Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026), seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Kondisi ini mendorong minat investor kembali ke aset berisiko.
Indeks saham negara berkembang Asia (MSCI Emerging Asia) naik 1,6% dan menuju kenaikan harian terbaik dalam sepekan. Bursa Korea Selatan dan Taiwan, yang didominasi saham teknologi, masing-masing menguat 1,8% dan 1,5%.
Penguatan paling mencolok terjadi di Singapura. Straits Times Index (STI) sempat melonjak 1,3% ke rekor tertinggi 5.820,69.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Ditutup Menguat 1,26% Berkat Reli SoftBank
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi penopang utama. Dalam sepekan, STI naik 1,9% dan menuju kenaikan mingguan terbesar sejak awal Juli.
Ekonom DBS Radhika Rao mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah menurun menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Penguatan yen juga menekan dolar AS sehingga memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk pulih. "Risikonya tetap dua arah karena konflik AS-Iran dapat kembali mendorong harga minyak dan menekan aset Asia," kata Rao.
Sentimen pasar membaik setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan lebih memilih mempertahankan suku bunga pada pertemuan September apabila data inflasi mendatang kembali menunjukkan tanda-tanda disinflasi.
Pasar berjangka kemudian memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan ini menjadi sekitar 50%, dari sebelumnya sekitar 63%.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS dan Arah Suku Bunga The Fed
Perubahan ekspektasi tersebut turut menopang mata uang Asia. Won Korea Selatan menjadi penguat utama dengan kenaikan 0,4%, disusul dolar Taiwan 0,2% dan rupiah sekitar 0,1%.
Meski menguat pada perdagangan hari ini, rupiah masih menjadi salah satu mata uang negara berkembang dengan kinerja terburuk sepanjang 2026. Rupiah tercatat melemah sekitar 5,5% sejak awal tahun.
Di pasar saham Indonesia, indeks acuan justru melemah 0,11% pada perdagangan Jumat. Kinerja tersebut kontras dengan mayoritas bursa Asia yang berada di zona hijau.
Investor kini menunggu data nonfarm payrolls AS yang dirilis Jumat untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Baca Juga: Pasar Asia Rebound Kamis (3/9), Investor Menanti Sinyal The Fed dari Data NFP
Data tenaga kerja tersebut diperkirakan kembali membaik pada Agustus setelah tekanan dari sektor pendidikan pemerintah daerah mereda.














