kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Investasi Saham Trump Media Babak Belur, Investor Rugi US$ 2,2 Miliar


Jumat, 06 November 2026 / 18:21 WIB
Investasi Saham Trump Media Babak Belur, Investor Rugi US$ 2,2 Miliar
ILUSTRASI. Saham Trump Media anjlok 88,5%, membuat investor merugi lebih dari US$ 2,2 miliar di tengah bisnis media sosial yang stagnan. (Jonathan Raa/NurPhoto via Reuters)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK/LONDON. Investasi saham Trump Media & Technology Group (TMTG), perusahaan media sosial milik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, justru menjadi kerugian besar bagi sejumlah investor yang sebelumnya berharap meraup keuntungan dari kepemimpinan Trump.

Salah satunya adalah Ske Jarzenske, warga Austin, Texas, berusia 52 tahun. Ia telah tiga kali memberikan suara kepada Trump dalam pemilihan presiden AS. Namun, kali ini, dukungannya terhadap Trump juga diwujudkan melalui investasi di perusahaan milik sang presiden.

Jarzenske mengalokasikan sekitar 20% dari total kekayaan bersihnya untuk membeli saham Trump Media. Ia meyakini, kemenangan Trump dalam pemilihan presiden dan kepemimpinannya untuk periode kedua akan memberikan keuntungan finansial.

Namun, harapan tersebut tidak terwujud. Berdasarkan laporan rekening investasi Charles Schwab yang diperlihatkannya kepada Reuters, nilai investasinya kini telah merosot 88,5%. Ia meminta Reuters tidak mengungkapkan nilai nominal investasinya.

Baca Juga: Peretasan Binance US$ 6,3 Miliar Picu Kekhawatiran Baru Industri Asuransi Kripto

Jarzenske merupakan salah satu investor yang menanggung kerugian besar akibat anjloknya saham Trump Media. Berdasarkan estimasi Reuters, investor eksternal perusahaan tersebut secara kolektif telah menanggung kerugian lebih dari US$ 2,2 miliar.

"Ini sangat mengecewakan dan sulit untuk disaksikan," ujar Jarzenske.

Saham Trump Media (DJT.O) terpuruk seiring bisnis media sosial perusahaan yang terus menghabiskan kas, tetapi kesulitan menarik pengguna baru. Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh penurunan tajam nilai investasi perusahaan pada aset kripto.

Bahkan, sejumlah investor yang sebelumnya sangat optimistis terhadap prospek saham tersebut mulai kehilangan harapan ketika harganya menyentuh level terendah sepanjang sejarah.

Estimasi kerugian investor yang dihitung Reuters didasarkan pada kinerja saham yang diterbitkan dan dijual ke pasar oleh Trump Media beserta entitas pendahulunya, termasuk Digital World Acquisition Corp. dan Trump Media & Technology Group. Perhitungan juga mencakup transaksi yang dilakukan oleh pendiri dan jajaran manajemen perusahaan.

Reuters turut menyesuaikan perhitungan dengan memperhitungkan pembelian kembali saham (buyback), serta menggunakan dokumen perusahaan dan catatan pengadilan yang memuat penerbitan dan penjualan saham.

Metodologi tersebut mengacu pada praktik akuntansi mark-to-market yang lazim digunakan manajer investasi untuk menghitung kinerja portofolio. Perhitungan Reuters juga telah ditinjau oleh tiga profesor keuangan yang menilai metode tersebut merupakan pendekatan yang dapat diterima secara umum untuk mengukur keuntungan dan kerugian investor.

Dokumen Trump Media menunjukkan terdapat puluhan transaksi ekuitas sejak 2021 yang menghasilkan dana sebesar US$ 2,7 miliar. Reuters menghitung potensi keuntungan atau kerugian dari setiap penerbitan saham berdasarkan perbandingan antara harga penerbitan dan harga saham saat ini. Total kerugian kemudian disesuaikan dengan dampak pembelian kembali saham.

Menanggapi pertanyaan Reuters, Trump Media menyatakan bahwa perusahaan memiliki neraca keuangan yang kuat dan berfokus menciptakan nilai bagi pemegang saham, termasuk melalui rencana merger dengan TAE Technologies, perusahaan yang bergerak di bidang energi fusi nuklir.

Perusahaan juga membantah keras metodologi perhitungan Reuters.

"Perhitungan Anda yang meragukan dan bias memberikan gambaran keliru mengenai fakta, dinamika pasar, dan laporan publik TMTG," tulis perusahaan tersebut.

Baca Juga: Inflasi AS Masih Tinggi, Pejabat The Fed Tegaskan Target 2%

Penasihat hukum Trump Media, Scott Glabe, dalam surat kepada Reuters menyatakan bahwa jutaan saham perusahaan diperdagangkan setiap hari di pasar modal. Oleh karena itu, menurut dia, informasi mengenai apakah setiap penjual saham memperoleh keuntungan atau justru mengalami kerugian tidak dapat diketahui secara pasti.

Investor Kripto Trump Juga Menanggung Kerugian Besar

Trump dan keluarganya dinilai memiliki pendekatan berbeda dibandingkan presiden-presiden AS sebelumnya dalam memonetisasi loyalitas politik. Mereka menggunakan dukungan terhadap gerakan Make America Great Again (MAGA) sebagai bagian dari promosi berbagai peluang investasi, termasuk saham dan aset kripto.

Trump telah meminjamkan namanya untuk berbagai bisnis, mulai dari perusahaan media sosial, meme coin, hingga sejumlah proyek mata uang kripto.

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa investor dalam empat proyek kripto utama yang didukung keluarga Trump mengalami kerugian gabungan sebesar US$ 2,3 miliar hingga April 2026. Proyek tersebut mencakup meme coin milik Trump, bursa kripto keluarga Trump World Liberty Financial, bisnis penambangan Bitcoin American Bitcoin, serta perusahaan blockchain AI Financial.

Kerugian tersebut terjadi setelah harga token digital yang terkait dengan proyek-proyek tersebut mengalami penurunan tajam.

Kini, pemegang saham Trump Media menghadapi kondisi serupa. Sebagian investor masih mempertahankan dukungannya kepada Trump. Namun, sebagian lainnya mulai mempertanyakan apakah gerakan politik yang mereka dukung melalui suara dan tabungan justru telah meninggalkan mereka dalam kerugian.

Tekanan terhadap investor juga terjadi ketika tingkat persetujuan publik terhadap Trump mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Pada Selasa (3/11/2026), Partai Demokrat juga berhasil menguasai kembali DPR dan Senat AS dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections).

Jajak pendapat Reuters/Ipsos sebelumnya menemukan bahwa mayoritas warga AS menilai kepentingan bisnis Trump, termasuk proyek kripto dan investasi properti, memengaruhi keputusan politiknya setelah kembali menjabat sebagai presiden.

Pandangan tersebut juga muncul di kalangan pendukung Partai Republik. Hampir separuh responden Partai Republik yang disurvei memiliki pandangan serupa, bersama dengan 69% responden independen.

Gedung Putih tidak memberikan tanggapan langsung atas pertanyaan Reuters mengenai persoalan tersebut dan mengarahkan media itu untuk menghubungi Trump Media.

Dokumen pasar modal menunjukkan bahwa Trump dan keluarganya hanya menginvestasikan sedikit atau bahkan tidak mengeluarkan modal pribadi dalam Trump Media. Kondisi serupa juga ditemukan pada sejumlah proyek properti dan empat bisnis kripto utama yang didukung keluarga Trump.

Di tengah kerugian investor ritel, Presiden Trump masih memiliki 114,75 juta saham Trump Media. Saham tersebut diperolehnya tanpa mengeluarkan uang tunai pada 2024, sebagai bagian dari merger Trump Media dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC), Digital World Acquisition.

Dengan harga penutupan saham US$ 4,02 pada Kamis (5/11/2026), nilai kepemilikan saham Trump diperkirakan mencapai sekitar US$ 460 juta. Padahal, ketika saham perusahaan diperdagangkan mendekati harga tertingginya, nilai kepemilikan tersebut sempat mencapai lebih dari US$ 6 miliar.

Jarzenske mengaku masih mendukung Trump. Namun, ia berharap keluarga Trump memberikan perhatian lebih besar kepada para investor yang telah menanamkan uangnya di perusahaan tersebut.

Menurut dia, terdapat ketimpangan antara keuntungan yang diperoleh orang dalam perusahaan dan kerugian yang harus ditanggung investor kecil.

"Keluarga Trump mengatakan bahwa mereka peduli, tetapi menurut saya mereka sudah memiliki begitu banyak uang dan terus menghasilkan lebih banyak uang. Namun, bagaimana dengan masyarakat kecil?" kata Jarzenske.

Baca Juga: Korban Serangan Rusia di Ukraina Bertambah Jadi 53 Orang

Trump Media tidak memberikan tanggapan atas pernyataan Jarzenske tersebut.

Reuters juga mengingatkan bahwa investasi kripto memiliki risiko tinggi, antara lain karena volatilitas harga dan minimnya pengawasan regulasi. Trump Media sendiri telah mengungkapkan berbagai risiko investasi dalam dokumen keterbukaan kepada regulator, termasuk kemungkinan penurunan nilai merek perusahaan apabila popularitas Trump melemah.

Investor Trump Media Mulai Kehilangan Harapan

Reuters mewawancarai lebih dari selusin pemegang saham Trump Media. Seluruh investor yang diwawancarai, kecuali satu orang yang merupakan warga Kanada, mengaku telah tiga kali memilih Trump dalam pemilihan presiden AS.

Mereka mengaku terpukul oleh kinerja saham Trump Media. Para investor tersebut berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, mulai dari sopir truk di Washington, mantan polisi yang telah pensiun di Oklahoma, hingga pekerja perusahaan lantai di Michigan.

Seperti Jarzenske, mereka sebelumnya meyakini Truth Social akan berkembang menjadi salah satu platform media sosial dan layanan streaming terbesar di dunia.

Hugh Baron, pensiunan berusia 63 tahun asal California yang pernah memiliki usaha kecil dan bekerja di Trader Joe's, mengatakan telah membeli lebih dari 1.000 saham Trump Media. Sebagian saham tersebut dibelinya pada harga US$ 53,54 per saham.

Kini, nilai investasinya telah merosot 88,5%.

"Pasar keuangan sama curangnya dengan pemilu," ujar Baron.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan Baron terhadap kinerja saham Trump Media. Namun, tuduhan mengenai kecurangan pemilu secara luas tidak terbukti. Pengadilan dan pejabat penyelenggara pemilu AS secara konsisten telah menolak berbagai klaim tersebut.

Investor lainnya, Patricia Spoerl, perawat berusia 64 tahun asal Colorado, mengaku membeli saham Trump Media dengan harga rata-rata US$ 45,32 per saham.

Ia sebelumnya berharap harga saham tersebut dapat meningkat hingga tiga kali lipat sehingga mampu membantu membiayai masa pensiunnya. Namun, kini ia harus menanggung kerugian sekitar US$ 28.000.

"Saya benar-benar sedih dan kecewa. Saya selalu tahu bahwa investasi ini memiliki risiko, tetapi saya berharap ketika Trump menjadi presiden, dia akan memiliki pengaruh lebih besar untuk memeriksa SEC dan mencari tahu mengapa saham ini terus tertekan," kata Spoerl.

Spoerl dan Baron, bersama investor lainnya yang diwawancarai Reuters, menduga buruknya pengelolaan perusahaan dan praktik naked short selling menjadi penyebab anjloknya harga saham Trump Media.

Baca Juga: Laba Piaggio, Produsen Vespa Melonjak 18% Ditopang Ekspansi Pasar Global

Naked short selling merupakan praktik penjualan saham secara short oleh pelaku pasar institusional tanpa terlebih dahulu meminjam saham tersebut. Investor melakukan strategi ini dengan harapan harga saham turun sehingga dapat membelinya kembali pada harga lebih rendah.

Namun, Reuters tidak menemukan bukti adanya praktik naked short selling pada saham Trump Media. Tingkat kepentingan jual pendek (short interest) perusahaan juga masih berada di bawah rata-rata perusahaan lain dengan ukuran serupa, berdasarkan penilaian analis.

Di sisi lain, bisnis media sosial Trump Media belum menunjukkan perkembangan signifikan. Pendapatan perusahaan tercatat stagnan di kisaran US$ 4 juta per tahun selama tiga tahun terakhir.

Keputusan perusahaan menjadikan aset kripto sebagai bagian utama dari cadangan keuangannya juga dinilai kurang tepat dari sisi momentum. Pembelian Bitcoin yang diumumkan perusahaan dilakukan ketika harga aset tersebut berada di dekat puncaknya, sebelum akhirnya mengalami penurunan tajam.

Trump Media juga telah menggelontorkan lebih dari US$ 200 juta untuk membangun layanan streaming Truth Social. Namun, berdasarkan dokumen regulator, layanan yang diluncurkan pada Agustus 2024 tersebut hanya menghasilkan pendapatan US$ 630.000 hingga akhir Juni 2026.

Tekanan terhadap saham Trump Media semakin besar setelah pemilihan paruh waktu AS yang dipandang sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Trump. Sejak pemilihan tersebut, harga saham perusahaan telah merosot 32%.




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×