kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Pemilu Bangladesh 2026 Jadi Ujian Demokrasi Pasca Hasina, BNP Difavoritkan Menang


Senin, 09 Februari 2026 / 17:06 WIB
Pemilu Bangladesh 2026 Jadi Ujian Demokrasi Pasca Hasina, BNP Difavoritkan Menang
ILUSTRASI. Setelah Hasina digulingkan, pengaruh China di Bangladesh makin kuat. Simak analisis dampak geopolitik pada pemilu ini. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DHAKA. Menjelang pemungutan suara pada Kamis (12/2/2026), lanskap politik Bangladesh mengalami pembalikan peran yang mencolok.

Selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina, oposisi nyaris tak terlihat di jalanan saat pemilu, baik karena memboikot pemungutan suara maupun tersingkir akibat penangkapan massal para pemimpin seniornya. Kini, menjelang pemilu terbaru, justru partai Hasina yang berada di luar arena.

Partai Awami League milik Hasina telah dilarang. Banyak anak muda yang terlibat dalam gerakan yang menggulingkan pemerintahannya pada 2024 menilai pemilu kali ini sebagai pemilihan paling kompetitif pertama di negara berpenduduk mayoritas Muslim tersebut sejak 2009, saat Hasina memulai masa kekuasaan selama 15 tahun.

Partai Nasionalis Bangladesh (Bangladesh Nationalist Party/BNP) diperkirakan luas akan memenangi pemilu, meski koalisi yang dipimpin partai Islamis Jamaat-e-Islami memberikan perlawanan kuat.

Sebuah partai baru yang digerakkan aktivis Generasi Z di bawah usia 30 tahun bahkan memilih beraliansi dengan Jamaat, setelah gagal mengonversi mobilisasi jalanan anti-Hasina menjadi basis elektoral.

Baca Juga: WHO Umumkan Kasus Kematian Akibat Virus Nipah di Bangladesh

Ketua BNP Tarique Rahman mengatakan kepada Reuters bahwa partainya, yang mencalonkan kandidat di 292 dari 300 kursi parlemen yang diperebutkan, yakin akan meraih suara “cukup untuk membentuk pemerintahan”.

Stabilitas Politik dan Dampak Ekonomi

Analis menilai hasil yang tegas dalam pemilu 12 Februari sangat penting untuk memulihkan stabilitas di negara berpenduduk 175 juta jiwa tersebut. Penggulingan Hasina memicu berbulan-bulan kerusuhan yang mengganggu berbagai industri utama, termasuk sektor garmen yang menjadikan Bangladesh sebagai eksportir terbesar kedua di dunia.

“Hasil jajak pendapat menunjukkan BNP unggul, tetapi kita harus ingat bahwa sebagian besar pemilih masih belum menentukan pilihan,” kata Parvez Karim Abbasi, Direktur Eksekutif Centre for Governance Studies di Dhaka.

Menurutnya, suara Generasi Z — yang mencakup sekitar seperempat dari total pemilih — akan sangat menentukan hasil akhir pemilu.

Di berbagai wilayah Bangladesh, poster hitam-putih dengan simbol “seikat padi” milik BNP dan simbol “timbangan” milik Jamaat menghiasi tiang, pepohonan, serta dinding di sepanjang jalan. Gubuk kampanye di sudut jalan memutar lagu kampanye partai. Pemandangan ini kontras dengan pemilu-pemilu sebelumnya, ketika simbol “perahu” milik Awami League mendominasi ruang publik.

Survei opini memprediksi Jamaat, yang sebelumnya pernah dilarang dan dikenal menentang kemerdekaan Bangladesh yang didukung India pada 1971, akan mencatat kinerja elektoral terbaiknya meski tidak diperkirakan menang.

Baca Juga: Hong Kong, Sri Lanka, Chile, dan Bangladesh Ajukan Diri Bergabung dengan RCEP

Pengaruh China Menguat, India Melemah

Hasil pemilu juga diperkirakan memengaruhi posisi China dan India di Bangladesh pada tahun-tahun mendatang. Beijing dinilai semakin meningkatkan pengaruhnya setelah Hasina, yang dipandang pro-India, melarikan diri ke New Delhi pasca digulingkan dan masih berada di sana.

Pengaruh India dinilai mulai melemah. Sejumlah analis melihat BNP relatif lebih selaras dengan India dibandingkan Jamaat. Jika Jamaat memimpin pemerintahan, Bangladesh bisa lebih condong ke Pakistan — sesama negara mayoritas Muslim dan rival lama India.

Sekutu Gen Z Jamaat bahkan menyebut “hegemoni New Delhi” di Bangladesh sebagai salah satu perhatian utama mereka, dan para pemimpinnya dilaporkan telah bertemu diplomat China baru-baru ini.

Meski demikian, Jamaat menegaskan tidak berpihak pada negara mana pun. Sementara itu, Tarique Rahman menyatakan bahwa jika BNP memimpin pemerintahan, pihaknya akan menjalin hubungan baik dengan negara mana pun yang “memberikan hal yang sesuai bagi rakyat dan negara saya”.

Isu Korupsi dan Inflasi Jadi Perhatian Utama

Sebagai salah satu negara terpadat di dunia dengan tingkat kemiskinan ekstrem yang tinggi, Bangladesh tengah menghadapi tekanan inflasi, melemahnya cadangan devisa, dan perlambatan investasi. Sejak 2022, negara ini mencari pembiayaan eksternal besar-besaran, termasuk miliaran dolar dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Baca Juga: Bangladesh Gelar Pemilu Pertama di Dunia yang Terinspirasi Generasi Z

Survei yang dilakukan lembaga kajian Communication & Research Foundation serta Bangladesh Election and Public Opinion Studies menunjukkan bahwa korupsi menjadi perhatian terbesar dari 128 juta pemilih, disusul inflasi.

Analis menilai citra bersih Jamaat menjadi faktor penting yang mendongkrak elektabilitasnya, bahkan lebih besar dibandingkan agenda keislamannya.

Pemilih disebut memiliki niat tinggi untuk berpartisipasi, dengan fokus pada isu ekonomi dan tata kelola pemerintahan, ketimbang simbol atau isu agama.

Harapan Pemilih Muda

Tarique Rahman, putra mantan Perdana Menteri Khaleda Zia, dipandang sebagai kandidat terdepan untuk memimpin pemerintahan berikutnya. Namun jika koalisi Jamaat unggul, ketuanya Shafiqur Rahman berpeluang menjadi pemimpin nasional.

Mohammad Rakib (21), yang akan memberikan suara untuk pertama kalinya, berharap pemerintahan berikutnya menjamin kebebasan berekspresi dan hak pilih warga.

“Semua orang lelah dengan Awami League. Orang bahkan tidak bisa memilih saat pemilu nasional. Orang tidak punya suara,” ujarnya. “Saya berharap pemerintahan berikutnya, siapa pun yang berkuasa, akan memastikan kebebasan berekspresi itu.”

Selanjutnya: Kinerja Bukit Asam (PTBA) Dipengaruhi Harga Batubara, Simak Rekomendasi Sahamnya

Menarik Dibaca: 793.681 Tiket KA Lebaran Sudah Terjual, Ini 10 Relasi Favorit




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×