Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Harga minyak turun pada hari ini karena pasar mempertimbangkan perintah eksekutif dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menghapuskan beberapa sanksi dan tarif yang terkait dengan ekspor energi Rusia. Sementara, serangan terhadap Arab Saudi dan Yaman menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah.
Selasa (20/10/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 turun 49 sen atau 0,45% menjadi US$ 109,06 per barel.
Sejelan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026, yang akan berakhir pada hari ini, turun 0,33% menjadi US$ 103,32 per barel. Sementara harga WTI untuk kontrak pengiriman Desember 2026 yang lebih aktif turun 46 sen atau 0,47% ke US$ 98,08 per barel.
Harga minyak Brent naik setinggi US$ 110,70 per barel di sesi sebelumnya, tertinggi sejak 20 Mei.
Baca Juga: National Australia Bank Bakal PHK 2.500 Pekerja di Tahun 2027, Ini Penyebabnya
Perintah eksekutif yang dikeluarkan oleh Trump pada Jumat malam menghapuskan sanksi dan tarif utama AS terkait Rusia, termasuk bea masuk atas barang-barang negara tersebut dan denda atas pembelian minyak dan gas negara tersebut. Namun, Trump mengatakan pada hari Sabtu (17/10/2026) bahwa dia belum mengumumkan keputusan akhir mengenai masalah ini, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan para pejabat memerlukan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi situasi.
Produksi minyak mentah Rusia meningkat 65.000 barel per hari pada bulan September menjadi 8,43 juta barel per hari, namun tetap 870.000 barel per hari di bawah tahun lalu, Badan Energi Internasional mengatakan pekan lalu.
“Sementara prospek tambahan pasokan solar Rusia menawarkan beberapa bantuan teoritis, para pedagang tampaknya jauh lebih fokus pada risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk,” kata Tim Waterer, kepala analis KCM Trade.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman mengatakan pada hari Senin bahwa mereka melakukan beberapa serangan terhadap sasaran energi, bandara dan militer Saudi, termasuk situs Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan bandara Abha. Pihak berwenang Saudi tidak segera mengkonfirmasi klaim tersebut dan Reuters tidak dapat memverifikasinya secara independen.
Sementara itu, 58 orang tewas dan lebih dari 200 orang terluka setelah serangan pada hari Senin oleh Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah di provinsi Shabwa Yaman.
Baca Juga: Elon Musk Mau Bagikan Saham SpaceX ke 70 Juta Anak AS
Serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas regional dan menggarisbawahi risiko berkelanjutan terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap di atas US$ 100 per barel.
Di AS, stok minyak mentah diperkirakan turun pada minggu lalu seiring dengan persediaan produk, menurut jajak pendapat awal Reuters pada hari Senin.














