kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.160   7,00   0,04%
  • IDX 5.001   -96,28   -1,89%
  • KOMPAS100 643   -13,76   -2,09%
  • LQ45 509   -8,62   -1,67%
  • ISSI 167   -3,64   -2,14%
  • IDX30 287   -4,67   -1,60%
  • IDXHIDIV20 386   -5,48   -1,40%
  • IDX80 74   -1,48   -1,96%
  • IDXV30 107   -1,61   -1,48%
  • IDXQ30 96   -1,49   -1,53%

Korea Utara Bantah Terlibat Pencurian Kripto US$ 6 Miliar di Binance


Selasa, 03 November 2026 / 10:22 WIB
Korea Utara Bantah Terlibat Pencurian Kripto US$ 6 Miliar di Binance
ILUSTRASI. Bursa kripto terbesar di dunia, Binance (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Korea Utara membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) yang mengaitkan negara tersebut dengan pencurian aset kripto senilai lebih dari US$ 6 miliar dari Binance, bursa kripto terbesar di dunia.

Pyongyang menyebut tuduhan tersebut sebagai pernyataan yang tidak masuk akal dan provokasi politik.

Bantahan itu disampaikan Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Partai Buruh Korea, pada Selasa (3/11/2026) melalui kantor berita pemerintah KCNA.

Kim menilai tuduhan AS menunjukkan sikap Washington yang masih memusuhi Korea Utara. Ia juga menuding AS berupaya membentuk opini publik internasional dengan mengaitkan berbagai kejahatan siber di dunia dengan negaranya.

Baca Juga: Korea Utara Bantah Tuduhan Ranjau Picu Ledakan di Zona Demiliterisasi

"Tuduhan AS tersebut merupakan retorika yang tidak masuk akal dan bukan hal baru," kata Kim Yo Jong seperti dikutip KCNA.

Sebelumnya, Biro Investigasi Federal AS (FBI) menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian lebih dari US$ 6 miliar aset virtual dari Binance.

Aksi peretasan tersebut berpotensi menjadi pencurian aset digital terbesar yang pernah terjadi.

FBI mengidentifikasi kelompok peretas yang didukung negara Korea Utara, yakni TraderTraitor, sebagai pelaku serangan terhadap Binance.

Aparat penegak hukum AS juga mengamati kelompok tersebut mengonversi aset hasil pencurian ke mata uang kripto Ethereum sebelum diduga melanjutkan proses pencucian uang. 

Binance menyatakan telah mengganti sebagian besar aset yang dicuri menggunakan dana perusahaan.

Baca Juga: Peretas Korea Utara Curi Kripto US$10,7 Juta Lewat Lowongan Kerja Palsu

Di luar bantahan Pyongyang, dugaan keterlibatan Korea Utara dalam pencurian aset kripto menjadi perhatian karena aktivitas tersebut disebut sebagai salah satu sumber pendanaan program persenjataan negara itu.

Pakar keamanan siber menilai kelompok peretas Korea Utara termasuk yang paling aktif mencuri aset kripto di dunia. Dana hasil kejahatan tersebut diduga digunakan untuk mendukung program rudal balistik dan senjata nuklir.

Perusahaan analisis blockchain Elliptic memperkirakan Korea Utara telah mencuri aset kripto senilai US$ 7,6 miliar sepanjang 2026. Nilai tersebut melampaui total pencurian pada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Chainalysis memperkirakan 89% kerugian akibat peretasan kripto pada 2026 berkaitan dengan Korea Utara. Angka tersebut melonjak dibandingkan 15% pada 2021.

Chainalysis juga mencatat rata-rata kerugian dalam setiap kasus peretasan meningkat dari US$ 50,65 juta pada 2021 menjadi US$ 185,65 juta pada 2026.

Alec Zebrick, manajer senior Global Services Asia-Pasifik Chainalysis, menilai peretas kini menyasar bursa kripto besar karena potensi keuntungan yang jauh lebih tinggi, meskipun membutuhkan waktu dan teknik yang lebih kompleks.

Baca Juga: Korea Utara Kritik Respons Presiden Korsel Soal Pengurangan Latihan Militer AS

"Targetnya adalah bursa-bursa besar yang membutuhkan waktu dan teknik lebih kompleks untuk diretas, tetapi potensi hasilnya juga relatif besar," ujar Zebrick.

Besarnya nilai pencurian tersebut juga signifikan jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi Korea Utara. Bank Sentral Korea Selatan memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara mencapai 47,18 triliun won atau setara US$ 35,09 miliar pada 2025.

Dengan demikian, nilai pencurian aset kripto dari Binance saja setara sekitar seperenam dari total output ekonomi Korea Utara.

Profesor Kyungnam University Institute for Far Eastern Studies, Lim Eul-chul, menilai respons cepat Pyongyang kemungkinan mencerminkan kekhawatiran bahwa tuduhan tersebut akan mendorong AS memperketat upaya pemutusan sumber pendanaan ilegal Korea Utara.

"Dengan sanksi yang sudah berlaku, pencurian mata uang kripto menjadi salah satu saluran utama Korea Utara untuk memperoleh dana bagi pemeliharaan rezim dan pengembangan senjata," kata Lim.

Ia menambahkan, langkah tambahan AS yang menyasar dompet kripto, jaringan pencucian uang, dan bursa aset digital dapat memutus salah satu sumber pendapatan penting negara tersebut.

Di sisi lain, pernyataan Kim Yo Jong dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan tuduhan peretasan. Isu tersebut juga berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik AS dan Korea Utara.

Baca Juga: Pencurian Kripto Binance: Fakta di Balik Serangan Hacker Korea Utara, TraderTraitor

Kim mengatakan Pyongyang akan mempertimbangkan kembali sejumlah hal menyusul sikap AS yang disebutnya sangat tidak bersahabat. Namun, ia tidak merinci langkah yang dimaksud.

Pernyataan itu muncul ketika Korea Utara belum memberikan tanggapan terbuka terhadap tawaran Presiden AS Donald Trump untuk kembali membuka jalur diplomasi melalui pertemuan tingkat tinggi.

Hong Min, peneliti senior Korea Institute for National Unification di Seoul, menilai pesan utama Pyongyang berkaitan dengan hubungan kedua negara, bukan semata-mata persoalan pencurian kripto.

Menurutnya, Korea Utara ingin AS tidak menjadikan tuduhan tersebut sebagai alat tekanan jika Washington masih ingin membuka peluang dialog diplomatik.


Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×