Reporter: Dyah Megasari, BBC |
LONDON. Perbankan Eropa kembali diterjang kepanikan. Beberapa negara Uni Eropa mulai memberikan warning. Masa-masa paling buruk bagi industri keuangan diyakini bakal mencapai puncaknya tahun ini. Sejak memasuki 2012, petinggi Eropa belum melakukan pertemuan untuk membahas langkah-langkah penyelamatan.
Alhasil, sebagian besar saham perbankan di Benua Biru amblas. UniCredit milik Italia bahkan tenggelam 17% ke titik terendah 19 tahun hingga saham tersebut terpaksa disuspen.
Saham bank Prancis juga rontok. Di antaranya Societe Generale terbenam 5,4% dan BNP Paribas minus 5,3%. Bank asal Jerman bernasib sama. Deutsche Bank longsor hingga 6%, dengan Commerzbank mundur 4,5%.
Kemudian, bank milik Spanyol yaitu Santander terpangkas 4,5%. Menteri ekonomi Spanyol, Luis de Guindos menghitung, potensi kredit macet baru yang dihadapi perbankan tahun ini semakin tinggi yaitu 50 miliar euro atau setara dengan US$ 64,2 miliar. Angka tersebut membengkak lebih besar dari prediksi awal pemerintah.
Potensi kredit macet masih mencekam perbankan karena pemerintah Spanyol terus menggulirkan rencana penghematan negara secara besar-besaran. Defisit anggaran akan dibuntuti oleh pemangkasan gaji pegawai dan kenaikan tarif pajak. Negeri Matador menginginkan dana yang hilang dari pajak senilai 8,2 miliar euro kembali dan menambah pendapatan negara.
Ini merupakan gelombang baru atas langkah-langkah penghematan di sejumlah negara zona euro. Setidaknya dana sebesar 16,5 miliar euro akan dipotong tahun ini.
Euro makin tertekan
Amblasnya saham-saham perbankan turut melumpuhkan pergerakan mata uang tunggal kawasan yaitu euro. Nilai tukar euro terus tertekan mata uang utama di dunia seperti dollar Amerika Serikat (AS), poundsterling dan yen.
Kepanikan melanda pasar karena investor tak yakin Prancis bisa mempertahankan peringkat bergengsi AAA. Desember 2011, Fitch Ratings menggunting outlook Prancis dari stabil menjadi negatif. Pasar dilanda kegelisahan setelah yield yang diberikan oleh lelang obligasi Prancis naik signifikan.
Euro telah turun ke tingkat terendah terhadap dollar AS dan poundsterling dalam 16 bulan.
Terhadap dolalr AS, euro jatuh ke US$ 1,2780 dan berada di titik terendah 11 tahun terhadap yen. Terhadap poundsterling, euro menyentuh titik terendah sejak September 2010.













