Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Inflasi inti di Tokyo, Jepang, meningkat pada September 2026. Perkembangan ini memperkuat tekanan bagi Bank of Japan (BOJ) untuk melanjutkan kenaikan suku bunga guna menjaga inflasi agar tidak melampaui target.
Mengutip Reuters, Jumat (2/10/2026), indeks harga konsumen (CPI) inti Tokyo yang tidak memasukkan harga makanan segar, tetapi masih memperhitungkan biaya bahan bakar, naik 2,7% secara tahunan (year on year/YoY) pada September.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan kenaikan 1,8% pada Agustus sekaligus melampaui median proyeksi pasar sebesar 2,4%.
Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Melandai Jadi 2,9% pada September 2026
Data inflasi Tokyo menjadi perhatian karena kerap digunakan sebagai indikator awal untuk melihat perkembangan inflasi secara nasional.
Data tersebut juga akan menjadi salah satu pertimbangan BOJ dalam menyusun proyeksi inflasi terbaru pada rapat kebijakan moneter 29–30 Oktober mendatang.
Tekanan harga terlihat lebih kuat pada indikator yang tidak memasukkan harga makanan segar dan bahan bakar. Indeks tersebut naik 3% YoY pada September, meningkat dari 2% pada Agustus.
Indikator ini menjadi salah satu ukuran yang diperhatikan BOJ untuk melihat tren inflasi yang lebih mendasar.
Sebelumnya, subsidi bahan bakar dari pemerintah membantu menjaga inflasi inti konsumen di bawah target BOJ. Namun, lonjakan inflasi pada tingkat grosir belakangan ini menunjukkan tekanan harga mulai meningkat.
Baca Juga: Jadwal Indonesia di Asian Games 2026, Jumat (2/10): Ada Banyak Peluang Medali
Tekanan tersebut antara lain dipengaruhi konflik di Timur Tengah, pelemahan yen, serta kuatnya permintaan yang berkaitan dengan industri kecerdasan buatan (AI).
BOJ telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada bulan lalu. Gubernur BOJ juga mengisyaratkan bahwa bank sentral Jepang telah memasuki fase baru yang berfokus pada pencegahan inflasi agar tidak bergerak terlalu jauh di atas target.
Perkembangan inflasi terbaru di Tokyo dengan demikian menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah kebijakan BOJ dalam beberapa bulan mendatang.














