kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.900   65,00   0,36%
  • IDX 6.333   -41,54   -0,65%
  • KOMPAS100 824   -8,41   -1,01%
  • LQ45 627   -6,12   -0,97%
  • ISSI 219   -1,30   -0,59%
  • IDX30 347   -3,19   -0,91%
  • IDXHIDIV20 431   -3,30   -0,76%
  • IDX80 94   -0,94   -0,99%
  • IDXV30 118   -0,70   -0,59%
  • IDXQ30 111   -1,10   -0,98%

Dolar AS Tembus Level Tertinggi Dua Bulan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat


Kamis, 24 September 2026 / 09:24 WIB
Dolar AS Tembus Level Tertinggi Dua Bulan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat
ILUSTRASI. Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tertinggi dalam dua bulan pada Kamis (24/9/2026).

Penguatan dolar didorong data aktivitas manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan sehingga kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve.

Melansir Reuters, Indeks dolar, yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama, berada di sekitar level 101,1, mendekati posisi tertinggi dalam dua bulan.

Baca Juga: Meta Kejutkan Pasar, Mark Zuckerberg Perkenalkan Perangkat AI Genggam Meta Charm

Penguatan dolar menekan mata uang utama lainnya. Euro turun ke US$ 1,1378, level terendah dalam dua bulan. Poundsterling juga bertahan di sekitar US$ 1,3231, mendekati level terendah dalam tiga bulan.

Data purchasing managers' index (PMI) yang dirilis sebelumnya menunjukkan aktivitas ekonomi AS lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap tekanan harga dan risiko inflasi.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi. Lelang US Treasury tenor lima tahun mendapat respons yang kurang baik sehingga memicu aksi jual surat utang dan mendorong kenaikan yield di berbagai tenor.

Yield US Treasury lima tahun bahkan menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007.

Kombinasi ekonomi AS yang relatif kuat dan risiko inflasi yang meningkat membuat pasar kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed.

Gubernur The Fed Michael Barr pada Rabu (23/9) mengatakan, risiko inflasi dan kekuatan ekonomi AS dapat membuat bank sentral perlu kembali menaikkan suku bunga. Pernyataan tersebut dipandang pasar sebagai sinyal mengenai arah kebijakan ke depan.

"Dengan mempertimbangkan kekuatan relatif pertumbuhan AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin agresif, dolar AS masih memiliki daya tarik untuk dimiliki," kata Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone.

Menurut Weston, tanda-tanda ekonomi AS mulai terlalu panas kini menjadi perhatian utama. Jika inflasi terus berada di atas perkiraan, pembuat kebijakan kemungkinan perlu memperketat kebijakan moneter lebih lanjut.

Baca Juga: China's Lipstick King Hadapi Perlambatan, AI Mulai Ganggu Bisnis Livestream Shopping

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Menguat

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang hampir 70% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober.

Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 50% sepekan sebelumnya.

Kenaikan harga minyak hampir 4% pada Rabu juga memperkuat kekhawatiran inflasi. Pasar mencermati dampak ketegangan Iran-Amerika Serikat serta kemungkinan kebijakan AS terkait pembatasan ekspor diesel.

Kenaikan harga energi dapat kembali menambah tekanan terhadap inflasi, sehingga memperumit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Kamis (24/9), Harga Minyak Kembali Picu Kekhawatiran Inflasi

Yen Tertekan

Penguatan dolar juga membuat yen Jepang berada di sekitar level terendah dalam tiga pekan. Yen diperdagangkan sekitar 157,9 per dolar AS.

Pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menopang yen.

Pasar menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan pekan lalu belum cukup hawkish untuk memberikan dukungan yang kuat terhadap mata uang Jepang.

Data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang memang meningkat pada September, tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi dan pesanan baru mengalami pelemahan.

Baca Juga: Yield Obligasi Pemerintah Jepang Rekor Tertinggi dalam 30 Tahun, Terseret US Treasury

Sementara itu, dolar Australia berada di US$ 0,7035, turun 0,07% menjelang rilis data ketenagakerjaan terbaru. Dolar Selandia Baru relatif datar di US$ 0,5676.

Di pasar offshore, yuan China juga bergerak datar di level 6,7119 per dolar AS. Investor mencermati kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS, yang menjadi pertemuan penting di tengah ketegangan kedua negara terkait perdagangan, teknologi, Taiwan dan Iran.




TERBARU

[X]
×