Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - LONDON. Badan pengawas energi negara-negara Barat akan bertemu pekan depan untuk menyusun rincian pelepasan cadangan diesel di tengah meningkatnya kebingungan pasar mengenai berapa banyak barel yang rencananya akan disediakan oleh Eropa dan AS untuk mengatasi kekurangan pasokan dan harga yang mencapai rekor tertinggi, menurut sejumlah sumber.
Di bawah tekanan Presiden AS Donald Trump, kelompok tujuh negara ekonomi utama (G7) pada hari Jumat sepakat untuk melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat serta berjanji untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi.
Namun, mereka tidak memberikan rincian mengenai volume minyak mentah, diesel, dan produk lain yang akan dilepas, ataupun menyebutkan negara mana saja yang akan berpartisipasi.
Baca Juga: Defisit Perdagangan AS Melebar pada Agustus 2026, Dipicu Lonjakan Impor
Dewan pengurus Badan Energi Internasional (IEA)—yang memberikan saran kepada negara-negara industri dan mengelola cadangan minyak strategis mereka—diperkirakan akan memutuskan rincian pelepasan cadangan tersebut dalam rapat dewan pada 14-15 Oktober, kata dua orang yang mengetahui masalah tersebut pada hari Selasa.
IEA tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai apa yang diperkirakan akan diputuskan dalam rapat dewan tersebut.
Anggota G7 mencakup AS, Inggris, Jepang, dan Kanada, serta negara-negara UE yaitu Prancis, Jerman, dan Italia.
Salah satu sumber mengatakan bahwa Italia, sebagai anggota G7, akan turut serta dalam pelepasan cadangan tersebut.
Kelompok koordinasi minyak UE akan mengadakan pertemuan pada hari Rabu, kata juru bicara Komisi Eropa pada hari Selasa.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan untuk mengklarifikasi rincian pelepasan cadangan tersebut. Konflik terkait Iran memicu pelepasan cadangan darurat terbesar yang pernah ada—sebanyak 400 juta barel—pada bulan Maret, yang dikoordinasikan oleh IEA.
Baca Juga: Uber Akan Mengakuisisi Platform Katering AS ezCater Senilai US$ 2,3 Miliar
Saat mengumumkan pelepasan cadangan baru tersebut pada hari Jumat lalu, para pemimpin G7 menyatakan akan memperhitungkan komitmen yang telah dipenuhi terkait langkah sebelumnya.
Pada hari Selasa, para pelaku pasar minyak dan sejumlah pejabat pemerintah Uni Eropa berupaya memahami lebih mendalam rincian dari pengumuman hari Jumat tersebut.
Russell Hardy, CEO Vitol, mengatakan dalam sebuah konferensi di London pada hari Selasa bahwa perusahaan perdagangan komoditas tersebut masih berusaha memahami detail mengenai pelepasan cadangan itu.
"Pengumuman tersebut tidak sepenuhnya transparan mengenai apa sebenarnya yang akan dilepaskan dan di mana lokasinya," ujarnya seperti dilansir Reuters, Selasa (6/10/2026).
"Jadi, dalam dua minggu ke depan, kita akan melihat munculnya tender dari berbagai pihak, dan tender-tender tersebut akan memberi tahu kita secara pasti berapa banyak minyak yang akan dilepaskan serta di lokasi mana hal itu akan terjadi."














