Penelitian Terbaru: Hidung Anak-anak Lebih Rentan Terserang Omicron

Kamis, 04 Agustus 2022 | 06:18 WIB Sumber: Reuters
Penelitian Terbaru: Hidung Anak-anak Lebih Rentan Terserang Omicron

ILUSTRASI. Salah satu hasil termuan penting penelitian terbaru adalah hidung anak-anak lebih rentan terserang Omicron. REUTERS/Gaby Oraa


KONTAN.CO.ID - Berikut ini adalah ringkasan dari beberapa penelitian terbaru tentang COVID-19. Ini juga termasuk penelitian yang memerlukan studi lebih lanjut untuk menguatkan temuan dan yang belum disertifikasi oleh peer review.

Melansir Reuters, salah satu hasil termuan penting adalah hidung anak-anak lebih rentan terserang Omicron.

Sebuah penelitian kecil menunjukkan, varian Omicron mungkin lebih efisien dalam menginfeksi anak-anak melalui hidung daripada versi virus corona sebelumnya.

Sebelumnya di masa pandemi, hidung anak-anak memiliki perlindungan lebih terhadap virus penyebab COVID-19 dibandingkan hidung orang dewasa. 

Studi tentang SARS-CoV-2 asli dan beberapa variannya menemukan virus itu bertemu dengan respons imun yang lebih kuat di sel-sel yang melapisi hidung anak-anak daripada di sel-sel pelapis hidung orang dewasa, dan virus itu kurang efisien dalam membuat salinannya sendiri pada hidung anak-anak. 

Akan tetapi, para peneliti melaporkan, percobaan tabung reaksi baru-baru ini yang mencampur virus dengan sel hidung dari 23 anak sehat dan 15 orang dewasa sehat menemukan pertahanan antivirus di hidung anak-anak "sangat kurang menonjol dalam kasus Omicron". 

Baca Juga: Kasus Omicron Meningkat, Keyakinan Konsumen Pada Juli 2022 Berpotensi Turun

Mereka juga melaporkan bahwa Omicron mereproduksi dirinya sendiri lebih efisien dalam sel-sel lapisan hidung anak-anak dibandingkan dengan Delta dan virus aslinya.

"Data ini konsisten dengan peningkatan jumlah infeksi pediatrik yang diamati selama gelombang Omicron," tulis para peneliti, sambil menyerukan studi tambahan.

Masalah penciuman dapat memprediksi masalah memori setelah COVID-19

Menurut sebuah penelitian di Argentina, tingkat keparahan disfungsi penciuman setelah infeksi virus corona mungkin menjadi prediktor yang lebih baik untuk gangguan kognitif jangka panjang daripada tingkat keparahan COVID-19 secara keseluruhan.

Para peneliti mempelajari sampel acak dari 766 orang di atas usia 60 tahun, sekitar 90% di antaranya telah terinfeksi virus. Tes fisik, kognitif dan neuropsikiatri yang dilakukan tiga sampai enam bulan setelah infeksi menunjukkan beberapa derajat gangguan memori pada dua pertiga dari peserta yang terinfeksi. 

Baca Juga: Covid-19 Terus Menular, Ini Ciri-Ciri Daya Tahan Tubuh Melemah

Setelah mempertimbangkan faktor risiko individu lainnya, tingkat keparahan kehilangan penciuman, yang dikenal sebagai anosmia, "tetapi bukan status klinis, secara signifikan (diprediksi) menimbulkan gangguan kognitif," para peneliti melaporkan pada hari Minggu di Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer.

"Semakin banyak wawasan yang kita miliki tentang apa yang menyebabkan atau setidaknya memprediksi siapa yang akan mengalami dampak kognitif jangka panjang yang signifikan dari infeksi COVID-19, semakin baik kita dapat melacaknya dan mulai mengembangkan metode untuk mencegahnya," jelas pemimpin studi Gabriela Gonzalez- Aleman dari Pontificia Universidad Catolica Argentina di Buenos Aires.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru