kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.681   17,00   0,10%
  • IDX 6.644   7,65   0,12%
  • KOMPAS100 867   0,36   0,04%
  • LQ45 657   -0,57   -0,09%
  • ISSI 232   1,37   0,59%
  • IDX30 367   -0,43   -0,12%
  • IDXHIDIV20 454   -0,81   -0,18%
  • IDX80 99   0,11   0,11%
  • IDXV30 126   0,55   0,44%
  • IDXQ30 117   -0,29   -0,25%

Dolar AS Goyah Senin (7/9), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Justru Menguat


Senin, 07 September 2026 / 08:39 WIB
Dolar AS Goyah Senin (7/9), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Justru Menguat
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin (7/9/2026), meski ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) meningkat.

Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran tekanan inflasi yang lebih luas dan berpotensi mendorong bank sentral global memperketat kebijakan moneter secara bersamaan.

Baca Juga: Jepang Kuras US$98,6 Miliar Demi Selamatkan Yen, Cadangan Devisa Anjlok Rekor

Perubahan sentimen terhadap yen Jepang, kekhawatiran terhadap peningkatan utang pemerintah AS, serta ketidakpastian kebijakan turut membebani kinerja dolar AS.

Pergerakan mata uang relatif terbatas pada awal perdagangan Asia karena pasar AS tutup untuk libur nasional.

Dolar juga kesulitan mempertahankan penguatan singkat yang diperolehnya setelah laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan pada Jumat lalu.

Pada Senin, euro naik tipis menjadi US$1,1618, sementara poundsterling relatif stabil di US$1,3519.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun 0,07% menjadi 99,09, tidak jauh dari level terendah terbaru di 98,558.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Senin (7/9) Pagi, Brent Tembus ke US$96,80

Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 57% The Fed menaikkan suku bunga pada September setelah rilis data nonfarm payrolls. Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis Jumat.

Elias Haddad, Global Head of Markets Strategy BBH mengatakan, data inflasi akan menjadi penentu penting bagi arah dolar AS.

"Data CPI yang tinggi hampir pasti akan memastikan kenaikan suku bunga pada September dan menopang dolar AS. Sebaliknya, data yang lebih rendah akan memperkuat alasan untuk mempertahankan suku bunga dan membuat dolar AS rentan terhadap perubahan ekspektasi ke arah kebijakan The Fed yang lebih dovish," ujarnya.

Namun, Haddad menilai sekalipun kenaikan suku bunga September menjadi kepastian, dolar AS belum tentu mencetak level tertinggi baru dalam siklusnya.

Pasalnya, bank sentral utama lainnya juga mulai mengarah pada kebijakan yang lebih ketat sehingga mempersempit perbedaan kebijakan moneter antarnegara.

Baca Juga: Pesawat Kargo Amazon Prime Air Kecelakaan di Miami, 5 Orang Tewas

Harga Minyak Jadi Risiko Inflasi

Harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu sumber tekanan inflasi global. Kondisi tersebut menjadi alasan utama pasar memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pada Kamis.

Pasar berjangka juga memperkirakan peluang sekitar 75% untuk kenaikan berikutnya menjadi 3% pada Desember.

Ekspektasi kenaikan suku bunga juga menguat di Jepang. Pasar memperkirakan peluang 75% Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 18 September, sementara peluang kenaikan berikutnya pada Desember mencapai sekitar 60%.

Baca Juga: Serangan AS-Iran Bikin Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok

Yen Jepang Menguat

Di pasar valuta asing, yen Jepang menguat lebih dari 0,2% menjadi 155,88 per dolar AS pada Senin.

Penguatan tersebut memperpanjang reli yen setelah penasihat ekonomi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga bulan ini.

Yen sebelumnya melonjak lebih dari 2% pada pekan lalu, didorong kombinasi pembalikan transaksi carry trade dan ekspektasi repatriasi modal yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap yen.

Eric Robertsen, Global Head of Research and Chief Strategist Standard Chartered, mengatakan carry trade menjadi salah satu strategi makro dengan kinerja terbaik sepanjang tahun ini meski biaya pinjaman global meningkat.

Namun, penguatan yen belakangan ini mulai menjadi ancaman bagi kinerja strategi tersebut.

Baca Juga: Pemilihan Presiden FIFA 2027: Gianni Infantino Kembali Mencalonkan Diri

"Jika yen terus menguat secara persisten, hal ini dapat menjadi sinyal bahwa kenaikan suku bunga yen dan dolar AS mulai memicu perubahan alokasi aset," kata Robertsen.

Sementara itu, dolar Australia menguat 0,12% menjadi US$0,7208, sedangkan dolar Selandia Baru relatif stabil di US$0,5880.

Di pasar aset kripto, Bitcoin bertahan di atas level US$80.000. Bitcoin terakhir berada di US$80.145,95, setelah dalam beberapa waktu terakhir mendapat dukungan dari investor yang melakukan diversifikasi aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.




TERBARU

[X]
×