Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan awal pekan, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat serta meredanya harga minyak global. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap prospek terobosan dalam negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada perdagangan spot, harga emas tercatat naik 1,1% menjadi US$4.560,09 per troy ounce pada pukul 02.19 GMT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga menguat 0,9% ke level US$4.562,10 per troy ounce.
Pelemahan dolar AS turut menjadi faktor pendorong utama, karena membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.
Seorang analis pasar senior dari KCM Trade, Tim Waterer, menyampaikan bahwa sentimen pasar banyak dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi AS–Iran yang berdampak pada pergerakan harga energi dan inflasi.
Baca Juga: Kapal Pengangkut Minyak dan LNG Tinggalkan Hormuz, Berlayar ke Pakistan dan China
“Trump telah meningkatkan harapan pasar terhadap semacam kesepakatan dengan Iran, yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Prospek ini menekan harga minyak dan pada akhirnya memberikan dorongan positif bagi emas dari sisi inflasi,” ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menyatakan bahwa ia telah menginstruksikan para perwakilannya untuk tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan dengan Iran. Pernyataan ini muncul di tengah upaya pemerintahannya meredam ekspektasi terhadap terobosan cepat dalam konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Namun sehari sebelumnya, Trump menyebut bahwa Washington dan Iran telah “secara garis besar merundingkan” sebuah nota kesepahaman untuk kesepakatan damai yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Harga minyak global sendiri turun ke level terendah dalam dua minggu pada awal pekan, seiring optimisme bahwa AS dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan damai, meskipun kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan dalam sejumlah isu utama.
Baca Juga: Tokoh Pendiri 7-Eleven Toshifumi Suzuki Wafat pada Usia 93 Tahun
Pergerakan harga minyak memiliki pengaruh besar terhadap ekspektasi inflasi global. Kenaikan harga minyak mentah dapat mendorong inflasi dan membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Di sisi lain, emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai inflasi cenderung tertekan ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Dari sisi kebijakan moneter, Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve AS pada Jumat lalu di tengah situasi ekonomi yang menantang, termasuk lonjakan harga bahan bakar yang terkait konflik Iran yang turut menekan sentimen konsumen dan mendorong inflasi.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan signifikan. Harga perak spot naik 3,1% menjadi US$77,81 per troy ounce, platinum meningkat 2,1% ke US$1.963,30, sementara palladium menguat 2,4% ke level US$1.381,82 per troy ounce.
Secara keseluruhan, pasar komoditas logam mulia diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, arah kebijakan suku bunga AS, serta perkembangan negosiasi damai antara Washington dan Teheran yang berpotensi mengubah lanskap energi global dalam waktu dekat.













