kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.955   -37,00   -0,21%
  • IDX 5.993   -16,10   -0,27%
  • KOMPAS100 771   -2,44   -0,32%
  • LQ45 590   -1,99   -0,34%
  • ISSI 208   -0,28   -0,14%
  • IDX30 327   -0,73   -0,22%
  • IDXHIDIV20 420   0,60   0,14%
  • IDX80 88   -0,23   -0,26%
  • IDXV30 114   0,35   0,30%
  • IDXQ30 107   -0,20   -0,18%

Harga Minyak Brent Naik ke US$102,60 Jumat (2/10), China Batasi Ekspor BBM


Jumat, 02 Oktober 2026 / 08:25 WIB
Harga Minyak Brent Naik ke US$102,60 Jumat (2/10), China Batasi Ekspor BBM
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Todd Korol)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah bergerak naik tipis pada perdagangan Jumat (2/10/2026), setelah China membatasi ekspor bahan bakar dan muncul laporan Amerika Serikat (AS) akan menambah pasukan serta kapal induk ke Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 29 sen atau 0,28% menjadi US$102,60 per barel pada pukul 00.22 GMT. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat 27 sen atau 0,29% menjadi US$93,14 per barel.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 3% Sepekan, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan harga pada perdagangan Kamis (1/10).

Harga Brent ditutup naik lebih dari US$4 per barel, sedangkan WTI menguat lebih dari US$2 setelah laporan mengenai rencana pengerahan militer AS dan pembatasan ekspor bahan bakar China memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Namun, harga Brent masih berada di jalur mencatat penurunan sekitar 1,93% sepanjang pekan. Pada September, Brent sebelumnya telah melonjak sekitar 14%.

Sementara itu, WTI hanya menguat sekitar 4% sepanjang September.

"Pasar sedang mencermati serangkaian sinyal yang sangat beragam pekan ini," kata Tim Waterer, kepala analis KCM Trade.

Menurut dia, setelah pergerakan harga yang cukup besar pada Kamis, pelaku pasar kini cenderung mengambil jeda untuk menilai kembali perkembangan terbaru.

Baca Juga: Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Oktober Merosot, Pasar Bidik Desember

Pasokan China Jadi Perhatian

Salah satu sentimen utama datang dari China yang dilaporkan membatasi ekspor bahan bakar.

Beijing sebelumnya membatasi ekspor bahan bakar pada Maret setelah pecahnya perang AS-Israel dengan Iran.

Pembatasan tersebut kemudian dilonggarkan pada Juli, sementara pengiriman diesel, bensin dan bahan bakar jet dikelola secara bulanan.

China memasuki periode libur selama sepekan sejak Kamis. Namun, sumber mengatakan kilang-kilang besar di negara tersebut belum mendapatkan izin untuk mengekspor bahan bakar ke wilayah selain Hong Kong dan Makau pada Oktober.

Belum diketahui apakah Beijing akan kembali memberikan izin ekspor setelah masa libur berakhir pada 7 Oktober.

Pembatasan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan bahan bakar global, terutama ketika pasar energi masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Arab Saudi Tuding Houthi Serang Gardu Listrik Dekat Masjid Nabawi

AS Tekan Eropa Lepas Cadangan Diesel

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan meminta Jerman dan Prancis mengurangi persediaan diesel darurat untuk membantu meredakan lonjakan harga bahan bakar global.

Reuters melaporkan, mengutip tiga sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan meminta negara-negara Uni Eropa (UE) melepaskan 120 juta barel diesel selama enam bulan.

Negara-negara UE saat ini memiliki hampir 109 juta ton cadangan darurat minyak mentah dan bahan bakar.

Mukesh Sahdev, kepala analis minyak di XAnalysts, mengatakan tekanan AS terhadap negara-negara Eropa untuk melepas cadangan minyak turut menahan kenaikan harga.

"Tekanan AS terhadap negara-negara UE untuk melepas minyak juga menambah faktor yang menahan harga," ujar Sahdev.

Baca Juga: Inflasi Inti Tokyo Naik 2,7%, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Menguat

Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Risiko

Pasar minyak juga mencermati laporan bahwa AS akan mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 tambahan pasukan ke Timur Tengah.

Wall Street Journal melaporkan langkah tersebut dilakukan ketika Trump mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan sela AS.

"Sekarang saya harus mengambil keputusan. Mereka akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Perkembangan geopolitik tersebut membuat pelaku pasar harus menimbang dua arah risiko sekaligus. Di satu sisi, potensi gangguan pasokan akibat eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak. Di sisi lain, pelepasan cadangan bahan bakar dan membaiknya ekspor Saudi dapat menambah pasokan ke pasar.

Tim Waterer mengatakan membaiknya prospek ekspor Arab Saudi saat ini diimbangi laporan mengenai tambahan kapal induk AS menuju kawasan Teluk serta keputusan China membatasi ekspor produk olahan minyak.

Baca Juga: Jadwal Indonesia di Asian Games 2026, Jumat (2/10): Ada Banyak Peluang Medali




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×