Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia melemah pada Rabu (5/2/2026) seiring kekhawatiran investor terhadap melonjaknya biaya investasi kecerdasan buatan (AI) yang terus membebani sektor teknologi global.
Sentimen negatif ini muncul di tengah aksi jual saham teknologi dunia, meski kontrak berjangka Wall Street mulai menunjukkan upaya pemulihan didorong oleh penguatan saham penyedia chip.
Di Asia, indeks MSCI saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 1%. Bursa Korea Selatan KOSPI merosot 1,7%, sementara saham Taiwan melemah 0,7%. Indeks Nikkei Jepang relatif datar.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 1% Kamis (5/2) Pagi: Brent ke US$68,47 & WTI ke US$64,23
Saham unggulan China turun 0,7%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,8%.
Induk Google, Alphabet, melaporkan kinerja keuangan yang solid setelah penutupan perdagangan.
Namun, rencana belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan sebesar US$175 miliar hingga US$185 miliar tahun ini memicu volatilitas saham.
Saham Alphabet sempat anjlok lebih dari 6% sebelum akhirnya ditutup hanya turun 0,4% pada perdagangan setelah jam bursa.
Investor belakangan melakukan rotasi dari saham-saham teknologi raksasa ke saham siklikal di tengah kekhawatiran AI akan mengganggu pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Aksi Jual Saham Software Kian Dalam, Ancaman AI Hapus Hampir US$1 Triliun Nilai Pasar
Aksi jual terbaru, yang dipicu oleh peluncuran alat hukum baru dari model bahasa besar Claude milik Anthropic, telah menghapus sekitar US$830 miliar kapitalisasi pasar sejak 28 Januari.
Tekanan pasar juga diperparah oleh kinerja mengecewakan Advanced Micro Devices (AMD). Saham produsen chip tersebut anjlok 17% dalam perdagangan semalam.
“Lonjakan belanja modal Alphabet benar-benar sangat besar,” ujar analis IG, Tony Sycamore.
Menurutnya, di tengah sensitivitas pasar terhadap valuasi AI dan belanja modal perusahaan teknologi, reaksi negatif sebenarnya berpotensi lebih besar. Namun, sentimen tersebut belum sepenuhnya merembet ke kontrak berjangka Nasdaq.
Permintaan belanja peralatan justru mendorong saham raksasa chip Nvidia naik hampir 2% setelah penutupan perdagangan, memangkas sebagian penurunan 3,4% sebelumnya.
Penguatan Nvidia turut mengangkat kontrak berjangka Nasdaq 0,6% dan S&P 500 sebesar 0,4%.
Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan Amazon yang akan dirilis kemudian hari, serta keputusan kebijakan moneter Bank of England dan Bank Sentral Eropa (ECB), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 1% Kamis (5/2) Pagi, Ditopang Ketegangan Geopolitik
Yen Melemah Jelang Pemilu Jepang
Nilai tukar yen Jepang mencatat penurunan untuk hari keempat berturut-turut menjelang pemilihan umum pada Minggu.
Jajak pendapat menunjukkan kemenangan telak bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang mendukung kebijakan belanja besar dan memicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang.
Dolar AS stabil di level 156,93 yen, setelah sebelumnya menguat sekitar 3% dari posisi terendah 152,1 yen akibat spekulasi intervensi suku bunga oleh Federal Reserve New York.
Baca Juga: Alphabet Siap Gandakan Capex 2026, Dorong Ekspansi AI dan Cloud
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun stabil di 4,2715%. Rilis data nonfarm payrolls AS untuk Januari ditunda dari jadwal semula Jumat menjadi 11 Februari akibat penutupan sebagian pemerintahan AS selama empat hari yang kini telah berakhir.
Harga minyak dunia turun setelah mencatat kenaikan dua hari berturut-turut, menyusul kesepakatan Amerika Serikat dan Iran untuk menggelar perundingan di Oman pada Jumat.
Minyak mentah WTI AS turun 1,4% menjadi US$64,23 per barel, sementara Brent juga turun 1,4% ke US$68,47 per barel.
Sementara itu, harga emas dan perak menguat tipis pada awal perdagangan Asia setelah anjlok tajam pekan lalu dari level tertingginya.
Harga emas naik 0,3% ke US$4.976 per ons, sedangkan perak menguat 0,2% ke US$88,20 per ons.













