kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Hezbollah Perkuat Persiapan Militer Hadapi Potensi Perang Baru dengan Israel


Senin, 26 Oktober 2026 / 22:06 WIB
Hezbollah Perkuat Persiapan Militer Hadapi Potensi Perang Baru dengan Israel
ILUSTRASI. Hezbollah memperkuat kesiapan perang melawan Israel setelah menerima puluhan juta dolar AS dari Iran untuk meningkatkan kemampuan militernya. (Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)


Reporter: Handoyo | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIRUT. Kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, dilaporkan meningkatkan kesiapan militernya untuk mengantisipasi kemungkinan pecahnya kembali perang dengan Israel. Persiapan tersebut dilakukan selama tiga bulan terakhir setelah kelompok itu menerima suntikan dana dari Iran.

Sejumlah personel keamanan Lebanon yang mengetahui aktivitas Hezbollah mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok tersebut memanfaatkan meredanya pertempuran untuk memperkuat kemampuan militernya, termasuk pengadaan bahan peledak dan produksi drone yang dapat digunakan untuk menyerang posisi Israel.

Hezbollah didirikan oleh Korps Garda Revolusi Iran pada 1982. Kelompok ini mengalami kerugian besar dalam dua perang melawan Israel sejak 2024. Ribuan pejuangnya tewas, sejumlah pemimpinnya terbunuh, dan sebagian besar persenjataannya hancur.

Pasukan Israel yang melakukan invasi kini menduduki sejumlah desa di Lebanon selatan yang menjadi basis utama Hezbollah. Pada saat bersamaan, tekanan politik di Beirut semakin meningkat agar kelompok tersebut melucuti senjatanya.

Baca Juga: HSBC Pangkas Rekomendasi Saham Global Jadi Netral, Obligasi Pemerintah Jadi Pilihan

Meski menghadapi tekanan tersebut, Hezbollah tetap berkomitmen melawan Israel. Dua sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok itu menggunakan jeda pertempuran sejak Juni untuk memulihkan kekuatan militernya.

Salah satu sumber keamanan dan seorang narasumber yang dekat dengan Hezbollah menyebutkan bahwa kelompok tersebut menerima dana puluhan juta dolar AS dari Iran untuk meningkatkan kemampuan militernya.

Dana itu merupakan tambahan dari sekitar US$ 200 juta yang sebelumnya diterima Hezbollah dari Teheran untuk membantu keluarga-keluarga yang mengungsi di wilayah basis komunitas Syiah. Reuters melaporkan bantuan tersebut pada awal Oktober 2026.

Menurut salah satu sumber dan tiga pejabat keamanan lainnya yang memahami operasi kelompok tersebut, Hezbollah juga tengah membangun kembali struktur komando dan kendali yang rusak akibat pertempuran di sejumlah medan utama.

Menanggapi pertanyaan Reuters, kantor media Hezbollah menyatakan bahwa pendudukan wilayah Lebanon oleh Israel membuat perlawanan terhadap negara tersebut menjadi hak yang sah. Hezbollah juga membantah anggapan bahwa sistem komando dan kendalinya telah mengalami kerusakan.

Militer Israel menolak memberikan komentar. Misi tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa belum segera menanggapi pertanyaan Reuters.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan Washington akan terus menekan keuangan Hezbollah melalui sanksi dan langkah-langkah lainnya. Juru bicara Departemen Keuangan AS menyebut Iran mulai kehabisan uang dan cara untuk memindahkan dana.

Hezbollah Siaga Menghadapi Potensi Eskalasi Konflik

Upaya penguatan militer Hezbollah berlangsung di tengah ketegangan konflik Timur Tengah yang lebih luas, yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026.

Baca Juga: Meta Siapkan Pendanaan hingga US$ 95 Miliar untuk Ekspansi Infrastruktur AI

Hezbollah mulai menembaki sasaran pada 2 Maret untuk mendukung Iran. Tindakan tersebut memicu ofensif Israel yang menewaskan lebih dari 4.000 orang dan memaksa sekitar seperempat populasi Lebanon meninggalkan tempat tinggal mereka. Sebagian besar korban pengungsian berasal dari komunitas Muslim Syiah yang menjadi basis dukungan Hezbollah.

Intensitas pertempuran sebagian besar mereda selama musim panas setelah kesepakatan sementara Iran-AS mencakup gencatan senjata di Lebanon. Washington juga memediasi pembicaraan antara Lebanon dan Israel.

Meski kesepakatan antara AS dan Iran kemudian runtuh, pertempuran skala penuh belum kembali terjadi di Lebanon. Namun, Israel masih melancarkan serangan mematikan di wilayah selatan negara tersebut.

Hezbollah kini meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan eskalasi konflik antara AS dan Iran yang dapat kembali memicu pertempuran di Lebanon.

Sumber-sumber yang berbicara kepada Reuters mengatakan Hezbollah belum sepenuhnya mempersiapkan persediaan persenjataan maupun kekuatan tempurnya.

Kelompok tersebut masih berupaya menambah persediaan militernya. Pada Oktober ini, Hezbollah mengakui bahwa bahan peledak yang disita otoritas Lebanon merupakan miliknya dan dimaksudkan untuk digunakan melawan Israel.

Seorang pejabat Hezbollah dan seorang sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada Reuters bahwa bahan peledak tersebut secara khusus diperuntukkan bagi drone bermuatan bahan peledak.

Perang Jarak Jauh Israel Jadi Tantangan bagi Hezbollah

Selain mengisi kembali persenjataannya, Hezbollah perlu memperbaiki kemampuan komando dan kendali setelah mengalami kerugian di sejumlah medan pertempuran penting.

Wilayah yang menjadi titik pertempuran utama antara lain kota Bint Jbeil dan punggung bukit strategis Ali al-Taher di Lebanon selatan. Informasi tersebut disampaikan salah satu sumber keamanan Lebanon dan tiga pejabat keamanan yang memahami operasi Hezbollah.

Baca Juga: Belanda Targetkan Pangkas 20% Pegawai Negeri dalam 10 Tahun ke Depan

Menurut sumber-sumber tersebut, strategi Hezbollah yang mengandalkan unit-unit kecil serta membatasi penggunaan roket antitank membuat sejumlah unitnya terisolasi di medan pertempuran.

Kondisi itu menyulitkan mereka menghadapi sistem persenjataan Israel yang dioperasikan dari jarak jauh, termasuk drone bersenjata dan kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh serta dilengkapi persenjataan.

Militer Israel mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya menggunakan sistem yang dioperasikan dari jarak jauh untuk memantau Lebanon selatan sekaligus mengurangi risiko terhadap personel militernya.

Hezbollah belum secara terbuka menyatakan apakah kelompok tersebut akan terlibat jika pertempuran baru kembali pecah.

Namun, kantor media Hezbollah menyatakan bahwa kelompok itu berhati-hati agar tidak memberikan alasan kepada para pemimpin Israel untuk meningkatkan eskalasi konflik di Lebanon.

Hezbollah juga mempertimbangkan risiko pengungsian kembali terhadap masyarakat yang menjadi basis dukungannya apabila perang kembali meluas.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×