kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Harga Solar Global Diprediksi Tetap Tinggi Meski Trump Sepakati Pasokan dengan Rusia


Rabu, 21 Oktober 2026 / 18:10 WIB
Harga Solar Global Diprediksi Tetap Tinggi Meski Trump Sepakati Pasokan dengan Rusia
ILUSTRASI. Kesepakatan Trump dan Rusia memasok solar dinilai belum mampu menekan harga BBM karena volume terbatas dan pasokan global masih ketat. (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kesepakatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Rusia untuk memasok bahan bakar diesel atau solar ke pasar global diperkirakan tidak akan banyak menurunkan harga. Pasalnya, volume pasokan yang dijanjikan dinilai terlalu kecil untuk mengatasi ketatnya pasokan diesel dunia.

Mengutip Reuters, Rabu (21/10/2026), sejumlah analis dan pelaku pasar menilai tambahan pasokan dari Rusia belum cukup untuk meredakan tekanan harga secara signifikan.

Apalagi, perang AS-Israel melawan Iran telah mendorong harga diesel melonjak ke level tertinggi, menambah tekanan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November 2026.

Langkah Trump juga menuai kritik karena pelonggaran sanksi terhadap ekspor diesel Rusia berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi Moskow untuk membiayai serangan lebih lanjut ke Ukraina.

Kondisi tersebut dinilai dapat melemahkan upaya negara-negara Barat selama bertahun-tahun untuk membatasi pendapatan energi Rusia, sementara konsumen belum tentu memperoleh manfaat berupa penurunan harga bahan bakar.

Baca Juga: Rusia Kirim 40.000 Ton Solar ke AS, Pengiriman Perdana Dimulai Kamis (22/10)

Trump menyatakan Rusia akan segera mengekspor 300.000 metrik ton diesel atau sekitar 2,25 juta barel. Pasokan tersebut kemudian akan diikuti 500.000 ton pada November dan 1 juta ton setelahnya.

Namun, analis meragukan kemampuan Rusia untuk menyediakan tambahan diesel dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Selain keterbatasan produksi, pasar kapal tanker global yang sedang ketat juga berpotensi menghambat pengiriman sesuai jadwal.

Harga diesel ritel di AS bahkan telah menembus US$ 6 per galon pada September 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah dan bertahan di atas level tersebut sejak saat itu.

Janji Pasokan Besar, Dampak terhadap Harga Terbatas

Kepala kebijakan dan risiko geopolitik Kpler, Michelle Brouhard, memperkirakan pasar membutuhkan tambahan pasokan diesel sekitar 400.000 barel per hari agar harga dapat turun secara berarti dalam kondisi saat ini.

Sementara itu, pengiriman awal Rusia yang mencapai sekitar 2,2 juta barel hanya setara dengan pasokan sekitar 73.000 barel per hari apabila didistribusikan selama satu bulan.

Menurut Brouhard, volume tersebut kemungkinan tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap harga diesel global jika berdiri sendiri.

Senada, ekonom utama perusahaan konsultan Baringa, Caspian Conran, memperkirakan pasar membutuhkan tambahan pasokan sekitar 850.000 barel per hari untuk mendorong penurunan harga dalam waktu dekat.

Pada awalnya, Trump menyebut Rusia akan segera memasok diesel ke AS dan pasar global untuk menekan harga bahan bakar. Namun, ia kemudian menjelaskan bahwa kargo diesel Rusia akan disalurkan ke pasar global, bukan dikirim langsung ke AS.

Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan kesepakatan itu untuk memberikan tambahan pasokan domestik yang sebelumnya dijanjikan pemerintah AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, diesel Rusia pada akhirnya akan tersedia di pasar internasional.

"Solar yang akan dijual Putin akan tersedia di pasar global dengan satu atau lain cara," kata Rubio pada akhir pekan lalu.

"Satu-satunya perbedaan adalah berapa banyak pasokan yang akan diperoleh AS," tambahnya.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menyatakan Trump telah mengumumkan bahwa "sejumlah besar" diesel Rusia akan memasok pasar global dan menurunkan harga di dalam maupun luar negeri.

Baca Juga: Turki Siapkan Mandat Pengerahan Pasukan ke Arab Saudi dalam Pakta Pertahanan

"Presiden Trump terus mengamankan kesepakatan yang menguntungkan, tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi dunia," ujar Rogers.

Kapasitas Kilang Rusia Tertekan, Biaya Pengiriman Meningkat

Kemampuan Rusia untuk meningkatkan ekspor diesel dalam waktu dekat masih belum jelas. Keterbatasan pasokan untuk ekspor dan tingginya ongkos angkutan menjadi hambatan utama.

Data pengiriman pada Selasa menunjukkan sejumlah kargo diesel Rusia mulai kembali menuju negara-negara tujuan tradisional setelah AS menangguhkan sanksi dan mendorong pencabutan larangan ekspor. Setidaknya dua kapal tanker dilaporkan mengarah ke Turki dan Brasil.

Rusia juga kembali melakukan pemuatan diesel untuk ekspor dari pelabuhan Primorsk di Laut Baltik setelah tercapai kesepakatan dengan Washington untuk memasok bahan bakar ke pasar global.

Meski demikian, gangguan ekspor diesel dari Rusia dan Timur Tengah masih membebani pasokan dunia. Gangguan tersebut mencapai 1,3 juta barel per hari pada September 2026, atau sekitar 4,5% dari permintaan global diesel dan gasoil.

Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya memperingatkan bahwa kekurangan pasokan diesel dapat berlanjut hingga 2027.

Mary Melton, analis perusahaan kapal tanker Braemar, mempertanyakan kemampuan kilang Rusia untuk menopang peningkatan ekspor.

"Kami mempertanyakan apakah kilang-kilang Rusia bahkan mampu mendukung peningkatan ekspor, mengingat menurut sejumlah perkiraan, hingga 45% kapasitas pengilangan Rusia saat ini tidak beroperasi," kata Melton.

Dalam catatan risetnya, Energy Policy Research Foundation memperkirakan Rusia harus memproduksi tambahan diesel sekitar 384.000 hingga 509.000 barel per hari untuk memenuhi volume ekspor yang diumumkan, di luar ekspor yang sudah berjalan.

Saat ini, produksi diesel Rusia diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari, sedangkan konsumsi domestiknya sekitar 1,2 juta barel per hari. Dengan selisih yang relatif terbatas, ruang untuk meningkatkan ekspor tanpa menambah produksi menjadi sangat kecil.

Pelaku pasar juga mencatat Rusia saat ini masih mengimpor produk distilat dan belum memiliki kapasitas produksi maupun surplus yang memadai untuk memenuhi seluruh target tambahan ekspor tersebut.

Berakhirnya serangan terhadap fasilitas energi Rusia berpotensi memungkinkan kilang-kilang yang rusak mulai diperbaiki dan kembali memasok pasar internasional. Namun, sejumlah sumber industri menilai pemulihan tersebut kemungkinan tidak terjadi sebelum akhir tahun ini.

Baca Juga: Paus Leo XIV Kembali Pimpin Audiensi di Vatikan Usai Operasi Kanker Paru-Paru

Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia pada pekan sebelumnya, termasuk serangan terhadap fasilitas pengolahan di wilayah Ryazan.

Biaya Angkut dan Risiko Sanksi Jadi Hambatan Tambahan

Selain keterbatasan produksi, kenaikan biaya pengangkutan juga berpotensi menghambat distribusi diesel Rusia. Tarif angkutan minyak dan bahan bakar Rusia meningkat tajam di tengah risiko keamanan yang memburuk di Laut Hitam.

Ketatnya ketersediaan kapal tanker secara global turut meningkatkan biaya pengiriman kargo.

Seorang sumber dari perusahaan pemilik kapal tanker mengatakan, banyak pemilik dan operator kapal kemungkinan enggan mengangkut diesel Rusia. Mereka khawatir calon pelanggan pada masa mendatang akan menghindari kapal yang pernah membawa kargo terkait sanksi.

Meski Trump untuk sementara mencabut sanksi AS, negara-negara Barat lainnya masih mempertahankan pembatasan terhadap Rusia. Situasi ini menambah ketidakpastian bagi perusahaan pelayaran yang mempertimbangkan untuk mengangkut bahan bakar tersebut.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×