CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Harga Minyak Ditutup Melemah: Brent dan WTI Tetap Bertahan di Atas US$ 100 Per Barel


Sabtu, 12 September 2026 / 06:05 WIB
Harga Minyak Ditutup Melemah: Brent dan WTI Tetap Bertahan di Atas US$ 100 Per Barel
ILUSTRASI. Harga minyak Brent dan WTI ditutup melemah lebih dari 2% pada Jumat (11/9) dan membuat harga minyak acuan naik lebih dari 8% sepanjang minggu ini (REUTERS/Todd Korol)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak anjlok pada hari Jumat namun tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan lebih dari 8%. Sementara, harga diesel di Amerika Serikat (AS) mencapai rekor tertinggi seiring serangan di sepanjang jalur pelayaran Timur Tengah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Jumat (11/9/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup melemah US$ 3,02 atau 2,81% ke US$ 104,61 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 ditutup melemah US$ 2,43 atau 2,37% menjadi US$ 100,05 per barel.

Selama sesi perdagangan, kedua harga acuan tersebut sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei 2026.

Baca Juga: Wall Street Reli: S&P 500, Nasdaq dan Dow Kompak Menguat Disokong Data Inflasi AS

Kedua harga minyak mentah acuan berbalik turun setelah sebelumnya sempat menguat, menyusul laporan Financial Times bahwa para menteri luar negeri di Timur Tengah sedang berupaya menyusun kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengatur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Pada hari Kamis, Brent dan WTI sempat naik lebih dari 6% setelah adanya eskalasi serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.

Namun pada hari Jumat, para pedagang mulai mengevaluasi kembali risiko yang ada.

"Faktor-faktor yang memicu kepanikan kemarin kini mulai mereda hari ini," ujar Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. "Pertanyaannya adalah, akankah pasar tetap tenang selama akhir pekan? Biasanya saat itulah berbagai peristiwa terjadi."

Laporan mengenai pembicaraan terkait masa depan Selat Hormuz memberikan dampak terbesar terhadap sentimen pasar. "Berita utama mengenai kemungkinan adanya pembicaraan baru di Timur Tengah sedikit menekan harga minyak hari ini," ujar analis energi UBS, Giovanni Staunovo.

"Saya masih melihat adanya risiko kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, namun kita juga harus mengantisipasi volatilitas harga yang tetap tinggi."

Dalam perkembangan terbaru bagi Riyadh, citra satelit pada hari Kamis memperlihatkan kepulan asap di sekitar Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) Arab Saudi—jalur vital yang memungkinkan kerajaan tersebut mengalihkan ekspor minyak mentahnya agar tidak bergantung pada Selat Hormuz.

Harga minyak tetap berada di level rendah seiring munculnya laporan bahwa sebuah stasiun pompa pada jalur pipa tersebut rusak akibat serangan militan yang berafiliasi dengan Iran.

"Sungguh mengejutkan bahwa pasar minyak tetap melemah di tengah laporan serangan pemberontak Houthi terhadap Pipa Timur-Barat, yang berdampak pada aliran 7 juta barel minyak mentah," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

"Memperbaiki stasiun pompa jauh lebih rumit dibandingkan memperbaiki kebocoran pada pipa itu sendiri," ujar Lipow. "Sistem kelistrikan maupun sistem pemompaan harus diperbaiki."

Baca Juga: Harga Minyak Berpotensi Makin Panas, Ini Peringatan CEO Chevron

Pasokan minyak mentah Arab Saudi turun sebesar 2,3 juta barel per hari (bph) menjadi 6 juta bph pada bulan Agustus—level terendah dalam lebih dari tiga dekade—menurut data Badan Energi Internasional (IEA) yang dirilis hari Jumat, dengan alasan adanya serangan terhadap fasilitas energi Saudi.

Menambah kekhawatiran terkait arus minyak di kawasan tersebut, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran pada hari Jumat mencapai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb—demikian disampaikan empat sumber pemerintah Yaman kepada Reuters—yang berpotensi memperkuat kendali mereka atas salah satu jalur pelayaran vital dunia.

Di sisi lain, Iran menyatakan, telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz pada hari Rabu, sebagai balasan atas serangan AS terhadap lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran menegaskan akan meningkatkan respons mereka terhadap serangan lebih lanjut.

Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi tujuh unit pada hari Kamis dari 11 unit pada hari sebelumnya, berdasarkan data awal pelacakan kapal yang dirilis hari Jumat.

Sebelum konflik Iran dimulai pada akhir Februari, selat tersebut melayani sekitar 125 kapal pengangkut komoditas serta menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) harian dunia.

Sementara itu, dua pejabat pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa pada hari Jumat membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut jika lonjakan harga energi akibat perang terus berlanjut dan mendorong kenaikan harga-harga lain di zona euro.

GANGGUAN PASOKAN MENDORONG NAIKNYA HARGA BAHAN BAKAR

Gangguan pasokan minyak akibat perang Iran, ditambah dengan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia, telah mendorong rata-rata harga nasional solar di AS melampaui angka $6 per galon untuk pertama kalinya pada hari Kamis, menurut layanan pemantau harga GasBuddy.

"Produk olahan, khususnya solar, saat ini sedang menghadapi pukulan ganda," ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

"Selama kendala pengiriman di kawasan Teluk dan gangguan operasional kilang Rusia masih terjadi, harga solar dan produk olahan lainnya kemungkinan akan menunjukkan kecenderungan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan pasar minyak mentah secara keseluruhan," tambahnya.

Commerzbank menaikkan perkiraan harga minyak mentah Brent untuk akhir tahun menjadi US$ 85 per barel dari sebelumnya US$ 75, sekaligus menaikkan perkiraan harga solar menjadi US$ 1.200 per ton dari US$ 950 dan perkiraan harga bahan bakar jet menjadi US$ 1.230 per ton dari US$ 980.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×