Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak naik lebih dari US$ 1 per barel pada Kamis (22/10/2026) setelah serangkaian serangan oleh kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas serta gangguan lebih lanjut terhadap pasokan dari Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$ 1,93, atau 1,77%, menjadi US$ 110,75 per barel pada pukul 04.42 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,43, atau 1,47%, menjadi US$ 98,58.
Pada hari Rabu, harga Brent ditutup relatif stabil, sementara harga WTI turun 67 sen.
"Harga minyak tetap kuat, dengan ICE Brent kembali ke atas US$ 110 per barel pagi ini menyusul serangan mematikan tambahan di Arab Saudi," tulis analis ING dalam sebuah catatan pada hari Kamis.
Baca Juga: Inilah Pidato Anggota DPR Malaysia Bahasa Jawa Minta Prabowo Serius Tangani Karhutla
Departemen Luar Negeri AS berencana menarik anggota keluarga staf dari sejumlah misi diplomatik AS lainnya di kawasan tersebut, ungkap pejabat AS kepada Reuters.
Kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran melancarkan serangan terhadap beberapa target pada hari Rabu. Sedikitnya satu orang tewas dan delapan lainnya terluka di sebuah bandara sipil di Dammam, sementara dua orang tewas dalam serangan pesawat nirawak (drone) di sebuah ladang minyak Arab Saudi.
Media Iran melaporkan pada hari Rabu bahwa ledakan juga terdengar di Sirik, Iran bagian selatan, namun sifat dan asal ledakan tersebut belum diketahui.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan pada hari Kamis bahwa empat kapal yang terlibat dalam transfer minyak ilegal di bagian utara Teluk Persia terkena serangan secara bersamaan dan terbakar, setelah sebelumnya dilacak oleh pasukan mereka pada hari Rabu.
IRGC menambahkan bahwa tiga kapal lainnya menabrak ranjau di sebelah barat Selat Hormuz, serta memperingatkan militer AS bahwa provokasi yang terus berlanjut dapat memicu respons yang lebih luas terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Gangguan pasokan terus berdampak pada persediaan global.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada hari Rabu bahwa cadangan minyak mentah AS turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu. Angka ini berbeda dengan perkiraan para analis dalam jajak pendapat Reuters, yang memprediksi penurunan sebesar 820.000 barel.
Baca Juga: Bursa Asia Melemah Kamis (22/10), Investor Waspadai Konflik Teluk dan Belanja AI
Data EIA juga menunjukkan bahwa stok distilat—yang mencakup bahan bakar diesel dan minyak pemanas—meningkat 1,68 juta barel menjadi 104,3 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan sebesar 1,16 juta barel.
Departemen Energi AS menyatakan pada hari Rabu bahwa pemerintahan Trump menawarkan untuk meminjamkan hingga hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas AS yang berjumlah 1 juta barel. Langkah ini bertujuan untuk menekan harga yang melonjak akibat kelangkaan bahan bakar diesel di tengah konflik yang melibatkan Iran dan perang di Ukraina.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menerima Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg pada hari Rabu untuk membahas pengakhiran perang di Ukraina. Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya terbaru Washington untuk menghentikan konflik paling berdarah di Eropa sejak Perang Dunia II.
Pihak Kremlin menyatakan bahwa Putin telah setuju untuk melanjutkan kembali perundingan damai dengan Ukraina yang dimediasi oleh AS, paling cepat bulan depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan dukungannya terhadap perundingan tersebut dan berharap pembicaraan dapat dimulai sesegera mungkin.














