Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan Indonesia dan Singapura meningkat menyusul pengurangan ekspor gas bumi Indonesia serta kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas ke negara tetangga.
Di tengah dua persoalan tersebut, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada Selasa (27/10/2026), menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia.
Indonesia mulai mengurangi pasokan gas bumi melalui pipa ke Singapura sekitar 8% sejak Sabtu (24/10/2026). Pemerintah menyatakan kebijakan tersebut bertujuan mengutamakan kebutuhan domestik.
Baca Juga: Lawatan Langka! Menlu Singapura Kunjungi Korea Utara dan Selatan, Ada Apa?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengancam akan meninjau kontrak ekspor dengan negara-negara yang dinilai tidak kooperatif dan tidak menghormati Indonesia. Namun, ia tidak menyebut negara yang dimaksud.
Pengurangan pasokan tersebut memicu respons Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong. Pada Minggu (25/10/2026), Wong menegaskan bahwa para pihak yang terikat kontrak harus memenuhi komitmen mereka.
Singapura mengandalkan gas bumi untuk menghasilkan hingga 95% listriknya. Meski demikian, pengurangan pasokan dari Indonesia diperkirakan kurang dari 2% dari kebutuhan gas harian negara tersebut.
Bahlil membantah bahwa Indonesia melanggar kontrak. Ia menyatakan pasokan yang diberikan saat ini masih memenuhi batas minimum sesuai perjanjian kedua negara.
“Jangan mengajari Indonesia bagaimana menghormati kontrak,” ujar Bahlil dalam konferensi pers pada Senin (26/10/2026).
Di luar persoalan gas, hubungan kedua negara juga menghadapi tekanan akibat kabut asap lintas batas dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Baca Juga: Di Tengah Polemik Gas & Karhutla, Menlu Singapura Berkunjung ke Indonesia, Bahas Apa?
Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan itu meningkatkan polusi udara dan gangguan pernapasan di dalam negeri, sekaligus membawa asap ke Singapura, Malaysia, dan Timor-Leste.
Singapura belum secara langsung mengkritik pemerintah Indonesia terkait kabut asap dan telah menawarkan bantuan. Namun, negara tersebut juga mengirimkan pemberitahuan kepada sejumlah perusahaan Indonesia yang dinilai bertanggung jawab atas kebakaran.
Menteri Senior Singapura K. Shanmugam pekan lalu menyatakan kekecewaannya terhadap pernyataan seorang pejabat Indonesia yang menyebut hutan Indonesia menyediakan oksigen bagi Singapura dan Malaysia.
Menurut Shanmugam, pernyataan tersebut tidak tepat ketika masyarakat di kawasan Asia Tenggara turut terdampak oleh perusahaan yang melanggar aturan.
“Orang-orang yang paling menderita justru masyarakat Indonesia sendiri,” kata Shanmugam.
Baca Juga: Head to Head Singapura vs Indonesia: Rekor Garuda Unggul, Prediksi Skor AFF 2026
Ketegangan ini juga terjadi di tengah polemik pasar modal. Investor negara Singapura, Temasek dan GIC, pekan lalu membantah tuduhan mantan menteri perdagangan Indonesia bahwa keduanya menekan penyedia indeks global MSCI untuk mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Pemerintah Indonesia belum memberikan komentar atas tuduhan tersebut.
Sementara itu, diplomat senior Singapura Bilahari Kausikan menilai pemangkasan pasokan gas sebagai upaya intimidasi yang tidak akan efektif.
Ia memperingatkan bahwa dampak terhadap Indonesia berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan dampak yang dirasakan Singapura.














