kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.951   -22,00   -0,12%
  • IDX 5.934   50,22   0,85%
  • KOMPAS100 769   5,57   0,73%
  • LQ45 583   4,63   0,80%
  • ISSI 205   1,52   0,74%
  • IDX30 330   2,78   0,85%
  • IDXHIDIV20 405   3,22   0,80%
  • IDX80 87   0,62   0,71%
  • IDXV30 110   1,21   1,11%
  • IDXQ30 106   1,02   0,97%

Bursa Asia Melesat Kamis (25/6), Micron dan Qualcomm Redakan Kekhawatiran Saham AI


Kamis, 25 Juni 2026 / 08:47 WIB
Bursa Asia Melesat Kamis (25/6), Micron dan Qualcomm Redakan Kekhawatiran Saham AI
ILUSTRASI. Bursa Korsel (Kim Jae-Hwan/SOPA Images via Reuters)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat tajam pada perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah laporan keuangan dan proyeksi bisnis dua raksasa semikonduktor, Micron Technology dan Qualcomm, berhasil meredakan kekhawatiran investor terkait valuasi tinggi saham-saham kecerdasan buatan (AI).

Sentimen positif tersebut mendorong reli di pasar saham teknologi Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,3% pada awal perdagangan.

Baca Juga: Emas Tertekan di Bawah US$4.000 Kamis (25/6), Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Bunga

Sementara itu, indeks Nikkei Jepang melonjak lebih dari 2% dan indeks KOSPI Korea Selatan menguat 5,5%.

Kinerja bursa Asia mengikuti optimisme di Wall Street setelah Micron mengungkapkan bahwa pelanggan telah berkomitmen membeli chip memorinya senilai US$ 22 miliar.

Di sisi lain, Qualcomm memproyeksikan pendapatan bisnis pusat data (data center) mencapai US$ 15 miliar pada 2029.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,5%, sedangkan futures Nasdaq melonjak 1,8%.

Baca Juga: Profil SK Hynix, Pemasok Chip Nvidia yang Bersiap IPO Rp 529 Triliun di Nasdaq

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, laporan keuangan Micron memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan sektor teknologi setelah tekanan jual yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

"Saham teknologi mendapatkan suntikan sentimen positif yang sangat dibutuhkan setelah Micron merilis laporan kinerja keuangannya," ujar Sycamore.

Sebelumnya, pasar sempat dihantui kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan-perusahaan terkait AI telah terlalu mahal setelah mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kekhawatiran tersebut memicu volatilitas tinggi dan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi.

Meski demikian, sejumlah analis masih meragukan reli saham AI dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Baca Juga: Industri Pertahanan AS Didesak Mode Perang, Anggaran US$ 1,15 Triliun Disiapkan

Chief Market Strategist ATFX Global Nick Twidale menilai, hasil kinerja Micron memang menjadi katalis positif bagi sektor teknologi. Namun, ia memperkirakan isu valuasi akan tetap menjadi faktor yang membatasi penguatan lebih lanjut.

"Ini merupakan kabar positif dari Micron, tetapi saya tidak yakin euforia tersebut akan bertahan lama di seluruh sektor karena kekhawatiran valuasi masih akan membebani sentimen pasar," katanya.

Di pasar komoditas, harga minyak melanjutkan penurunan setelah sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan mulai keluar dari Selat Hormuz menyusul kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Harga minyak mentah Brent turun 0,5% menjadi US$ 73,34 per barel dan semakin mendekati level sebelum konflik terjadi. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,38% menjadi US$ 70,07 per barel.

Turunnya harga minyak berpotensi membantu meredakan tekanan inflasi. Namun, inflasi yang masih relatif tinggi diperkirakan tetap mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

Baca Juga: Jalur Inggris ke Final Piala Dunia 2026 Jika Lolos sebagai Runner-up Grup L

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu setempat.

Indikator inflasi favorit The Fed tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi inti naik 0,3% secara bulanan atau 3,4% secara tahunan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga turut menopang penguatan dolar AS. Mata uang Jepang, yen, kembali tertekan mendekati level terlemah dalam 40 tahun terakhir dan meningkatkan spekulasi intervensi pemerintah Jepang.

Yen terakhir diperdagangkan di level 161,73 per dolar AS, tidak jauh dari titik terendah yang dicapai pekan lalu. Jika menembus level 161,96 per dolar AS, yen akan berada pada posisi terlemah sejak 1986.

Sementara itu, indeks dolar AS bertahan di level 101,6 setelah sebelumnya menyentuh 101,8, level tertinggi sejak Mei 2025.

Baca Juga: Daftar 15 Transfer Pemain Afrika Termahal, Yan Diomande Siap Pecahkan Rekor

Penguatan dolar juga menekan harga emas dunia. Harga emas spot bertahan di sekitar US$ 3.990 per ons troi setelah sempat turun di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kalinya sepanjang tahun 2026.




TERBARU

[X]
×