kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Militer AS Larang Mobil Listrik BYD Masuk Pangkalan Udara di Jepang, Ada Apa?


Minggu, 25 Oktober 2026 / 14:26 WIB
Militer AS Larang Mobil Listrik BYD Masuk Pangkalan Udara di Jepang, Ada Apa?
ILUSTRASI. Militer AS melarang mobil listrik BYD masuk Pangkalan Udara Kadena di Jepang mulai Senin karena dinilai berisiko terhadap keamanan. (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Militer Amerika Serikat (AS) melarang kendaraan buatan produsen mobil listrik asal China, BYD, memasuki Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, Jepang. Kebijakan ini diambil karena keberadaan kendaraan tersebut dinilai menimbulkan risiko keamanan bagi personel dan misi militer AS.

Mengutip Reuters, Jumat (23/10/2026), larangan tersebut akan mulai berlaku pada Senin di Pangkalan Udara Kadena, yang merupakan salah satu pusat kekuatan udara utama AS di Jepang.

Pangkalan tersebut terletak di Pulau Okinawa, bagian dari rangkaian pulau strategis di wilayah barat daya Jepang yang membentang di sepanjang tepi Laut China Timur.

Juru bicara pangkalan, Letnan Kolonel Alli Stormer, mengatakan kendaraan BYD menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dimitigasi.

Baca Juga: Audi Siapkan Investasi US$ 4 Miliar untuk Bangun Pabrik SUV di Georgia AS

"Kendaraan-kendaraan ini menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dimitigasi terhadap personel dan misi kami," kata Stormer.

Namun, Stormer tidak menjelaskan secara spesifik persoalan keamanan yang menjadi dasar komandan pangkalan mengambil tindakan terhadap kendaraan listrik buatan China tersebut.

Hingga berita ini ditulis, BYD belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

BYD Perluas Pasar Mobil Listrik di Jepang

Larangan tersebut muncul ketika BYD terus memperluas bisnisnya di pasar internasional, termasuk Jepang. Perusahaan ini berhasil melampaui Tesla sebagai penjual mobil listrik berbasis baterai terbesar di dunia pada 2025.

Di Jepang, BYD berupaya memperkuat posisinya di tengah dominasi merek otomotif domestik. Pada Juli 2026, perusahaan tersebut meluncurkan mobil listrik mungil Racco untuk menarik konsumen di pasar Negeri Sakura.

Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari strategi BYD untuk memperluas jangkauan bisnis di luar China. Namun, kebijakan keamanan yang diterapkan militer AS berpotensi menambah tantangan bagi perusahaan China yang berusaha memperkuat kehadiran globalnya.

Pentagon Masukkan BYD dalam Daftar Perusahaan Terkait Militer China

Persoalan keamanan terhadap BYD juga muncul setelah Pentagon pada Juni 2026 menetapkan perusahaan tersebut sebagai salah satu perusahaan yang dinilai mendukung militer China.

Selain BYD, daftar tersebut mencakup perusahaan e-commerce Alibaba, perusahaan internet Baidu, serta produsen kendaraan listrik NIO.

BYD menolak penetapan tersebut dan menyatakan akan menempuh jalur administratif serta hukum untuk melindungi kepentingannya.

Baca Juga: Kim Jong Un Kunjungi Monumen Perang Korea di China, Perkuat Hubungan Bilateral

Meski demikian, militer AS tidak menjelaskan apakah penetapan Pentagon tersebut berkaitan langsung dengan keputusan melarang kendaraan BYD memasuki Pangkalan Udara Kadena.

Kebijakan ini menambah perhatian terhadap aspek keamanan teknologi pada kendaraan listrik modern, terutama terkait kemungkinan penggunaan kamera dan sistem digital yang terpasang di kendaraan.

China Pernah Batasi Kendaraan Tesla

China sebelumnya juga menerapkan pembatasan serupa terhadap kendaraan listrik Tesla asal AS.

Pada 2021, pemerintah China melarang kendaraan Tesla memasuki sejumlah kompleks pemerintahan karena kekhawatiran keamanan terkait kamera yang terpasang pada kendaraan tersebut.

Pembatasan itu dicabut pada 2024 setelah Tesla memperoleh dukungan dari asosiasi industri otomotif tertinggi di China.




TERBARU

[X]
×