Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali tertekan pada perdagangan Jumat (2/10/2026), memperpanjang penurunan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Pelemahan harga emas terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil US Treasury.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya nonfarm payrolls, untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.154,78 per troy ounce pada pukul 02.05 GMT. Secara mingguan, harga emas telah melemah lebih dari 3%.
Sementara itu, harga emas berjangka AS turun 0,4% menjadi US$ 4.184 per troy ounce.
Penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap harga emas. Dolar AS berada di jalur kenaikan mingguan sehingga membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Baca Juga: Valas Asia Bergerak Terbatas Jumat (2/10), Rupiah Bertahan di Rp17.940
Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun pada Kamis (1/10/2026) menyentuh level tertinggi sejak 2002.
Analis pasar keuangan senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan, investor saat ini mencermati ekspektasi suku bunga AS dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
"Pelaku pasar sedang mengamati ekspektasi suku bunga AS dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah," kata Kyle Rodda.
Menurut dia, data nonfarm payrolls AS akan menjadi faktor penting dalam menentukan ekspektasi suku bunga ke depan.
"Data nonfarm payrolls AS akan sangat penting bagi ekspektasi suku bunga. Jika hasilnya kuat, hal itu dapat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed. Kondisi tersebut berpotensi semakin menekan harga emas," ujarnya.
Dua pejabat The Fed pada pekan ini menyampaikan pandangan yang lebih tegas dari biasanya mengenai perlunya menunggu data ekonomi tambahan sebelum mengambil keputusan terkait kenaikan suku bunga berikutnya.
Data nonfarm payrolls AS untuk September dijadwalkan dirilis pada pukul 12.30 GMT. Sebelumnya, data yang dirilis pada Rabu (30/9) menunjukkan inflasi AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Agustus. Tekanan harga pada bulan sebelumnya juga tercatat lebih moderat dibandingkan laporan sebelumnya.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini hanya sekitar 25%. Angka tersebut turun dari sekitar 70% pada awal pekan.
Meski demikian, pasar masih melihat peluang sekitar 79% untuk kenaikan suku bunga pada Desember.
Baca Juga: Bursa Asia Melemah Jumat (2/10), Cermati Gejolak Obligasi dan Data Tenaga Kerja AS
Kenaikan biaya pinjaman biasanya mengurangi daya tarik emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Harga Perak, Platinum dan Paladium
Selain emas, pergerakan sejumlah logam mulia lainnya juga cenderung tertekan.
Harga perak spot turun 0,5% menjadi US$ 60,53 per troy ounce. Harga platinum melemah 0,4% menjadi US$ 1.716,93 per troy ounce.
Sementara itu, harga paladium naik tipis 0,1% menjadi US$ 1.172,80 per troy ounce.
Ketiga logam tersebut juga berada di jalur penurunan secara mingguan.














