Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup naik sekitar 1% karena kekhawatiran baru tentang gangguan pasokan energi tambahan di Timur Tengah akibat pertempuran yang terus berlanjut di Yaman, serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi, dan kekhawatiran AS dapat menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS di minggu depan.
Rabu (28/10/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup naik US$ 1,44 atau 1% menjadi US$ 115,32 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Desember 2026 menguat US$ 2,88 atau 3% ke US$ 102,78 per barel.
Kenaikan harga tersebut mendorong Brent kembali ke wilayah jenuh beli untuk keempat kalinya dalam lima hari.
Baca Juga: Inflasi Tinggi, The Fed Tetap Pertahankan Suku Bung di Kisaran 3,75%-4%
Kelompok Houthi Yaman menyerang bandara Aden pada hari Rabu, kata pasukan pemerintah Yaman, setelah kelompok yang bersekutu dengan Iran itu memperingatkan warga untuk mengevakuasi fasilitas tersebut karena pertempuran meningkat di negara miskin yang terjebak dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas.
Pada hari Selasa (27/10/2026), Houthi mengatakan telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi dengan rudal, mengintensifkan serangan terhadap produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS.
Otoritas Saudi tidak segera mengkonfirmasi serangan terhadap fasilitas berkapasitas 550.000 barel per hari tersebut.
“Harga minyak mentah berjangka sekali lagi mencerminkan pasokan yang lebih ketat dalam jangka pendek karena berita bahwa AS kemungkinan akan segera memulai kembali operasi militer, yang bisa lebih intens daripada sebelumnya mengingat serangan terbaru terhadap Arab Saudi dan sekutu Timur Tengah lainnya,” kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di perusahaan jasa keuangan AS BOK Financial, dalam sebuah catatan.
Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa analis mengatakan serangan AS yang diperbarui terhadap Iran dapat terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Dengan harapan mengakhiri konflik yang kini telah berlangsung selama delapan bulan, mediator Qatar telah mengajukan rancangan kesepakatan baru kepada Iran untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel, menurut sebuah laporan resmi tentang negosiasi tersebut.
Baca Juga: Tabrakan Kereta Cepat, Korban Tewas Bertambah Jadi 68 Orang, Puluhan Orang Luka-Luka
Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan Doha hanya mengajukan ide-ide yang tidak dapat diterima dan bukan merupakan tawaran.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa Teheran terus memberi kesempatan kepada diplomasi untuk berhasil dan mengemukakan kemungkinan rencana tujuh hari yang diusulkan oleh Teheran dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari seminggu jika diimplementasikan.
Qatar, bersama dengan Pakistan, telah memimpin mediasi untuk mengakhiri perang, yang telah mengganggu pengiriman global dan pasokan minyak serta telah menyebar ke Arab Saudi dan Yaman.
SIMPANAN MINYAK AS
Faktor lain yang mendukung harga minyak mentah adalah laporan federal AS yang menunjukkan penurunan persediaan yang mengejutkan.
Administrasi Informasi Energi AS mengatakan pada hari Rabu bahwa perusahaan energi menarik 1,9 juta barel minyak mentah dari penyimpanan selama pekan yang berakhir pada 23 Oktober.
Itu adalah penarikan yang mengejutkan dibandingkan dengan penambahan 15.000 barel yang diperkirakan analis dalam jajak pendapat Reuters, dan sejalan dengan penurunan 2 juta barel yang terlihat dalam data dari American Petroleum Institute pada hari Selasa, menurut sumber.
Sementara itu, China mengeluarkan kuota ekspor bahan bakar gelombang keempat untuk bensin, solar, dan bahan bakar jet, penerbitan tambahan yang jarang terjadi yang menyelaraskan total tahun 2026 dengan tahun 2025 meskipun ada pembatasan sebelumnya pada tahun ini, kata tiga orang yang mengetahui masalah tersebut pada hari Rabu.
Baca Juga: Pernyataan Hasil FOMC Bank Sentral AS (The Fed) 28 Oktober 2026
Ke depan, pasar menantikan pertemuan industri pada hari Minggu, di mana produsen minyak OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan target produksi minyak Desember mereka tetap stabil, kata orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Produksi di sebagian besar dari tujuh anggota inti OPEC+, Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, berada di bawah target produksi mereka. OPEC+ mencakup OPEC dan sekutu seperti Rusia.
Ekspor minyak mentah dari pelabuhan Baltik dan Laut Hitam Rusia dapat turun bulan depan karena kilang domestik meningkatkan produksi diesel setelah kesepakatan dengan Washington bulan ini, kata para pedagang.














