Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026), di tengah upaya investor menimbang optimisme laporan keuangan emiten teknologi dengan kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2% dan berpotensi mencatatkan pelemahan selama empat pekan berturut-turut.
Di Jepang, indeks Nikkei berbalik arah dan melemah 0,4%, sedangkan saham Korea Selatan turun lebih dari 1%.
Baca Juga: Jelang Rapat The Fed, Penguatan Dolar AS Mulai Tertahan
Tekanan juga terlihat pada kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS). Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,4% ke level 7.765,8.
Sebelumnya, bursa saham Wall Street ditutup menguat dengan Nasdaq yang didominasi saham teknologi memimpin kenaikan.
Sentimen positif datang dari laporan keuangan sejumlah perusahaan besar yang melampaui ekspektasi pasar, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran mengenai keberlanjutan dan profitabilitas investasi besar-besaran di sektor AI.
SpaceX mencatatkan laba pertamanya sebagai perusahaan publik. Sementara itu, pendapatan Meta Platforms pada kuartal III-2026 melampaui perkiraan analis.
Produsen server AI Super Micro Computer juga memberikan proyeksi pendapatan kuartalan dan margin laba yang lebih tinggi daripada estimasi pasar.
Namun, optimisme tersebut belum cukup kuat untuk menopang bursa Asia. Rencana Meta menerbitkan saham biasa Kelas C tanpa hak suara kembali memicu perhatian investor terhadap besarnya kebutuhan belanja AI dan bagaimana perusahaan teknologi akan membiayai ekspansi tersebut.
Baca Juga: Pajak Kekayaan Miliarder Mengancam, Meta Bikin Skema Khusus untuk Zuckerberg
Analis pasar keuangan senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan investor masih mencerna berbagai laporan keuangan yang dirilis di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Menurut dia, musim laporan keuangan baru memasuki fase utama. Pada saat bersamaan, investor juga harus menghadapi ketidakpastian keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), risiko geopolitik, serta pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Kehati-hatian investor turut tercermin pada pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turun 4,2 basis poin menjadi 5,1065%. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun berada di level terendah dalam sepekan, yakni 5,3968%.
Ketegangan Teluk Dorong Harga Minyak
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi US$ 110,03 per barel, mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS memerintahkan diplomatnya meninggalkan Arab Saudi di tengah serangan kelompok Houthi. The New York Times juga melaporkan bahwa militer AS dan Israel telah menyusun rencana spesifik untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Ketegangan geopolitik tersebut menambah risiko terhadap pasokan energi dan memperkuat kekhawatiran investor mengenai potensi tekanan inflasi. Jika harga minyak bertahan tinggi, bank sentral dapat menghadapi tantangan lebih besar dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Di pasar valuta asing, indeks dollar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun ke level 102,2. Euro bergerak relatif stabil di US$ 1,1231.
Yen Jepang juga cenderung datar di posisi 158,125 per dollar AS setelah Wakil Gubernur Bank of Japan Ryozo Himino memberi sinyal kesiapan untuk menaikkan suku bunga.
Sementara itu, won Korea Selatan bergerak terbatas di level 1.325,9 per dollar AS setelah Bank of Korea mempertahankan suku bunga acuan di 3% pada Kamis.
Baca Juga: Peretas China Diduga Bobol ConnectWise, Sektor Keuangan hingga Energi Dibidik
Harga emas sedikit melemah ke US$ 4.115,50 per ons. Di pasar aset kripto, Bitcoin turun 0,4% menjadi US$ 84.284,05, sedangkan Ether terkoreksi 0,6% ke US$ 2.476,34.
Pergerakan pasar global selanjutnya akan bergantung pada perkembangan laporan keuangan perusahaan teknologi, arah kebijakan suku bunga The Fed, dan eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat investor masih berhati-hati dalam mengambil risiko.














