kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Maju Jadi Bos WHO, Budi Gunadi Sadikin Dorong AS Kembali Bergabung


Selasa, 06 Oktober 2026 / 15:19 WIB
Maju Jadi Bos WHO, Budi Gunadi Sadikin Dorong AS Kembali Bergabung
ILUSTRASI. Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin mendorong Amerika Serikat (AS) untuk kembali bergabung dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (Ist./Kementerian Kesehatan)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin mendorong Amerika Serikat (AS) untuk kembali bergabung dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Budi menilai keterlibatan AS diperlukan untuk memperkuat kerja sama global dalam menghadapi ancaman pandemi.

Budi merupakan salah satu dari enam kandidat yang bersaing untuk menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai Direktur Jenderal WHO. Kandidat lainnya berasal dari Qatar, Arab Saudi, Spanyol, Botswana, dan Belgia.

Dalam wawancara dengan Reuters, Budi mengatakan banyak negara anggota WHO menginginkan AS kembali ke organisasi tersebut setelah Washington resmi keluar pada awal tahun ini.

"Banyak negara anggota merasa bahwa AS harus kembali. AS harus kembali," ujar Budi.

Baca Juga: Prancis dan Jerman Dorong Uni Eropa Perketat Perdagangan

Menurut dia, kerja sama internasional menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi pandemi. Ia menilai tidak mungkin bagi suatu negara menangani pandemi seorang diri.

Budi menyebut upaya menghadapi pandemi tanpa kerja sama global sebagai sesuatu yang secara ilmiah tidak mungkin dilakukan.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya mengenal secara pribadi Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F. Kennedy Jr. Hubungan tersebut, menurut Budi, dapat menjadi salah satu jalur komunikasi apabila dirinya terpilih memimpin WHO.

"Kami bisa berbicara dengan mudah dan hubungan itu sudah terjalin," kata Budi.

Selain Budi, sejumlah kandidat lainnya juga dinilai berpotensi menjadi penghubung antara WHO dan AS. Salah satunya adalah Hanan Balkhy, dokter asal Arab Saudi yang juga memiliki kewarganegaraan AS.

Budi Gunadi Sadikin Bukan Kandidat dari Latar Belakang Kesehatan

Budi menjabat sebagai Menteri Kesehatan Indonesia sejak 2020. Dalam posisi tersebut, ia memimpin pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 berskala besar yang menyasar sekitar 280 juta penduduk Indonesia.

Selain program vaksinasi, Budi juga mengawasi pelaksanaan program pemeriksaan kesehatan gratis yang masih berlangsung di Indonesia.

Berbeda dengan kandidat lainnya, Budi menjadi satu-satunya calon Direktur Jenderal WHO yang tidak berasal dari organisasi tersebut maupun memiliki latar belakang pendidikan dan pelatihan di sektor kesehatan.

Baca Juga: DeepSeek Dekati Pendanaan US$ 11,93 Miliar, CATL dan Tencent Jadi Investor Besar

Kandidat lainnya berasal dari kalangan dokter, spesialis kesehatan masyarakat, atau memiliki pengalaman bekerja di WHO.

Namun, Budi justru mengandalkan pengalaman sebelumnya dalam menggalang pendanaan. Pengalaman tersebut dinilai relevan ketika WHO menghadapi tekanan anggaran setelah kehilangan AS sebagai donor terbesar.

Budi mengatakan WHO dapat memainkan peran lebih besar dalam menghubungkan negara-negara dengan lembaga pembiayaan pembangunan, seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia.

Menurut dia, lembaga-lembaga tersebut dapat membantu negara anggota menyusun sekaligus menjalankan rencana kesehatan nasional masing-masing.

"Banyak dari negara anggota merasa bahwa meskipun mereka menerima dana dari donor, lembaga kesehatan global, atau WHO, mereka diarahkan untuk melakukan hal-hal yang ditentukan oleh kantor kesehatan di Jenewa," ujarnya.

Budi Dorong Reformasi WHO

Budi juga menyoroti kebutuhan reformasi di tubuh WHO. Ia mengatakan hampir seluruh negara anggota menyerukan perubahan agar organisasi tersebut kembali berfokus pada mandat utamanya.

"Hampir semua negara anggota" menyerukan reformasi WHO, kata Budi.

Ia menilai WHO perlu kembali menjalankan fungsi inti sebagai lembaga yang menetapkan norma dan standar kesehatan global berdasarkan ilmu pengetahuan.

"WHO perlu kembali fokus pada mandat utamanya, yaitu menetapkan norma dan standar berdasarkan ilmu pengetahuan," ujar Budi.

Menurut Budi, membangun kembali kepercayaan negara anggota terhadap WHO lebih penting dibandingkan sekadar memperbesar anggaran organisasi.

Ia menilai WHO selama ini telah melakukan terlalu banyak hal sehingga perlu kembali memperjelas prioritas dan mandat utamanya.

"WHO telah melakukan terlalu banyak hal," kata Budi.

Baca Juga: Indeks KOSPI Terkoreksi: Saham Produsen Chip Koreksi, Pasar Menanti Kinerja Samsung

AS Keluar dari WHO

Kepemimpinan Tedros Adhanom Ghebreyesus di WHO berlangsung di tengah berbagai tantangan, termasuk keluarnya AS yang selama ini menjadi donor terbesar organisasi tersebut.

AS secara resmi meninggalkan WHO pada Januari 2026. Presiden Donald Trump sebelumnya menuduh WHO gagal menangani pandemi Covid-19 dengan baik. Tuduhan tersebut dibantah oleh organisasi kesehatan dunia itu.

Keluarnya AS kemudian membuat WHO harus melakukan pengurangan anggaran dan menyesuaikan sejumlah programnya.

Dalam kondisi tersebut, Budi menilai pengalaman Indonesia dalam menggalang dukungan dan pendanaan dapat menjadi salah satu modal untuk memimpin WHO.

Budi mengatakan pencalonannya sebagai Direktur Jenderal WHO diajukan langsung oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada awal tahun ini.

WHO dijadwalkan mengumumkan seluruh kandidat Direktur Jenderal pada akhir Oktober 2026. Pemilihan Direktur Jenderal WHO diperkirakan berlangsung pada Mei 2027.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×