kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.887   62,00   0,35%
  • IDX 6.450   47,94   0,75%
  • KOMPAS100 831   1,62   0,20%
  • LQ45 631   -1,25   -0,20%
  • ISSI 227   4,63   2,08%
  • IDX30 352   -1,25   -0,35%
  • IDXHIDIV20 429   -1,46   -0,34%
  • IDX80 95   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,94   0,79%
  • IDXQ30 112   -0,32   -0,28%

Dolar AS Tertekan Selasa (18/8), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun


Selasa, 18 Agustus 2026 / 09:08 WIB
Dolar AS Tertekan Selasa (18/8), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

​KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level terendah dalam beberapa bulan terhadap mayoritas mata uang utama pada Selasa (18/8/2026).

Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat terus menurun, meski kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah masih membayangi sentimen pasar.

Baca Juga: Saudi Aramco Tawarkan Minyak Mentah di Luar Selat Hormuz ke Pembeli Asia

Pada awal perdagangan Asia, euro berada di US$1,1581, tidak jauh dari level tertinggi dua bulan US$1,1614 yang dicapai pada Senin.

Poundsterling berada di US$1,3548, mendekati level tertinggi tiga bulan yang juga dicapai pada sesi sebelumnya.

Tekanan terhadap dolar AS terjadi setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan perlambatan.

Penjualan ritel AS turun pada Juli untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, setelah sebelumnya data menunjukkan penurunan lapangan kerja yang tidak terduga serta inflasi yang moderat.

Rangkaian data ekonomi yang lebih lemah tersebut mendorong investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September hanya sekitar 35%, turun dari 52,2% sepekan sebelumnya.

Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir, Pasar Global Dibayangi Risiko Perang

Namun, analis masih berhati-hati terhadap prospek inflasi, terutama karena Selat Hormuz masih praktis tertutup dan negosiasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran menemui jalan buntu.

"Inflasi telah berada di atas target selama sebagian besar dari lima tahun terakhir. Meskipun laju tahunan yang tinggi di level 2% mungkin masih dapat diterima The Fed, kondisi tersebut hanya memberikan sedikit ruang bagi proses inflasi di tengah dunia yang terus menghadapi guncangan pasokan," kata Nohshad Shah, kepala penjualan fixed income EMEA di Citadel Securities.

Perang Iran Jadi Risiko Inflasi

Iran menyatakan akan beralih ke posisi militer yang "sepenuhnya ofensif" setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri perang dengan AS secara permanen mengalami kebuntuan.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Washington juga telah menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Juni.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (18/8) Pagi, Brent ke US$91,14 dan WTI ke US$85,04

Kekhawatiran terhadap perang yang berkepanjangan turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global.

Investor mencermati dampak harga minyak yang lebih tinggi serta penutupan Selat Hormuz terhadap inflasi.

Harga minyak mentah Brent naik 0,3% menjadi US$91,14 per barel setelah pada Senin menyentuh level tertinggi sejak 30 Juli.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bertahan di dekat level tertinggi dalam hampir 20 tahun.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak September 1996.

Pasar juga mencermati hasil lelang US Treasury dalam sepekan terakhir. Investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk menyerap kebutuhan pembiayaan pemerintah AS yang terus meningkat.

Baca Juga: Perusahaan Kripto Trump Gandeng Platform AI yang Gunakan Teknologi China

"Untuk penerbitan Treasury bertenor panjang, investor semakin fokus dan khawatir terhadap meningkatnya utang AS serta kurangnya disiplin fiskal Amerika," kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial.

Menurutnya, lelang obligasi Treasury dalam jumlah besar menjadi kesempatan bagi pasar obligasi untuk memberikan tekanan terhadap pemerintah dengan meminta imbal hasil lebih tinggi agar penerbitan tersebut terserap.

Yen Mendekati Level 160 per Dolar

Di pasar valuta asing, yen Jepang bertahan di bawah level 160 per dolar AS. Pergerakan tersebut membuat perhatian investor beralih ke pertemuan Bank of Japan (BOJ) bulan depan.

Sumber Reuters mengatakan BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut dan mempertimbangkan kenaikan yang lebih agresif setelahnya.

Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Tiga Sesi Beruntun Selasa (18/8), Pasar Tunggu Risalah The Fed

Yen terakhir berada di level 159,46 per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut telah menghapus hampir setengah penguatannya setelah intervensi bersama AS dan Jepang pada akhir Juli untuk menjauhkan yen dari level terendah dalam 40 tahun.

Sementara itu, dolar Australia menguat 0,11% menjadi US$0,71119, mendekati level terkuat sejak awal Juni. Dolar Selandia Baru berada di US$0,5902.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×