Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham dan obligasi Asia menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), sementara yen Jepang mempertahankan penguatannya.
Investor menanti rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan komentar pejabat bank sentral untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) bulan ini.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bond (JGB) turun dari level tertingginya, mengikuti pemulihan pasar US Treasury pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan tersebut terjadi menjelang lelang obligasi pemerintah Jepang tenor superpanjang di Tokyo.
Baca Juga: KOSPI Rebound 1,38% Kamis (3/9), Saham Chip Korea Selatan Ikuti Penguatan Wall Street
Di pasar komoditas, harga minyak bergerak turun tipis dari level tinggi seiring ketidakpastian terkait potensi serangan militer baru dalam konflik antara AS dan Iran.
Fokus utama pasar kini tertuju pada laporan tenaga kerja AS atau nonfarm payrolls (NFP) yang akan dirilis Jumat (4/9/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan dipertimbangkan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Perhatian pasar juga tertuju pada pidato Gubernur The Fed Christopher Waller. Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams memberikan sinyal yang cenderung meredam ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan ini.
"Jika perang ini dapat segera diakhiri, hal itu tentu akan menjadi sesuatu yang sangat positif untuk membawa imbal hasil turun secara keseluruhan," kata Gavin Friend, senior markets strategist di NAB, dalam sebuah podcast.
Menurut Friend, berakhirnya konflik akan meredakan tekanan di pasar dan memungkinkan bank sentral kembali fokus pada pertimbangan kebijakan moneter normal.
Baca Juga: Nikkei Jepang Bergerak Fluktuatif Kamis (3/9), Saham Semikonduktor Tertekan Broadcom
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5%, setelah pasar saham AS ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (2/9/2026).
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun 0,05% menjadi 99,54. Euro naik tipis 0,02% menjadi US$1,1589.
Sementara itu, yen menguat 0,07% menjadi 158,59 per dolar AS, setelah melonjak 0,9% pada perdagangan sebelumnya.
Imbal hasil US Treasury juga turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, kenaikan biaya pinjaman di sejumlah negara ekonomi utama meningkatkan kekhawatiran mengenai pengetatan kebijakan moneter dan memburuknya kondisi fiskal.
Yield US Treasury tenor 10 tahun turun 0,99 basis poin menjadi 4,784%. Di Jepang, yield JGB tenor 30 tahun merosot 10 basis poin menjadi 4,065%, setelah sebelumnya mendekati rekor tertinggi.
Investor masih mencermati perkembangan di Timur Tengah setelah AS dan Iran terlibat dalam serangkaian serangan terbesar sejak Juli. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Harga minyak mentah AS turun 0,3% menjadi US$90,74 per barel. Harga minyak Brent juga turun 0,44% menjadi US$95,21 per barel.
Sementara itu, harga emas spot naik 0,32% menjadi US$4.400,47 per ons troi. Harga perak spot juga menguat 0,51% menjadi US$65,65 per ons troi.
Baca Juga: Aktivitas Jasa China Menguat pada Agustus, Permintaan Domestik Jadi Penopang
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat
Pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang sekitar dua pertiga untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini.
Ekspektasi tersebut meningkat signifikan dibandingkan sekitar 37% pada pekan sebelumnya.
Presiden The Fed New York John Williams mengatakan pada Rabu (2/9) bahwa kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang mencerminkan kondisi ekonomi yang solid.
Namun, dia menegaskan masih mengumpulkan informasi sebelum menentukan keputusan kebijakan moneter berikutnya.
Pasar kini menunggu laporan NFP yang akan dirilis Jumat, setelah laporan ADP National Employment Report menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Baca Juga: Tencent Music Terbitkan Obligasi Dolar, Ini Rencana Penggunaan Dananya
Selain kebijakan The Fed, investor juga akan mencermati pertemuan European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BOJ).
Pasar akan menilai sejauh mana bank-bank sentral utama bersedia memperketat kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi yang masih bertahan.
Dari Jepang, data yang dirilis Kamis menunjukkan sektor jasa tumbuh pada laju tercepat dalam lima bulan pada Agustus. Kondisi tersebut memperkuat indikasi bahwa ekonomi Jepang cukup kuat untuk menghadapi potensi kenaikan suku bunga BOJ.
Di pasar Eropa, kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,02%, futures DAX Jerman melemah 0,01%, sedangkan futures FTSE Inggris turun 0,1%.
Sementara itu, futures S&P 500 AS cenderung datar di level 7.676,3.














