kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Kinerja SCG Melonjak di Kuartal I-2026, Penjualan di Indonesia Naik 16%


Jumat, 29 Mei 2026 / 16:44 WIB
Kinerja SCG Melonjak di Kuartal I-2026, Penjualan di Indonesia Naik 16%
ILUSTRASI. Presiden dan CEO SCG, Thammasak Sethaudom (SCG/SCG)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. SCG mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan pertumbuhan EBITDA sebesar 17% secara tahunan menjadi Rp 8,3 triliun.

Berdasarkan laporan kinerja, SCG juga membukukan laba sebesar Rp 3,4 triliun di periode Januari-Maret 2026. Realisasi tersebut didapatkan dengan total pendapatan dari penjualan mencapai Rp 68,9 triliun di kuartal I-2026.

President and CEO SCG Thammasak Sethaudom mengatakan, kinerja tersebut ditopang langkah proaktif perusahaan dalam menghadapi tekanan global, termasuk situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga bahan baku dan energi.

“Di tengah tingginya volatilitas yang masih berlangsung, SCG tetap menjaga disiplin keuangan secara ketat dan mempercepat upaya untuk memperkuat daya saing seluruh bisnis agar tetap tangguh,” jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Ekonomi Thailand Terancam: Defisit Transaksi Berjalan di April 2026 Cetak Rekor

Ia menambahkan, dengan posisi keuangan yang kuat dan kas yang memadai, perusahaan optimistis dapat menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Untuk merespons dinamika global, SCG mengandalkan sejumlah strategi, mulai dari pengelolaan risiko melalui sistem “Daily War Room”, efisiensi biaya bahan baku dan energi, hingga pengetatan disiplin keuangan.

Perusahaan juga melakukan restrukturisasi operasional serta penghentian bisnis yang kurang menguntungkan, yang menghasilkan efisiensi biaya sekitar Rp 3,46 triliun pada 2026.

Dalam jangka menengah, SCG fokus memperkuat infrastruktur bisnis regional sepanjang 2026-2027, termasuk melalui konsolidasi produksi, adopsi teknologi otomatisasi, serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi.

Langkah tersebut diklaim mampu menekan biaya produksi di kawasan ASEAN hingga sekitar Rp 1,8 triliun per tahun.

Dari sisi operasional, SCG juga mendorong pengembangan produk ramah lingkungan, smart value product, serta high value-added product guna meningkatkan profitabilitas di seluruh lini bisnis.

Baca Juga: China Siaga, Dampak El Nino Akan Capai Puncak di Musin Gugur dan Musim Dingin 2026

Di Indonesia, SCG mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi di kawasan ASEAN pada kuartal I-2026, yakni naik 16% secara tahunan menjadi Rp 5,05 triliun.

Capaian tersebut ditopang oleh kinerja bisnis petrokimia SCGC yang mencatat peningkatan ekspor regional. Kontribusi Indonesia terhadap total penjualan SCG di ASEAN juga mencapai 28%.

Sementara itu, unit bisnis kemasan SCGP membukukan laba sebesar Rp 835,84 miliar, didorong oleh pemulihan operasional di Indonesia serta efisiensi biaya dan pertumbuhan konsumsi domestik.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×