kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pendukung Trump Tetap Loyal Meski Harga BBM Melonjak Akibat Perang Iran


Sabtu, 16 Mei 2026 / 18:14 WIB
Pendukung Trump Tetap Loyal Meski Harga BBM Melonjak Akibat Perang Iran
ILUSTRASI. US-POLITICS-TRUMP (AFP/KENT NISHIMURA)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Sejumlah pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di wilayah pedesaan Colorado mengaku tetap mendukung kebijakan Trump terkait perang Iran meski harus menghadapi lonjakan harga bahan bakar dan tekanan ekonomi sehari-hari.

Di Kota Wiggins, Colorado, harga bensin kini mencapai US$ 4,34 per galon atau sekitar 50% lebih tinggi dibanding saat Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu.

Melansir Reuters, Amy Van Duyn, pegawai toko minuman keras Stubs Liquor Store, mengaku kenaikan harga BBM mulai membebani pengeluaran rumah tangga.

Baca Juga: Taiwan Dorong Kepastian Senjata AS di Tengah Pernyataan Trump Usai Bertemu Xi Jinping

“Saya dulu bisa mengisi penuh tangki dengan US$ 36. Sekarang US$ 36 hanya dapat setengah tangki,” ujarnya.

Rekannya, Tonyah Bruyette mengatakan, kenaikan harga bahan bakar membuat anggaran belanja kebutuhan pokok semakin tertekan.

“Uang kami habis di tangki bensin, bukan di meja makan,” katanya.

Meski demikian, sebagian besar warga di wilayah Morgan County dan Weld County tetap mendukung Trump.

Dalam Pemilu 2024, Trump memenangkan Morgan County dengan selisih 49 poin persentase.

Baca Juga: SpaceX Restui Stock Split 5:1, IPO Makin Dekat ke Bursa Nasdaq

Dukungan tersebut tetap bertahan meski perang Iran memicu lonjakan harga energi global dan menekan tingkat kepuasan publik terhadap kebijakan ekonomi Trump.

Survei Reuters/Ipsos bulan lalu menunjukkan hampir 8 dari 10 warga Amerika menyalahkan Trump atas kenaikan harga bensin.

Tingkat persetujuan publik terhadap penanganan ekonomi Trump juga turun menjadi sekitar 30%.

Namun bagi sebagian warga pedesaan Colorado, ancaman Iran dianggap lebih besar dibanding tekanan ekonomi jangka pendek.

“Kalau harus sedikit berkorban demi mencegah Iran punya senjata nuklir, saya rela,” kata Jim Miller, pensiunan pialang komoditas berusia 65 tahun yang tinggal di Prospect Valley.

Menurutnya, masyarakat Amerika dulu terbiasa menghadapi masa sulit demi kepentingan nasional, seperti saat Perang Dunia II.

Baca Juga: Siapakah Raul Castro, Pemimpin Kuba yang Berpotensi Hadapi Dakwaan dari AS?

“Saya memang kesulitan seperti orang lain, tapi saya bersedia berkorban sedikit,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Mike Urbanowicz, pelaku usaha koperasi pertanian di Roggen. Ia mengakui harga BBM yang tinggi membebani industri pertanian dan distribusi logistik.

Meski demikian, ia tetap memilih mendukung Trump karena menilai alternatif dari Partai Demokrat lebih buruk.

“Saya memilih Trump karena alternatifnya jauh lebih buruk,” katanya.

Sementara itu, warga Fort Morgan bernama Jyl Siebrands mengaku khawatir terhadap kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir sehingga rela menerima dampak ekonomi perang.

“Saya memang benci harga bensin mahal, tapi saya lebih takut kalau Iran punya senjata nuklir,” ujarnya.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Inflasi dan Ketegangan Iran Guncang Pasar

Saat ditanya apakah ada batas yang bisa menggoyahkan dukungannya terhadap Trump, ia menjawab singkat:

“Tidak. Saya sepenuhnya mendukung.”




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×