Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin (26/10/2026), bangkit dari level terendah dalam lebih dari tiga bulan pada sesi sebelumnya.
Penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi serta aksi beli saat harga melemah menjadi pendorong penguatan emas menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan ini.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$ 4.020,60 per ons pada pukul 14.09 waktu setempat atau 18.09 GMT. Pada Jumat (23/10/2026), harga emas sempat menyentuh US$ 3.975 per ons, level terendah sejak 20 Juli 2026.
Baca Juga: Simak! Cara Mahasiswa Gen Z Serbia Kalahkan Penguasa 14 Tahun Dalam Pemilu Parlemen
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,8% ke level US$ 4.038,40 per ons.
Ahli strategi pasar senior StoneX Bob Haberkorn mengatakan, koreksi harga minyak mentah turut menopang harga emas. Selain itu, aksi beli investor saat harga melemah atau bargain hunting juga memberikan dukungan bagi logam mulia tersebut.
Menurut Haberkorn, perdagangan emas diperkirakan cenderung terbatas dengan harga bergerak di sekitar level US$ 4.000 per ons hingga pengumuman kebijakan The Fed.
Harga minyak dunia turun setelah melonjak pada pekan lalu, meskipun masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan.
Baca Juga: Cadangan Minyak AS Terendah Sejak 1982, Stok Tersisa 282,6 Juta Barel
Harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut menekan harga minyak dan mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap inflasi.
Namun, pasar masih mewaspadai potensi gangguan pasokan energi yang dapat kembali memicu tekanan harga.
Investor kini menantikan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu (28/10/2026). Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga setelah menaikkannya pada September. Meski demikian, berdasarkan CME FedWatch Tool, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 80%.
Suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan emas. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Baca Juga: Yaman Darurat BBM, 42 Fasilitas Kesehatan Kekurangan Pasokan Medis
Sebaliknya, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat mendukung daya tarik emas bagi investor.
Meski The Fed diperkirakan menahan suku bunga pada pekan ini, kekhawatiran inflasi membuat pelaku pasar menilai jeda kenaikan suku bunga tersebut belum tentu berlangsung lama.
Selain keputusan The Fed, investor akan mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis (29/10/2026).
Indikator tersebut merupakan salah satu ukuran inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Pasar juga mulai memperhitungkan dampak pemilihan paruh waktu AS pada 3 November terhadap kebijakan fiskal dan sentimen investasi.
Analis OCBC dalam catatan risetnya menyatakan, perhatian investor tidak hanya tertuju pada hasil pemilu, tetapi juga implikasinya terhadap kebijakan fiskal, tarif, belanja geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan.
Faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS, nilai tukar dolar AS, dan harga emas.
Baca Juga: Hezbollah Perkuat Persiapan Militer Hadapi Potensi Perang Baru dengan Israel
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,4% menjadi US$ 54,11 per ons. Sebaliknya, harga platinum turun 1,1% ke US$ 1.533,65 per ons, sekaligus menyentuh level terendah sejak November 2025.
Adapun harga paladium naik 0,5% menjadi US$ 1.049,09 per ons. Produsen paladium terbesar di dunia, Nornickel dari Rusia menyatakan, rencana perbaikan besar pada tungku produksinya berpotensi mengurangi produksi sejumlah logam utama perusahaan tersebut pada 2027–2028.














