Jelang pelonggaran lockdown, Australia laporkan 2.355 kasus baru Covid-19

Sabtu, 02 Oktober 2021 | 13:27 WIB   Reporter: Anna Suci Perwitasari
Jelang pelonggaran lockdown, Australia laporkan 2.355 kasus baru Covid-19

ILUSTRASI. Lockdown di Melbourne, Australia,


KONTAN.CO.ID - MELBOURNE. Australia melaporkan 2.355 kasus baru varian virus corona Delta pada Sabtu (2/10), di tengah desakan untuk menggenjot vaksinasi guna mengakhiri penguncian dan kemungkinan pembukaan kembali perbatasan internasional.

Asal tahu saja, Australia sudah menerapkan larangan perjalanan internasional selama 18 bulan. Rencananya, mulai bulan depan, larangan itu akan dicabut secara bertahap untuk beberapa negara bagian, ketika 80% orang berusia 16 tahun ke atas telah divaksinasi secara penuh.

Sedikitnya 55% orang Australia telah diinokulasi penuh pada 1 Oktober, dan hampir 80% telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19.

Negara bagian Victoria, yang melaporkan rekor 1.488 kasus Covid-19 baru pada hari Sabtu, memerintahkan sekitar 1 juta karyawan di seluruh industri untuk menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19 pada 15 Oktober agar tetap bekerja.

Negara bagian yang menjadi tempat tinggal bagi sekitar seperempat dari 25 juta penduduk Australia, telah melakukan penguncian secara ketat sejak 5 Agustus.

Sementara itu, negara bagian New South Wales (NSW), yang juga memerangi wabah Delta terbesar di negara itu, melaporkan 813 kasus dan 10 kematian pada hari ini. Hampir 88% dari populasi negara bagian yang memenuhi syarat telah divaksinasi satu dosis dan 65% sudah menerima vaksin secara penuh.

Sydney, ibu kota negara bagian NSW, telah di lockdown sejak 26 Juni, dengan beberapa pembatasan dijadwalkan akan dicabut mulai 11 Oktober dan lebih banyak lagi di akhir bulan.

Baca Juga: Hampir Dua Tahun Tertutup, Pintu Perbatasan Australia Akan Dibuka Kembali November

NSW diharapkan menjadi negara bagian pertama yang membuka sepenuhnya setelah target vaksinasi 80% tercapai. Tetapi pihak berwenang telah memperingatkan jumlah kasus diperkirakan akan melonjak dan rumah sakit akan berada di bawah tekanan ketika Australia belajar untuk hidup dengan Covid-19.

"Saya khawatir tentang bagaimana kami akan mengatasinya secara budaya," kata Kirsty Keating, seorang warga negara Australia yang berasal dari Skotlandia yang tinggal di Sydney tentang pembukaan kembali negara itu kepada Reuters.

"Seperti kebanyakan orang yang saya kenal di luar negeri telah hidup dengan Covid-19 dan kami tidak dan saya pikir itu bisa memberi tekanan pada sistem kesehatan kami dan membuat semua orang sangat tegang," tambah dia.

Australia menutup perbatasan internasional pada Maret 2020. Sejak itu, hanya sejumlah kecil orang yang diberikan izin untuk meninggalkan negara itu karena alasan bisnis atau kemanusiaan yang penting.

Warga negara dan penduduk tetap telah diizinkan untuk kembali dari luar negeri, tunduk pada batasan kuota dan masa karantina wajib selama 14 hari di hotel dengan biaya sendiri.

"Saya pikir sangat bagus menjelang Natal bahwa orang-orang bisa bersatu kembali dengan keluarga mereka," ujar Peter Hendriks, seorang pemuka agama di Sydney, kepada kepada Reuters tentang keputusan untuk membuka kembali perbatasan.

 

Selanjutnya: Donald Trump minta hakim Florida untuk paksa Twitter kembalikan akun pribadinya lagi

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru