kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.068   8,00   0,04%
  • IDX 5.402   74,01   1,39%
  • KOMPAS100 698   11,42   1,66%
  • LQ45 543   7,74   1,44%
  • ISSI 185   3,62   1,99%
  • IDX30 305   3,90   1,30%
  • IDXHIDIV20 397   3,72   0,95%
  • IDX80 80   1,33   1,68%
  • IDXV30 111   1,20   1,10%
  • IDXQ30 101   1,35   1,36%

Jelang Rapat The Fed, Penguatan Dolar AS Mulai Tertahan


Kamis, 22 Oktober 2026 / 09:26 WIB
Jelang Rapat The Fed, Penguatan Dolar AS Mulai Tertahan
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Penguatan sejumlah mata uang utama terhadap dolar AS mulai tertahan pada Kamis (22/10), seiring investor bersikap hati-hati menjelang rangkaian rapat bank sentral pekan depan.

Pasar memperkirakan bank sentral di Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Eropa akan mempertahankan suku bunga dengan nada kebijakan yang cenderung hawkish.

Pergerakan ini terjadi setelah dolar AS mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Pajak Kekayaan Miliarder Mengancam, Meta Bikin Skema Khusus untuk Zuckerberg

Sebelumnya, investor cenderung mempertahankan posisi beli dolar dengan asumsi bahwa lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) akan menopang pertumbuhan ekonomi AS dan membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Namun, penguatan pound sterling serta mata uang Kanada, Australia, dan Selandia Baru dalam beberapa pekan terakhir mengindikasikan sebagian investor mulai mengurangi taruhan terhadap dolar AS. Meski demikian, pergerakan pasar valuta asing pada Kamis relatif terbatas.

Pound sterling bertahan di level US$ 1,33955 setelah sempat menyentuh US$ 1,3409 pada awal pekan, level tertinggi dalam sebulan. Penguatan pound antara lain didukung oleh inflasi Inggris yang lebih tinggi daripada perkiraan.

Dolar Australia juga bertahan di atas US$ 0,70, tepatnya di level US$ 0,7025, setelah mencapai posisi tertinggi dalam tiga pekan pada Rabu (21/10).

Baca Juga: Harga CPO Diprediksi Bertahan di Atas US$ 1.128 per Ton pada November 2026

Sementara itu, dolar Selandia Baru menguat ke US$ 0,5709, level tertinggi dalam sebulan, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral negara tersebut pada pekan depan.

Tekanan inflasi juga menjadi perhatian di Australia. Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia Andrew Hauser mengatakan prospek inflasi terlihat jauh lebih buruk, antara lain akibat tingginya harga minyak.

Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan taruhan bahwa kenaikan suku bunga Australia berikutnya bisa terjadi paling cepat bulan depan.

Dolar Kanada turut mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Canada pada pekan depan. Mata uang tersebut bertahan di dekat level terkuat dalam sebulan, yakni 1,4032 dolar Kanada per dolar AS.

Baca Juga: Barcelona Laporkan PSG ke UEFA, Tifo Gergaji Mesin Picu Kontroversi

Di sisi lain, euro dan yen Jepang bergerak dalam rentang terbatas. Yen bertahan di sekitar 158 per dolar AS di tengah risiko intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan mata uang serta ekspektasi kenaikan suku bunga.

Euro masih menghadapi tekanan setelah melemah selama sekitar satu bulan. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan kerentanan pasokan energi Eropa menjadi faktor yang mendorong investor mengambil posisi terhadap pelemahan mata uang tunggal tersebut.

Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2022 pada Rabu (21/10).

Gejolak politik di Prancis, yang sebagian dipicu pemangkasan layanan publik, turut menyoroti sulitnya pemerintah mengendalikan defisit anggaran.

Meski demikian, euro masih bertahan di atas US$ 1,12. Presiden Spectra Markets Brent Donnelly menilai mata uang tersebut menghadapi tekanan yang berimbang antara sentimen negatif dan posisi investor di pasar.

“Euro tidak bisa melemah lebih jauh, tetapi juga tidak bisa menguat,” ujar Donnelly, menggambarkan kebuntuan pergerakan euro di tengah tarik-menarik sentimen pasar.

Baca Juga: Meta Digugat di Australia, Facebook dan Instagram Dituding Bikin Anak Kecanduan

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,5% pada pekan depan. Namun, pasar telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Bank sentral Jepang juga diperkirakan menahan suku bunga dalam rapat mendatang, dengan kenaikan menuju 1,5% diproyeksikan terjadi pada awal tahun depan.

Sementara itu, Federal Reserve AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4% dalam rapat Oktober. Namun, pasar masih mengantisipasi kenaikan suku bunga pada Desember.

Dengan agenda bank sentral yang padat, arah dolar AS dan mata uang utama lainnya berpotensi ditentukan oleh sinyal kebijakan moneter pekan depan.

Investor akan mencermati apakah tekanan inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×