Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali melemah pada perdagangan Jumat (2/10/2026), tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Investor kini menanti rilis data tenaga kerja AS untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Oktober Merosot, Pasar Bidik Desember
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$4.161,58 per ons troi pada pukul 00.31 GMT. Dengan pergerakan tersebut, harga emas telah melemah sekitar 3% sepanjang pekan dan berada di jalur menuju penurunan mingguan kedua secara beruntun.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,3% menjadi US$4.191,10 per ons troi.
Tekanan terhadap emas datang dari penguatan dolar AS yang berada di jalur mencatat kenaikan mingguan. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun pada Kamis (1/10) mencapai level tertinggi sejak 2002.
Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketika tingkat imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, daya tarik relatif emas cenderung tertekan.
Baca Juga: Arab Saudi Tuding Houthi Serang Gardu Listrik Dekat Masjid Nabawi
Pasar Tunggu Data Payrolls AS
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) AS September, yang dijadwalkan dirilis Jumat pukul 12.30 GMT atau sekitar 19.30 WIB.
Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Sebelumnya, dua pejabat senior The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral AS tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Pernyataan tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bulan ini menurun.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hanya sekitar 25%, turun dari sekitar 70% pada awal pekan. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di sekitar 79%.
Data ekonomi terbaru juga menunjukkan tekanan inflasi AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Agustus. Tekanan harga pada bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Di sisi tenaga kerja, klaim baru tunjangan pengangguran AS pekan lalu bergerak mendekati level terendah dalam 57 tahun. Jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) juga menurun pada September, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil.
Perkembangan tersebut menjadi penting karena data tenaga kerja yang kuat dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih ketat guna mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Negara Masih Dilanda Kesulitan Pangan, Kim Jong Un Diprediksi Obesitas
Logam Mulia Lain
Pergerakan negatif juga terjadi pada sebagian besar logam mulia lainnya.
Harga perak spot turun 0,2% menjadi US$60,71 per ons troi. Platinum melemah 0,3% menjadi US$1.718,80 per ons troi.
Sementara itu, harga paladium bergerak berlawanan arah dengan naik 0,6% menjadi US$1.177,80 per ons troi.














