kokoh memberi kita keleluasaan untuk benar-benar menuntaskan tugas tersebut," ujar Daly dalam sebuah wawancara dengan CNBC. 

"Ekspektasi saya adalah kita perlu memperketat kebijakan lebih lanjut," ujar Daly, yang tahun ini bukan merupakan anggota dengan hak suara dalam komite kebijakan The Fed, namun pandangannya biasanya sejalan dengan pandangan mayoritas.

Seraya mencatat "betapa volatilnya dunia saat ini dalam berbagai aspek," ia menambahkan, "volatilitas semacam itu harus diperhitungkan. Kita perlu mengumpulkan lebih banyak informasi, serta bersikap cermat namun lebih bertahap dalam melangkah, terutama ketika kita belum mengetahui secara pasti ke mana arah yang harus dituju. Namun, kemungkinan besar langkah lebih lanjut memang diperlukan, dan kami—saya pribadi—siap untuk melakukannya jika kondisi ekonomi menuntut demikian."

Baca Juga: Lapangan Kerja AS Bertambah 165.000 pada Oktober, Pengangguran Turun ke 4,1%

Dalam sebuah acara publik di St. Louis pada hari Jumat, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan bahwa inflasi tetap menjadi kekhawatiran utama dalam diskusi-diskusinya dengan para pelaku bisnis di wilayah kerjanya.

"Inflasi adalah pajak yang bersifat regresif dan mendistorsi," kata Musalem, yang mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut. "Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk mendorong pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja adalah dengan menurunkan kembali inflasi secara tepat waktu."

Ia tidak menyinggung penurunan tajam di pasar saham baru-baru ini—yang dipicu oleh keraguan baru mengenai kecepatan dan keberlanjutan lonjakan kecerdasan buatan (AI)—namun ia berpendapat bahwa untuk saat ini, industri yang sedang berkembang tersebut turut memicu inflasi yang lebih tinggi melalui permintaan terhadap komoditas, seperti tembaga.

Meskipun investasi tersebut mungkin akan membuahkan keuntungan dan produktivitas di masa depan, Musalem menegaskan, "Kita harus menyusun kebijakan moneter untuk kondisi ekonomi saat ini, bukan untuk kondisi lima tahun mendatang." Oleh karena itu, setidaknya untuk saat ini, investasi di bidang AI "akan terus berkontribusi terhadap inflasi."

Dampak AI Terhadap Pertumbuhan dan Inflasi

Daly berpendapat bahwa penurunan harga saham sektor teknologi—yang mencatatkan penurunan mingguan selama empat pekan berturut-turut meski sempat menguat pada hari Jumat—tidak mencerminkan penolakan menyeluruh terhadap anggapan bahwa pusat data (data center) dan komputasi awan (cloud computing) merupakan hal yang penting. 

"Jika kita melihat lebih jauh dari volatilitas yang terjadi—yang saya tahu terasa menyakitkan bagi mereka yang berada di tengah-tengahnya—sebenarnya ini adalah bentuk penyeimbangan kembali yang justru diharapkan demi mencapai hasil yang tertata," ujarnya, seraya menambahkan bahwa para investor kini tengah menyesuaikan kembali ekspektasi mereka terhadap laju pertumbuhan yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI).

Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan terbesar dalam 19 bulan terakhir pada hari Kamis, seiring dengan semakin jelasnya pergeseran peta politik di AS. Hal ini terjadi setelah Partai Demokrat berhasil menguasai Kongres dan memenangkan sejumlah pemilihan gubernur dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) yang berlangsung hari Selasa.

Beberapa kandidat gubernur dari Partai Demokrat yang terpilih sempat berkampanye dengan janji untuk membatasi pembangunan pusat data (data center), sementara para pemimpin Partai Demokrat di Kongres kini tengah merancang serangkaian undang-undang baru terkait AI.

Kekhawatiran seputar AI juga membuat para pelaku pasar menarik diri dari spekulasi sebelumnya—yang sempat cukup besar—mengenai kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) bulan depan. 

Mereka beranggapan bahwa perlambatan permintaan yang terkait dengan AI dapat mendinginkan pertumbuhan ekonomi serta meredakan tekanan inflasi, sehingga pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut menjadi tidak terlalu mendesak.

Baca Juga: Inflasi AS Masih Tinggi, The Fed Tegaskan Target 2% Jadi Prioritas

Namun, dirilisnya laporan ketenagakerjaan terbaru kembali menempatkan isu kenaikan suku bunga The Fed sebagai sorotan utama.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 80% untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada pertemuan The Fed tanggal 8–9 Desember, naik dari sekitar 67% pada hari Kamis. 

Para pelaku pasar kini juga memprediksi bahwa kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi lebih awal, yakni pada bulan April, bukan Juni di saat bank sentral berupaya mengatasi inflasi yang telah berada di atas target 2% selama lebih dari lima tahun.

"Ini adalah laporan pasar tenaga kerja yang sangat kuat, menyusul data PDB dan belanja konsumen yang solid pekan lalu, yang semakin memperkuat momentum positif perekonomian," tulis Olu Sonola, seorang analis di Fitch Ratings, setelah laporan tersebut dirilis.

Kekhawatiran baru-baru ini mengenai kecerdasan buatan (AI) menghadirkan risiko terhadap prospek tersebut, ujar Sonola, "namun untuk saat ini, perekonomian tetap berada dalam posisi yang kokoh. Ketahanan pasar tenaga kerja membuat The Fed tetap fokus pada inflasi dan mengarahkan perdebatan kebijakan lebih condong ke arah kenaikan suku bunga pada bulan Desember."




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×