kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Pejabat The Fed Yakin Inflasi AS Mulai Mendingin Meski Masih di Atas Target


Rabu, 15 Juli 2026 / 20:20 WIB
Pejabat The Fed Yakin Inflasi AS Mulai Mendingin Meski Masih di Atas Target
ILUSTRASI. Bank Sentral AS (The Fed) (REUTERS/Elizabeth Frantz)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve (The Fed) New York John Williams menilai, inflasi Amerika Serikat (AS) masih berada pada level yang "terlalu tinggi".

Meski begitu, ia optimistis tekanan harga telah mencapai puncaknya dan akan mulai mereda dalam beberapa kuartal mendatang.

Baca Juga: Harga Produsen AS Tak Terduga Turun pada Juni, Sinyal Inflasi Mulai Mereda

Dalam pidatonya di New York pada Rabu (15/7/2026), Williams mengatakan, tingkat inflasi yang saat ini berada di sekitar 4% masih jauh di atas target jangka panjang Federal Open Market Committee (FOMC) sebesar 2%.

"Inflasi jelas masih terlalu tinggi, sekitar 4%, jauh di atas target jangka panjang FOMC sebesar 2%," ujar Williams.

Menurutnya, kebijakan moneter The Fed saat ini berada pada posisi yang tepat untuk mengarahkan inflasi kembali menuju target.

Williams menjelaskan, lonjakan inflasi selama setahun terakhir didorong oleh tiga faktor utama, yakni kenaikan tarif impor, gangguan rantai pasok, lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah, serta tingginya investasi perusahaan dalam teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Ketiga faktor tersebut bersama-sama mendorong kenaikan inflasi selama setahun terakhir. Namun, ada alasan yang menggembirakan untuk memperkirakan inflasi telah mencapai puncaknya dan akan mulai menurun dalam beberapa kuartal ke depan," katanya.

Baca Juga: Buffett Akhiri Donasi ke Gates Foundation, Sebut Bill Gates Sudah Mengetahuinya

Williams memaparkan sejumlah alasan yang mendasari optimismenya.

Menurut dia, dampak kenaikan harga akibat tarif impor sebagian besar telah terjadi, inflasi sektor perumahan diperkirakan terus melandai, harga minyak kemungkinan telah mencapai puncaknya, ketidakseimbangan pasokan dan permintaan akibat pembangunan infrastruktur AI akan berkurang, pasar tenaga kerja tidak lagi menambah tekanan inflasi, serta ekspektasi inflasi masyarakat masih tetap terkendali.

Ia memperkirakan, inflasi secara keseluruhan akan turun menjadi sekitar 3,25% pada akhir 2026, kemudian terus bergerak menuju target 2% pada 2027 dan mencapai sasaran tersebut pada 2028.

Di sisi lain, Williams juga menilai kondisi pasar tenaga kerja AS mulai stabil. Ia memperkirakan tingkat pengangguran secara bertahap turun menjadi 4% pada 2028 dari posisi saat ini 4,2%.

Baca Juga: Dolar AS Bergerak Stabil, Konflik Timur Tengah Imbangi Dampak Inflasi yang Melandai

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan optimistis Williams dalam beberapa pekan terakhir bahwa inflasi akan terus melambat, terutama didukung oleh penurunan harga energi.

Namun, sejak pekan lalu situasi geopolitik kembali memanas setelah konflik di Timur Tengah kembali meningkat. Harga minyak pun melonjak tajam, sehingga berpotensi kembali mendorong kenaikan biaya energi.

Meski demikian, penurunan harga energi pada Juni tetap berhasil mendorong inflasi konsumen AS lebih rendah dari perkiraan. Kondisi tersebut dinilai memberi ruang bagi para pejabat The Fed menjelang rapat kebijakan moneter berikutnya pada 28–29 Juli.

Pada pertemuan bulan lalu, yang merupakan rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, level yang telah berlaku sejak Desember tahun lalu.

Proyeksi terbaru para pembuat kebijakan menunjukkan pandangan yang terbelah.

Baca Juga: Jelang Lawan Argentina, Timnas Inggris Kompak Abaikan Spekulasi di Luar Lapangan

Sebagian pejabat menilai tidak diperlukan kenaikan suku bunga lagi tahun ini, sementara sebagian lainnya masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.

Pelaku pasar juga masih memposisikan diri untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga tersebut.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×