kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.908   -84,00   -0,47%
  • IDX 5.990   -19,30   -0,32%
  • KOMPAS100 769   -4,09   -0,53%
  • LQ45 590   -2,77   -0,47%
  • ISSI 209   0,10   0,05%
  • IDX30 327   -0,84   -0,26%
  • IDXHIDIV20 420   1,10   0,26%
  • IDX80 88   -0,42   -0,47%
  • IDXV30 114   0,33   0,29%
  • IDXQ30 107   -0,15   -0,14%

Bursa Asia Melemah Jumat (2/10), Cermati Gejolak Obligasi dan Data Tenaga Kerja AS


Jumat, 02 Oktober 2026 / 09:37 WIB
Bursa Asia Melemah Jumat (2/10), Cermati Gejolak Obligasi dan Data Tenaga Kerja AS
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei (REUTERS/Manami Yamada)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat (2/10), di tengah volatilitas pasar obligasi dan valuta asing yang tinggi.

Investor juga menahan posisi menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,5% dan berada di jalur penurunan sekitar 1,7% sepanjang pekan. Indeks Nikkei Jepang juga terkoreksi 0,7%, meski masih mencatat kenaikan sekitar 3,1% dalam sepekan.

Baca Juga: Daftar Negara dengan Penerimaan Pajak Terbesar di Dunia, Ada Indonesia?

Gejolak pasar kembali dipicu oleh pergerakan imbal hasil US Treasury. Imbal hasil US Treasury 10 tahun sempat melonjak ke 5,34%, level tertinggi sejak 2002, setelah mencatat kenaikan kuartalan terbesar dalam 32 tahun.

Imbal hasil tersebut kemudian turun dan berada di sekitar 5,2512% pada perdagangan Asia. Penurunan yield US Treasury membantu bursa saham Amerika Serikat menguat pada akhir perdagangan sebelumnya. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,3%, sementara S&P 500 futures bertambah 0,1%.

Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Perhatian utama investor tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat. Ekonom memperkirakan penambahan sekitar 90.000 lapangan kerja pada September, sementara tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.

Data upah menjadi salah satu komponen yang paling dicermati karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan The Fed.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Level Tertinggi 17 Bulan Jumat (2/10), Euro Tertekan

"Ketika The Fed kini sangat fokus pada inflasi dan tekanan harga, data upah yang tinggi dapat sangat memengaruhi suku bunga AS, Treasury, dan dolar AS," kata Head of Research Pepperstone Chris Weston.

Pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober sekitar 25%, turun tajam dari 69% sepekan sebelumnya.

Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya menekankan perlunya menunggu lebih banyak data sebelum mengambil keputusan mengenai kebijakan suku bunga berikutnya.

Namun, pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember sepenuhnya tercermin dalam harga.

Weston mengatakan aset berisiko sejauh ini mampu menyerap kenaikan imbal hasil riil AS dan yield Treasury jangka panjang.

Namun, kenaikan premi jangka panjang atau term premium secara berkelanjutan dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap pasar.

Baca Juga: Mengapa Aksi Jual Melanda Pasar Obligasi Global?

Masalah Fiskal Eropa Tekan Euro

Gejolak pasar juga dipicu persoalan fiskal di Eropa. Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan Prancis mendorong selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman melebar hingga lebih dari 140 basis poin, level tertinggi sejak 2012.

Tekanan tersebut turut menyeret pasar saham Eropa dan euro. Mata uang tunggal Eropa merosot hingga US$ 1,1215, level terendah sejak Mei 2025.

Euro juga melemah terhadap yen dan franc Swiss. Arus dana ke aset yang dianggap lebih aman turut mendorong permintaan terhadap US Treasury, dolar AS, dan franc Swiss.

Indeks dolar berada di level 102,09 setelah menguat 0,6% pada perdagangan sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak April 2025. Dolar AS juga berada di jalur penguatan mingguan ketiga berturut-turut dengan kenaikan sekitar 1,1%.

Sementara itu, yen berada di sekitar 158,13 per dolar AS. Data menunjukkan inflasi inti di Tokyo meningkat menjadi 2,7% secara tahunan pada September, memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat melanjutkan kenaikan suku bunga.

Baca Juga: Trump Mulai Kampanye Pemilu Sela AS, Partai Republik Hadapi Persaingan Ketat

Harga Minyak Bertahan Tinggi

Di pasar komoditas, harga minyak tetap tinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan mengirim lebih banyak pasukan dan kapal induk ke kawasan tersebut.

China juga menghentikan ekspor produk minyak, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai potensi semakin ketatnya pasokan bahan bakar global.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$ 92,84 per barel setelah melonjak hampir 3% pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga Brent bertahan di atas US$ 102 per barel.

Pasar saham China daratan tidak diperdagangkan karena libur nasional hingga Rabu pekan depan.

Baca Juga: Nikkei Jepang Melemah 0,79% Jumat (2/10), Investor Mulai Ambil Untung Setelah Reli




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×