Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas melemah pada Jumat (6/11/2026) seiring dengan kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Meski demikian, harga emas masih berada di jalur kenaikan mingguan sementara para investor menantikan data ketenagakerjaan penting dari AS yang akan dirilis hari ini.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$ 4.063,39 per ons pada pukul 02.48 GMT, namun secara keseluruhan telah naik 4% sepanjang minggu ini. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 1% menjadi US$ 4.072,90.
Baca Juga: Sri Lanka Hadapi Ujian Ekonomi Baru, Harga Energi dan Beban Utang Membayangi
"Harga minyak mentah telah kembali naik dalam satu hari terakhir, yang menjadi salah satu faktor pemicu inflasi yang menekan harga emas," ujar Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive.
Ia menambahkan, pasar masih mencerna hasil pemilihan umum paruh waktu AS, yang membuat pergerakan harga emas cenderung terbatas dalam fase konsolidasi.
Harga minyak naik lebih dari 1% pada hari Jumat, namun secara mingguan mencatatkan penurunan tajam di tengah ekspektasi meredanya konflik yang melibatkan Iran pasca-pemilihan umum AS.
Di sisi lain, kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai pasokan dari Timur Tengah tetap menopang harga minyak mentah.
Biaya energi yang lebih tinggi dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga di tingkat tinggi untuk waktu yang lebih lama, sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) bagi investor yang memegang emas—aset yang tidak memberikan imbal hasil (bunga).
Pasar-pasar di Asia yang didominasi sektor teknologi anjlok, dipicu oleh kekhawatiran akan pengawasan regulasi yang lebih ketat serta melambatnya pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Sentimen ini memicu penurunan terdalam pada saham-saham AS sejak peristiwa kejatuhan pasar pada April 2025—yang dikenal sebagai "Liberation Day"—akibat kebijakan tarif.
Baca Juga: Risiko Kredit SoftBank Melonjak ke Level Tertinggi dalam 4 Tahun, Ini Pemicunya
Para investor kini menantikan laporan non-farm payrolls AS yang akan dirilis pada pukul 13.30 GMT. Selain itu, Wakil Ketua Federal Reserve (The Fed), Michelle Bowman, dijadwalkan untuk menyampaikan pidato di hari yang sama.
Berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, para pelaku pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sebesar 68% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember.
Pada hari Kamis, dua pejabat The Fed menyatakan perlunya kenaikan suku bunga secara moderat dan stabil untuk mengatasi inflasi yang masih berada di atas target.
Sementara itu, Goldman Sachs pada hari Kamis merevisi turun proyeksi harga emas untuk akhir tahun 2026, dari US$ 4.650 menjadi US$ 4.150 per ons. Penyesuaian ini didasari oleh implikasi dari sikap The Fed yang cenderung lebih hawkish (mendukung kebijakan moneter ketat) dalam beberapa bulan terakhir.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
