Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam 17 bulan pada perdagangan Jumat (2/10/2026).
Penguatan dolar terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global yang mendorong imbal hasil surat utang ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Melansir Reuters, Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 102,08 dan menuju kenaikan sekitar 1% dalam sepekan.
Baca Juga: Mengapa Aksi Jual Melanda Pasar Obligasi Global?
Jika terealisasi, dolar akan mencatat penguatan mingguan ketiga berturut-turut, sekaligus menjadi tren terpanjang sejak Mei 2025.
Tekanan di pasar obligasi meningkat pada Kamis (1/10). Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun sempat melonjak ke 5,344%, level tertinggi sejak 2002, sebelum turun ke sekitar 5,249% pada perdagangan awal Jumat.
Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi yang persisten, tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta meningkatnya pasokan obligasi. Kondisi tersebut membuat biaya pinjaman global ikut meningkat.
"Fakta bahwa imbal hasil jangka panjang terus naik meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mereda menunjukkan bahwa pergerakan ini semakin berkaitan dengan term premium dan risiko fiskal, bukan hanya keputusan The Fed berikutnya," kata Chief Investment Strategist Saxo Charu Chanana.
Baca Juga: Trump Mulai Kampanye Pemilu Sela AS, Partai Republik Hadapi Persaingan Ketat
Euro Tertekan
Penguatan dolar paling terasa terhadap euro. Mata uang tunggal Eropa tersebut berada di sekitar US$ 1,1237, mendekati level terendah sejak Mei 2025.
Euro mendapat tekanan dari meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun juga melonjak ke level tertinggi dalam 14 tahun. Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan Prancis turut meningkatkan tekanan terhadap aset-aset Eropa.
Selain persoalan fiskal, kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah turut membebani perekonomian Eropa.
Harga minyak Brent kembali menembus US$ 100 per barel karena investor mencermati ketidakpastian dalam pembicaraan Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut.
"Pergerakan dolar semakin tidak hanya berkaitan dengan keunggulan ekonomi AS, tetapi lebih banyak mencerminkan masalah di tempat lain, terutama Eropa," kata Head of Research Pepperstone Chris Weston.
Baca Juga: Nikkei Jepang Melemah 0,79% Jumat (2/10), Investor Mulai Ambil Untung Setelah Reli
Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Di AS, perhatian investor tertuju pada laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Data inflasi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan kenaikan harga konsumen pada Agustus lebih rendah dari perkiraan.
Revisi data Juli juga menunjukkan tekanan inflasi yang lebih rendah, sehingga pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Namun, pasar tetap mencermati perkembangan upah. Weston mengatakan data upah yang lebih tinggi dari perkiraan dapat berdampak terhadap imbal hasil US Treasury dan pergerakan dolar karena perhatian The Fed masih tertuju pada tekanan harga.
"Jika data upah menunjukkan kenaikan yang tinggi, hal itu dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap suku bunga AS, Treasury, dan dolar AS," ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik ke US$102,60 Jumat (2/10), China Batasi Ekspor BBM
Sementara itu, yen Jepang relatif stabil di sekitar 158 per dolar AS setelah data menunjukkan inflasi inti Tokyo meningkat pada September dengan laju tercepat dalam 10 bulan.
Pound sterling berada di US$ 1,3187, sedangkan dolar Australia turun 0,18% menjadi US$ 0,6918. Dolar Selandia Baru juga melemah 0,22% ke US$ 0,5591, level terendah sejak November 2025.
Senior Rates Strategist TD Securities Prashant Newnaha mengatakan, penguatan dolar saat ini lebih mencerminkan arus dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah perkembangan di Eropa.
"Ini merupakan pergerakan flight to safety yang dipicu perkembangan di Eropa. Dalam kondisi ini, indeks dolar dan yen dapat menguat secara bersamaan," kata Newnaha.














