Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Hindustan Unilever Ltd memperkirakan tekanan harga komoditas masih berlanjut dalam jangka pendek.
Kenaikan biaya bahan baku ini membayangi kinerja produsen barang konsumsi tersebut, meski permintaan produknya tetap tumbuh dan laba kuartal III-2026 meningkat.
Dalam presentasi kepada investor, perusahaan yang memproduksi sabun Dove itu menyatakan, Inflasi komoditas diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Komoditas Terus Menguat, Laba Emiten Bahan Kimia Melesat
Tekanan biaya juga tercermin dari total pengeluaran Hindustan Unilever yang melonjak 16% pada kuartal yang berakhir 30 September 2026. Kondisi ini menekan margin laba inti perusahaan sebesar 140 basis poin.
Konsultan independen industri barang konsumsi, Akshay D'Souza, mengatakan penurunan margin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi respons pasar terhadap saham perusahaan.
Saham Hindustan Unilever sempat turun hampir 3% pada perdagangan Rabu (28/10/2026), sebelum memangkas sebagian pelemahannya.
Hingga penutupan perdagangan sehari sebelumnya, saham perusahaan itu telah kehilangan sekitar 20% nilainya sejak awal tahun.
Di tengah kenaikan biaya input, perusahaan barang konsumsi global, termasuk Procter & Gamble dan Reckitt, mulai menaikkan harga produk untuk menjaga kinerja bisnis. Gangguan rantai pasok akibat konflik turut memperbesar tekanan biaya tersebut.
Baca Juga: Kenaikan Biaya Bahan Baku Tekan Laba Unilever India, Saham Tertekan 5%
Di India, produsen barang konsumsi juga mengandalkan peluncuran produk dengan harga premium dan perluasan jaringan distribusi untuk mendorong volume penjualan.
Hindustan Unilever mencatat penjualan produk sebesar 173,99 miliar rupee pada kuartal III-2026, naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Volume penjualan tumbuh 7%, sedangkan laba perusahaan meningkat 6% menjadi 28,44 miliar rupee atau sekitar US$ 299,01 juta.
Perusahaan juga memperkirakan kinerja pada tahun fiskal 2027 akan membaik dibandingkan tahun fiskal 2026. Pada tahun fiskal sebelumnya, volume penjualan tumbuh 4%, sementara laba setelah pajak stagnan.
Baca Juga: Harga Komoditas Energi Kompak Turun, Merespons Potensi Kesepakatan AS-Iran
Tekanan biaya komoditas turut menjadi perhatian pelaku industri barang konsumsi India lainnya. Awal bulan ini, Nestle India melaporkan kenaikan laba sebesar 36%, sedangkan Tata Consumer Products membukukan laba yang melampaui ekspektasi pasar.














