Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. OpenAI mempercepat upaya penggalangan dana sekitar US$30 miliar untuk mengamankan komitmen investor sebelum pesaingnya, Anthropic, diperkirakan melantai di bursa saham pada pertengahan November 2026. Pendanaan tersebut berpotensi membawa valuasi perusahaan pembuat ChatGPT itu melampaui US$1,4 triliun.
Menurut dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut, langkah penggalangan dana ini berlangsung lebih cepat dari biasanya. Strategi tersebut antara lain bertujuan mendahului Anthropic, mengingat kedua perusahaan kecerdasan buatan (AI) itu semakin bersaing untuk mendapatkan pendanaan dari kelompok investor yang sama.
OpenAI juga ingin memanfaatkan pertumbuhan pendapatannya setelah meluncurkan model AI terbaru. Sejumlah investor lama, termasuk SoftBank Group, MGX yang berbasis di Abu Dhabi, dan investor lainnya, dikabarkan tengah membahas kemungkinan berpartisipasi dalam putaran pendanaan tersebut.
Percepatan penggalangan dana ini memperlihatkan ketatnya persaingan OpenAI dan Anthropic dalam memperebutkan modal. Kedua pengembang AI tersebut sama-sama membidik valuasi bernilai triliunan dolar AS di tengah kenaikan suku bunga, volatilitas saham teknologi, serta meningkatnya pengawasan terhadap valuasi perusahaan AI.
Baca Juga: Trump Manfaatkan Kerusuhan di Prancis untuk Serang Demokrat Jelang Pemilu AS
OpenAI menggelar pertemuan dengan pengelola dana investasi jangka panjang dan dana kekayaan negara pada pekan lalu. Pada saat yang sama, Anthropic juga menyelenggarakan acara khusus bagi investor.
Menurut sumber Reuters, proses pendanaan OpenAI diperkirakan berlangsung lebih cepat dibandingkan penggalangan dana dengan nilai serupa pada umumnya.
Investor yang mengetahui kondisi perusahaan menilai OpenAI membutuhkan tambahan modal untuk membiayai komitmen infrastruktur berskala besar sekaligus memperkuat neraca keuangannya. Kebutuhan tersebut semakin penting apabila memburuknya kondisi pasar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) kembali menunda rencana pencatatan saham OpenAI pada 2027.
Meskipun permintaan terhadap saham kedua perusahaan terbilang tinggi, investor menghadapi tantangan untuk mengevaluasi dan mengalokasikan modal ke dua perusahaan yang memiliki model bisnis kompleks dan bersaing langsung dalam waktu berdekatan.
Sebagian investor menilai percepatan pendanaan OpenAI merupakan upaya mengamankan modal dari investor yang berpotensi mengalihkan sebagian besar dananya ke IPO Anthropic.
OpenAI dan SoftBank menolak memberikan komentar. Sementara itu, Anthropic dan MGX belum segera menanggapi permintaan komentar.
OpenAI Tonjolkan Pertumbuhan Pendapatan untuk Investor
Dalam upaya menarik investor, OpenAI menyoroti percepatan pertumbuhan bisnis setelah peluncuran model GPT-6 Astra. Menurut salah satu sumber, perusahaan tersebut menyampaikan bahwa pendapatan tahunannya berdasarkan laju pendapatan terkini telah mencapai US$50 miliar dan diperkirakan meningkat menjadi US$70 miliar pada akhir 2026.
OpenAI juga telah memangkas harga sejumlah model AI yang lebih murah. Perusahaan menyebut kebijakan tersebut mendorong peningkatan penggunaan layanan. Kepada investor, OpenAI turut menyampaikan bahwa harga model AI masih berpotensi diturunkan lebih lanjut.
Di sisi lain, Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pendapatan tahunan Anthropic berdasarkan laju pendapatan terkini telah mencapai sekitar US$65 miliar pada Juli 2026.
Anthropic menyampaikan kepada investor bahwa pendapatan kuartal III-2026 melonjak menjadi US$16,8 miliar, dibandingkan US$11,6 miliar pada kuartal II-2026. Namun, perlambatan pertumbuhan pendapatan dari bulan ke bulan memunculkan kekhawatiran investor mengenai tingkat valuasi perusahaan tersebut.
Salah satu sumber mengatakan OpenAI ingin menyelesaikan penggalangan dana sebelum Anthropic membuka informasi keuangan yang lebih lengkap kepada publik. Pengungkapan tersebut dapat mendorong investor membandingkan kinerja kedua perusahaan secara lebih langsung.
Baca Juga: Trump Siapkan Bantuan US$ 8 Miliar untuk Petani AS, Redam Kenaikan Biaya Solar
Informasi keuangan Anthropic juga berpotensi membuat investor meminta penjelasan lebih terperinci kepada Direktur Keuangan OpenAI Sarah Friar mengenai pertumbuhan pendapatan dan prospek keuangan perusahaan.
Dalam pencatatan pendapatannya, OpenAI menggunakan basis bersih dengan mengurangi bagian pendapatan mitra di awal. Perusahaan tersebut sebelumnya menuduh Anthropic melebih-lebihkan pendapatan dengan menghitung nilai bruto penuh dari kontrak yang dijual melalui penyedia layanan komputasi awan pihak ketiga. Anthropic sebelumnya menyatakan kepada Reuters bahwa metode akuntansi yang digunakan telah mengikuti praktik yang berlaku.
Edward Best, salah satu ketua bidang pasar modal di firma hukum Willkie Farr & Gallagher yang tidak terlibat dalam transaksi tersebut, menilai OpenAI mungkin ingin menentukan valuasinya sendiri tanpa terlalu dipengaruhi perbandingan dengan Anthropic.
"OpenAI mungkin ingin menetapkan valuasinya sendiri dan tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan pembanding," kata Best.
"Persaingan untuk menjadi perusahaan terbuka pada dasarnya hanya melibatkan dua pemain utama," tambahnya.
Pada Maret 2026, OpenAI terakhir kali memiliki valuasi sebesar US$852 miliar setelah menyelesaikan putaran pendanaan senilai US$122 miliar. Putaran tersebut mencakup komitmen investasi dari Amazon.com yang sepakat menanamkan modal hingga US$50 miliar.
Financial Times sebelumnya telah melaporkan sejumlah rincian mengenai potensi penggalangan dana OpenAI.
Gejolak Pasar Tekan Rencana IPO Perusahaan Teknologi
Di tengah persaingan pendanaan perusahaan AI, sejumlah perusahaan yang tengah mempersiapkan IPO memilih menunda rencana pencatatan saham hingga setelah IPO Anthropic. Langkah tersebut diambil karena mereka khawatir harus bersaing mendapatkan minat investor ketika pasar bergejolak dan saham-saham AI mengalami tekanan.
Sejumlah perusahaan tahap akhir juga dikabarkan mengatur waktu penggalangan dana privat agar tidak bertepatan dengan perkiraan debut Anthropic di pasar saham.
Reuters melaporkan pekan lalu bahwa sebagian investor lama maupun calon investor Anthropic menginginkan valuasi sekitar US$1,5 triliun saat IPO, lebih rendah dibandingkan target perusahaan sebesar US$2 triliun. Penyesuaian ekspektasi tersebut muncul setelah kinerja Anthropic pada kuartal III-2026 tidak memenuhi harapan investor.
Perubahan ekspektasi itu terjadi di tengah kondisi pasar yang bergejolak sejak September 2026. Fluktuasi harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi, serta kekhawatiran mengenai keamanan AI turut menekan minat investor terhadap saham teknologi.
Investor juga semakin mencermati besarnya biaya pembangunan infrastruktur AI, termasuk kebutuhan utang untuk membiayai pusat data yang menopang perkembangan industri tersebut.
Baca Juga: China Impor 360.878 Ton Kedelai AS pada September 2026
Salah satu perusahaan yang menjadi perhatian pasar adalah penyedia layanan komputasi awan CoreWeave. Harga saham dan instrumen utangnya anjlok pada pekan lalu ketika investor menyoroti hampir US$50 miliar pinjaman yang digunakan untuk mendukung ekspansi perusahaan secara agresif.
Ketidakpastian pasar tersebut mengganggu prospek musim IPO yang sebelumnya diperkirakan ramai pada musim gugur tahun ini. Sejumlah perusahaan mulai mengevaluasi kembali rencana pencatatan saham di tengah volatilitas pasar dan kekhawatiran terhadap valuasi.
AirTrunk REIT yang didukung Blackstone, Firmus yang didukung Nvidia, serta SB Energy yang didukung SoftBank dilaporkan telah menarik atau menangguhkan rencana pencatatan saham mereka.
Perusahaan layanan nuklir Holtec juga menarik rencana IPO di Amerika Serikat pada September lalu. Perusahaan tersebut menyebut adanya "kombinasi kondisi buruk yang terjadi secara bersamaan", terutama akibat ketidakpastian permintaan dari pusat data.
Tekanan pasar turut meluas ke industri semikonduktor. Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Philadelphia Semiconductor Index, indeks yang banyak digunakan sebagai indikator permintaan semikonduktor terkait AI, kehilangan kapitalisasi pasar gabungan sebesar US$1,6 triliun dalam waktu kurang dari dua pekan.
Perusahaan infrastruktur AI menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak oleh tekanan tersebut.














