Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - STOCKHOLM. Akademisi asal Amerika Serikat (AS), Robert Hall dan Michael Woodford, meraih Nobel Ekonomi 2026 atas kontribusi mereka dalam mengembangkan model ekonomi yang menjadi landasan bagi bank sentral dan kementerian keuangan di berbagai negara untuk menjaga stabilitas perekonomian.
Penghargaan tersebut diberikan atas penelitian yang menekankan pentingnya memahami keputusan rumah tangga dan perusahaan dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
Pendekatan ini membantu otoritas memperkirakan dampak berbagai guncangan, mulai dari krisis energi hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.
“Dengan kontribusi mereka, kita lebih siap menghadapi guncangan ekonomi, seperti krisis energi atau perubahan mendadak dalam konsumsi rumah tangga,” kata Ketua Komite Nobel Ilmu Ekonomi John Hassler dalam pernyataannya, Senin (12/10/2026).
Baca Juga: OECD Proyeksikan Ekonomi Global Tumbuh 2,9% pada 2026, Harga Minyak Jadi Risiko
Karya Hall dan Woodford menjadi relevan di tengah tantangan yang dihadapi bank sentral global.
Setelah lonjakan inflasi pada 2022 akibat dampak pandemi Covid-19, otoritas moneter kini kembali menghadapi tekanan dari gejolak energi yang dipicu perang Iran.
Salah satu gagasan utama keduanya adalah bahwa stabilisasi ekonomi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan dari atas ke bawah (top-down).
Pemerintah dan bank sentral perlu memperhitungkan jutaan keputusan yang diambil rumah tangga dan pelaku usaha, karena keputusan tersebut turut menentukan arah konsumsi, investasi, harga, dan aktivitas ekonomi.
“Stabilisasi ekonomi tidak seharusnya dipandang sebagai upaya mengendalikan perekonomian hanya dengan menarik tuas kebijakan, tanpa mempertimbangkan pemahaman masyarakat mengenai kebijakan tersebut,” ujar Woodford, profesor Universitas Columbia berusia 70 tahun, dalam konferensi pers.
Penelitian Woodford juga memperkuat pemahaman mengenai peran suku bunga dalam memengaruhi aktivitas ekonomi.
Bank sentral dapat mendorong atau menahan kegiatan ekonomi melalui penyesuaian suku bunga, bukan semata-mata dengan mengatur jumlah uang yang beredar.
Baca Juga: Keberlanjutan Motor Ekonomi Dipertanyakan
Kontribusi lainnya adalah pengembangan konsep forward guidance, yakni komunikasi bank sentral mengenai arah kebijakan suku bunga pada masa mendatang.
Pendekatan ini menjadi penting setelah krisis keuangan global 2008, ketika suku bunga mendekati nol atau bahkan negatif sehingga ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui pemangkasan suku bunga semakin terbatas.
Woodford mengatakan, pemberian sinyal yang lebih jelas mengenai arah suku bunga ke depan menjadi bagian penting dari respons kebijakan setelah 2009.
Dengan memahami kemungkinan arah kebijakan bank sentral, pelaku ekonomi dapat menyesuaikan keputusan konsumsi dan investasinya.
Meski demikian, efektivitas forward guidance kini kembali dipertanyakan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketua baru Federal Reserve AS, Kevin Warsh, termasuk pihak yang skeptis terhadap pendekatan tersebut.
Sementara itu, Hall, 83 tahun, yang merupakan akademisi Universitas Stanford, berkontribusi melalui penelitiannya mengenai perilaku konsumsi rumah tangga.
Dalam makalah pada 1978, Hall menunjukkan bahwa keputusan konsumsi masyarakat dapat menjadi petunjuk penting untuk memahami ekspektasi mereka terhadap kondisi ekonomi.
Baca Juga: Ruang Fiskal Jadi Ancaman Ekonomi
Gagasan tersebut kemudian digunakan Woodford dalam pengembangan model mengenai penentuan konsumsi.
Hall juga pernah menjadi penasihat Departemen Keuangan AS, Departemen Kehakiman AS, dan Dewan Gubernur Federal Reserve.
Selain itu, penelitian keduanya turut memperkuat penggunaan konsep sticky prices atau kekakuan harga, yakni kondisi ketika perubahan harga tidak langsung mengikuti perubahan permintaan.
Konsep lain yang menjadi bagian penting analisis kebijakan moneter adalah output gap, yaitu selisih antara output aktual dan potensi output suatu perekonomian.
Indikator ini membantu otoritas menilai tekanan permintaan dan pemanfaatan sumber daya ekonomi untuk menentukan kebijakan stabilisasi.
Hall menyebut penghargaan Nobel tersebut sebagai kejutan yang menyenangkan. Ia mengatakan, sepanjang kariernya, ia berupaya memahami cara kerja perekonomian, menguji kebaruan suatu gagasan, memastikan ketepatannya, dan menilai relevansinya.
Hadiah Nobel Ekonomi 2026 secara resmi bernama Sveriges Riksbank Prize in Economic Sciences in Memory of Alfred Nobel.
Penghargaan ini merupakan penghargaan terakhir dalam rangkaian Nobel tahun ini, dengan nilai hadiah 12 juta krona Swedia atau sekitar US$ 1,2 juta.
Baca Juga: Menkes BGS Bicara Strategi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8% dan Serap 2 Juta Pekerja Baru
Berbeda dengan lima kategori Nobel asli yang ditetapkan dalam wasiat Alfred Nobel pada 1895, Nobel Ekonomi dibentuk oleh bank sentral Swedia dan pertama kali diberikan pada 1969.
Mayoritas penerima Nobel Ekonomi berasal dari AS. Hingga kini, hanya tiga perempuan yang pernah menerima penghargaan tersebut, dengan Claudia Goldin menjadi penerima terbaru pada 2023 atas penelitiannya mengenai pengaruh gender terhadap upah dan kesempatan kerja di AS.
Pada 2025, Nobel Ekonomi diberikan kepada Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt atas penelitian mengenai creative destruction atau penghancuran kreatif, yakni proses ketika teknologi dan metode produksi baru mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan standar hidup.














